Citarasa Tradisi dengan Kemasan Modern


Jumat, 07 Agustus 2015 - 18:55:22 WIB
Citarasa Tradisi dengan Kemasan Modern

Kuliner tradisional Mi­nangkabau ini, dibuat de­ngan bahan dasar daging sapi atau kerbau yang dipotong-potong. Kemudian diolah menggunakan bumbu dan rempah-rempah pilihan, dicampur santan kelapa. Ciri khas membuatnya ada­lah, proses memasaknya berlangsung lama, memakan waktu sekira empat jam. Rendang dipanaskan diatas api yang diatur hingga kuah santannya mengering sam­pai berwarna coklat tua. Bahkan di beberapa daerah di Sumbar, ditemui randang yang berwarna hitam seperti makanan yang nyaris hangus atau gosong.

Baca Juga : Jakarta Masuk dalam Daftar Kota Termahal Dunia, Ini Penyebabnya

Namun, tak seperti war­nanya, bentuknya yang nya­ris gosong itu mem­bu­at rasanya justru semakin gurih dan mak nyus. Karena ra­sanya inilah, randang juga dinobatkan menjadi salah satu dari 50 makanan terle­zat di dunia. Randang yang dulunya merupakan kuliner turun temurun, dihidangkan pada setiap perayaan adat atau bahkan pada hari besar keagamaan seperti menje­lang Ramadan atau pada saat lebaran, kini telah berme­tamorfosis menjadi kuliner modern menjadi ladang bisnis.

Tak hanya menjadi menu wajib dalam hanta­ran adat, karena rendang juga meru­pakan menu wajib yang disa­jikan  setiap rumah makan Padang yang ada di seantero Indonesia. Bahkan di luar negeri, randang juga tersedia hampir di setiap pedagang kuliner yang menjajakan masakan khas Indonesia.

Baca Juga : Kabar Baik! Jaringan di Wilayah Sumatera akan Ditingkatkan Selama Ramadan

Berawal dari rendang, banyak sekali pebisnis suk­ses yang berhasil mem­po­pulerkan resep masakan khas Indonesia yang satu ini. Salah satunya adalah usaha rendang yang ditekuni oleh Silvi  Lestari, SP (39). Meng­­gunakan label produk ‘Randang Hj. Fatimah’, Silvi terbilang sukses mem­pro­duk­si randang. Dia menge­lola usahanya di Korong Piliang Jorong Simpang Nagari Koto Baru Kec. Ku­bung Kab. Solok.

Berawal dari Tradisi

Baca Juga : Maksimalkan Pengalaman Aktivitas Digital di Momen Ramadan dan Idulfitri 1442 Hijriah

Berawal dari tradisi, di­mana sang ibu dulunya setiap bulan selalu me­nye­diakan rendang sebagai me­nu keluarga. Namun hal itu justru menginspirasi ibu tiga anak ini untuk menjajal peluang bisnis randang men­jadi usaha untuk menambah pendapat keluarganya.

“Iseng saja awalnya. Ka­rena ibu selalu membuat rendang sebagai persediaan bagi keluarga besar. Rasanya khas, dan menjadi kege­maran keluarga. Hal ini menginspirasi saya untuk mencoba berbisnis dengan usaha rendang ini,” kata Silvi kepada Haluan.

Baca Juga : Resep Kolak Pisang Tanpa Santan, Cocok untuk Berbuka Puasa

Pada tahun 2011, Silvi memulai bisnis­nya dengan total modal  awal Rp3 juta untuk membeli segala per­lengkapan memasak yang lebih besar. Dia mulai de­ngan memasak 5 kg da­ging  yang waktu itu har­ganya masih Rp80 ribu per kilo.

Waktu itu, kata Sil­vi, packing-nya seder­hana yaitu dengan pembungkus plastik yang diikat dengan karet. Perkilonya dijual Rp200 ribu.

“Kala itu, usaha rendang saya ini sudah beromzet sampai Rp3 juta per bulan,” katanya.

Melihat potensi itu, Silvi mulai menekuni dengan serius. Dia mempro­mosi­kan­nya kepada pelanggan melalui media sosial face­book. Berselang setahun dari awal merintis bisnis, omset Rendang Hj. Fatimah mulai menunjukkan perkem­ba­ngan yang menggembirakan. Pelanggan pun terus ber­tambah. Bahkan ketika Le­baran, banyak yang me­mesan sebagai oleh-oleh dan hidangan di rumahnya.

Untuk menjaga mutu dan kualitas, Rendang Hj. Fatimah tetap mem­per­ta­hankan citarasa dengan le­bih mengutamakan resep dari rempah-rempah tanpa memakai pengawet dan pe­nyedap rasa. Sedangkan untuk bahan baku utama daging, dipilih daging sapi padat (tanpa lemak).

“Ini yang membuat pe­langgan kita bertahan dan bertambah, karena kita tetap dengan bumbu asli dan da­ging yang berkwalitas,” jelas Silvi yang juga Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indo­nesia (IWAPI) Kab. Solok ini.

Selain memiliki rasa yang khas, kaya akan rem­pah-rempah, rendang yang merupakan resep asli dari ibunya sendiri  (alm) Hj Fatimah ini, juga memiliki daya tahan yang sangat baik bila disimpan dalam waