Ibadah Subuh Selamatkan Nyawa dari Himpitan Batu Raksasa


Rabu, 05 Agustus 2015 - 19:34:08 WIB
Ibadah Subuh Selamatkan Nyawa dari Himpitan Batu Raksasa

“Saya sembahyang di luar, istri saya di dalam kamar. Setelah selesai me­nunaikan ibadah, saya du­duk-duduk di ruang tamu, lalu istri saya keluar dari kamar. Beberapa detik setelah istri saya keluar dari kamar, rumah kami bergetar hebat, diiringi bunyi hantaman besar di dalam kamar. Saya pikir gempa atau kebakaran, tapi lampu di ruang tamu masih menyala,” kata Nabris kepada Haluan saat ditemui di ru­mah­nya, di RT 2 RW 1 Kelurahan Matoaia, Rabu (4/8).

Baca Juga : Pembangunan dan Keadilan bagi Padagang Kaki Lima

Dalam keadaan panik, Nabris dan istrinya bergegas menuju kamar. Mereka kaget mendapati sebongkah batu besar dengan berat lebih dari satu ton telah meniban kamar dan dapur yang ada di sebelahnya. Sebagian besar peralatan rumah tangga yang ada di kamar dan seluruh perlatan dapur hancur lebur.

“Kami masih bersukur de­ngan bencana ini. Kalau saja saat batu besar itu menghantam ru­mah, kami sedang di kamar atau masih tertidur, mati dan ter­kuburlah kami dihimpit batu itu. Untungnya azan mem­bangunkan dan menggerakkan kami untuk ibadah,” sela Yusmanidar penuh sukur.

Baca Juga : Tips Pola Makan Sehat saat Lebaran

Sepasang suami istri itu bu­kanlah pemilik rumah tersebut, keduanya hanya berstatus se­bagai pengontrak. Tahun ini adalah tahun ke enam mereka tinggal di rumah yang sangat-sangat se­derhana itu. Sebelum mengontrak di sana, Nabris telah berpindah-pindah kon­trakan, tapi tetap di sekitar Bukit Tambang Bungo, di dekat Bukit Kuburan Turki yang ter­kenal rawan bencana longsor.

Bukan tanpa alasan, Nabris mengontrak di kawasan zona bencana itu karena biaya sewa yang murah meriah dan terjangkau oleh kantongnya. Profesinya sebagai tukang pangkas rambut keliling, memaksa dirinya untuk bertahan, bersabar dan berdoa. Tinggal di kontrakkan yang setiap saat diintai oleh bencana.

“Di sini saya mengontrak per bulannya hanya Rp200 ribu. Kalau mencari tempat tinggal lain yang lebih aman, tidak terjangkau dengan penghasilan saya,” tam­bah Nabris yang asli Bukittinggi, namun telah lama merantau ke Kota Padang.

Pasca bencana, Nabris menumpang tinggal di rumah anaknya, tak jauh dari kon­tra­kannya yang telah dihancurkan batu raksasa. Ke depan, ia belum tahu akan menetap dimana karena segan harus menumpang lama di rumah anaknya yang juga bukan orang berada.

“Ke depan belum tahu akan tinggal dimana. Saya pikir-pikir dulu, pindah rumah butuh biaya, belum lagi hampir seluruh pe­ralatan rumah tangga saya hancur. Sedangkan bantuan yang datang baru dari Dinas Sosial,” lirihnya.

Pantauan Haluan, pada papan pengumuman yang terpampang di tepi Jalan Raya yang berjarak sekitar 30 tangga dari rumah Nabris, namanya tertulis sebagai kepala keluarga salah satu dari dua rumah korban longsor. Ban­tuan yang diterima juga tertulis di sana, berasal dari Dinas Sosial Kota Padang. Isinya antara lain 2 helai terpal, 2 helai matras, 2 karung beras, 2 stel baju, 2 helai selimut, dua tempat makan, dua periuk nasi, dan 2 tempat nasi. Hanya itu saja.***

 

Laporan:
JULI ISHAQ PUTRA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]