Pak Ogah Resahkan Warga


Kamis, 06 Agustus 2015 - 19:05:41 WIB
Pak Ogah Resahkan Warga

“Kalau seperti di depan kampus UNP yang memang macet pada sore hari, masih masuk akal ada Pak Ogah, mereka pun tidak cenderung memaksa untuk dibayar. Tapi di beberapa titik lain, seperti di depan Simpang Gia, Tabing, saya merasa tak perlu ada Pak Ogah. Lagipula di jalan tersebut jarang sekali macet, sehingga masih sangat mudah untuk dilewati pengendara roda empat yang hendak berputar arah,” kata Silvi.

Baca Juga : Ada Pos Pelayanan Prokes di Pasar Raya Padang

Silvi mengaku pernah mengalami pe­maksaan dari seorang Pak Ogah yang bero­perasi di kawasan tersebut. Saat ia hendak berputar arah, Pak Ogah tersebut meng­halangi jalan dan memaksa untuk menerima jasa yang diberikan, padahal saat itu kondisi jalan cukup lengang dan mudah dilewati.

Hal senada diungkap Erik, mahasiswa salah satu perguruan tinggi itu menilai, memang perlu ada Pak Ogah di waktu macet. Namun di saat jam tidak padat, seharunya Pak Ogah juga menghentikan aktifitasnya.

Baca Juga : Jadwal Pendaftaran CPNS 2021 di Padang Belum Jelas

“Tujuan sebenarnya baik, bahkan saya juga kadang terbantu saat berputar arah di jalan yang macet. Tapi, harus pada tempat dan waktu yang benar pula. Dan tentunya tidak memaksa pengendara memberikan imbalan, karena itu jadinya pemaksaan, sedangkan Pak Ogah itu kan tidak resmi,” harap Erik.

Bahkan yang lebih parah, sambung Erik, orangtuanya pernah mengalami kerugian akibat ulah Pak Ogah yang beroperasi di salah satu ruas Jalan Adinegoro. Di mana saat itu, mobil orangtuanya digores oleh Pak Ogah, karena tidak diberi imbalan setelah memberikan jasa.

Baca Juga : Dilepas Rektor UIN IB Padang, Jenazah Masnal Zajuli Dimakamkan di Tanah Datar

Menanggapi hal ini, Kasat Lantas Polresta Padang Kompol Eko Susanto kepada Haluan mengatakan, persoalan Pak Ogah perlu dikaji berdasarkan orientasi masing-masing pelaku dalam melakukan aktifitasnya. Adakalanya Pak Ogah bero­perasi tanpa mengharapkan apa-apa, namun ada pula yang sekedar mengharapkan imbalan jasa.

“Kadang-kadang kehadiran mereka cukup membantu di titik-titik rawan. Namun adakalanya mereka hanya ber­kegiatan dengan orientasi uang, sehingga menjadi pekerjaan dan mengharapkan imbalan,” jelas Eko.

Baca Juga : Hendri Septa Serahkan Paket Sembako untuk Warga Sekitar TPA Air Dingin

Ketika yang diharapkan hanyalah uang, lanjutnya, besar kemungkinan Pak Ogah melakukan tindakan-tindakan yang akan menimbulkan kerugian bagi si pengendara. Seperti menggores mobil pengendara yang tidak memberi imbalan dan lain sebagainya. “Kalau sudah seperti itu, tentu jatuhnya pidana. Tidak bisa tidak,” jelas Eko.

Ke depan, Eko berjanji akan mengkaji lebih intensif lagi persoalan keberadaan Pak Ogah yang meresahkan warga. Namun, ia mengingatkan bahwa persoalan tersebut hendaknya dijadikan persoalan bersama, sehingga dapat dicari solusi penyelesaian yang sebaik-baiknya.

“Saya kira soal jalan, soal kepentingan umum, menjadi tanggung jawab bersama. Yakni tanggung jawab seluruh instansi terkait serta masyarakat,” tutup Eko. (h/mg-isq)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]