Peserta Sayembara


Jumat, 07 Agustus 2015 - 18:54:12 WIB
Peserta Sayembara

Ah, Budi. Dia memang keras kepala. Dia masih saja melukis meski nasibnya tidak jauh berbeda. Setiap sayembara digelar, namanya selalu menemani ratusan peserta lomba. Sesekali ia memang memenangkannya. Tetapi lebih sering ia me­nemuiku setelah pe­ngu­muman pemenang sem­bari berkata, “Ah, bukankah kita melukis atas dasar ke­senangan?”

Baca Juga : Sempat Kritis Kena Covid-19, Raditya Oloan Suami Joanna Alexandra Meninggal Dunia

Aku pun berusaha me­nang­gapinya sembari meng­hibur diri.

“Ya. 1Jika semua yang kita impikan segera ter­wujud, darimana kita belajar kesabaran? 2Dan ketika kita lelah dan kecewa, saat itulah kita belajar tentang ke­sung­guhan.” Ah!

Baca Juga : Puncak Penghargaan AMI Award Segera Digelar, Berikut Syarat dan Ketentuan Pendaftaran

Kami telah tiba. Belasan pelukis mulai mengembang kanvas dengan hati-hati. Sebagian besarnya masih me­nyembunyikan luki­san­nya. Barangkali sedang me­ra­­hasiakannya lalu mem­buka dengan maksud mem­beri kejutan. Tetapi keya­kinanku sedang berbisik, bah­wa mereka memang se­dang mengumpulkan ke­percayaan diri sebelum mem­­buka kanvasnya. Bebe­rapa di antaranya sedang berdiri di depan kanvasnya yang terbuka, seperti sedang menyembunyikan luki­san­nya dari pandangan yang mulai mengejek. Ah, rupa­nya negeri ini semakin sem­pit seiring para pelukis ama­tir yang bermunculan.

Aku masih memer­hati­kan para peserta ketika Bu­di memberikan isyarat agar aku membentang kanvasku. Budi telah memamerkan lukisannya. Dia begitu per­caya akan lukisannya. Sese­kali ia memang keluar seba­gai juara atau masuk ke dalam dua puluh nominator pemenang. Barangkali ia memang pelukis yang pan­dai. Tetapi keyakinanku kembali berbisik, bahwa ia pernah beruntung karena tidak banyak pelukis ter­nama yang sedang mengikuti sayembara.

Terkadang aku pun ber­tanya. Bagaimana mungkin aku memelihara pikiran sedangkal itu. Para juri tentu saja mempunyai kriteria tertentu dalam perlombaan. Dan sudah tentunya karya para pemenang dan no­mi­nator adalah dua puluh ter­baik. Aku baru saja mem­buka separuh kanvasku keti­ka seorang lelaki paruh baya sedang melintas di hadapan.

Aku sedang memikirkan suatu keganjilan. Cepat ke­mudian aku menggulung kem­bali kanvas dan me­mu­tuskan untuk membatalkan sayembara. Budi merungut dan aku tidak meng­hi­rau­kan­nya. Aku terus me­man­dangi lelaki paruh baya yang sedang berjalan menuju rekan­nya.

Lelaki paruh baya itu: mukanya masam dan kusut. Matanya merah dan wajah­nya dipenuhi bulu-bulu tak terawat. Ia selalu memakai topi. Memakai jaket kulit meski matahari menye­limu­ti kota. Ya, dia salah satu juri di beberapa perlombaan yang kuikuti.

Budi tentu saja bertanya. Bagaimana mungkin aku bisa mengenal juri per­lom­baan sedetail itu. Tentu. Tentu saja aku tahu. Berawal beberapa perlombaan yang kuikuti beberapa waktu lalu.

Lelaki paruh baya sedang du­duk ditemani lelaki ber­kemeja. Lelaki itu memakai kemeja batik berbalut jas hitam. Ia juga memakai sepatu hitam yang mengkilat. Oh, rupanya lelaki itu se­orang ayah yang bermaksud menyuap juri perlombaan, agar anaknya meraih juara. Dia sedang memberikan selembar cek kosong yang telah dibubuhi tanda tangan.

Lelaki paruh baya ber­pikir sejenak. Tentu saja itu tawaran yang menggoda. Ia akan menjelma lelaki kaya bila saja menerimanya. Te­tapi lelaki paruh baya me­nolak dan seperti sedang me­mikirkan alasan sederhana. “Maaf. Saya tidak bisa me­neri­manya.” Lelaki paruh baya kembali mengulurkan cek kosong pada pemiliknya.

“Dia sudah melukis siang dan malam. Dia telah me­ngikuti berbagai perlom­baan dan belum sekali pun memenangkannya. Dia ha­nya membutuhkan sedikit pe­nga­kuan. Alangkah se­dihnya bila ia berhenti me­lukis. Tentunya anda tidak ingin melihat anak muda yang kehilangan arah, lalu terjerumus jalan yang salah.”

Lelaki paruh baya tetap bersikukuh pada pen­di­rian­nya. Alasannya se­der­hana. Saat itu sekitar dua puluh lima pelukis ternama se­dang terdaftar dalam perl­ombaan.

“Tolonglah. Setidaknya anak saya masuk dalam dua puluh nominator terbaik.”

“Saya mengerti. Tapi juri lain pun sedang cemas. Se­tidaknya ada dua puluh lima pelukis ternama yang me­ngi­kuti sayembara. Kami se­dikit bingung harus memilih dua puluh di antaranya.”

“Ah, bagaimana dengan peserta yang lain?”

“Sepertinya kami tidak mempunyai cukup waktu untuk menilai lukisan lain. Dua puluh lima lukisan itu harus dinilai lebih spesifik, agar acara ini dihiasi dua puluh karya terbaik dari pelukis ternama.”

“Anak saya?”

“Katakan padanya! Akan tiba waktunya ketika pelukis ternama tidak memenuhi kuota nominator.”

***

Anak lelaki sedang me­ringis di alam kanvasnya. Dia baru saja memetik hatinya yang terbakar. Se­mentara di atasnya, terlihat tangan raksasa yang sedang me­nawarkan segenggam hati. Aku baru saja me­nyelesaikan lukisanku. Aku me­mandangi lama dan keti­ka itulah kusadari keha­dirannya. Entah sudah be­rapa lama kehadirannya. Bu­di sedang berdiri di samping­ku. Aku belum sempat ber­tanya. Tetapi Budi sudah me­ngelus jenggotnya sembari menjelaskan. Ke­da­tangan­nya untuk memberitahu bah­­­wa nun jauh di kota, sedang diselenggarakan sa­yem­bara. Dia mengajakku. Dan tentu saja aku menolak!

“Dengarkan kata hatimu, Dahlan. Ketuklah pintu ha­timu dan ajaklah dia ber­pikir. Kau sudah melukis se­jak lama. Akan tiba wak­tunya ketika kau meme­nangkannya.”

“Ya, bagus sekali bila sesekali berpikir dengan hati. Tetapi ada kalanya kita harus berpikir dengan otak!”

“Jangan cemas, Dahlan. Kali ini hanya ada delapan belas pelukis ternama. Bu­kan­kah kau ingin menjadi orang yang terkenal? Se­derhana bila kau ingin ter­kenal. Tetaplah melukis dan jadilah pelukis. Leonardo da Vinci sudah membukt­ikan­nya.”

“Menarik. Ke­nyataannya aku sudah melukis dan me­ngikuti berbagai sayembara. Tapi aku tidak bisa dan belum dikenal hingga saat ini.”

3Jika semua yang kita kehendaki segera kita mi­liki, darimana kita belajar kei­kh­lasan? Akan ada wak­tunya kita menjadi pelukis yang dikenal bila kita terus melukis dan bila kita mau. 4Jadi per­masalahannya ada­lah bukan bisa atau tidak bisa. Tapi mau atau tidak mau.”

Negeri ini semakin kecil terasa. Peta Indonesia yang dikembang Budi menjadi alasan utama. Sementara munculnya ratusan pelukis tak ternama adalah alasan berikutnya. Harapan pelukis ternama memilih absen ten­tunya sia-sia. Tetapi kami kembali menjadi peserta sayembara.

Kali ini: aku dan Budi ditemani ratusan peserta sayembara, akan mem­pere­butkan dua tempat yang tersisa. (***)

 

Oleh:
BONI CHANDRA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]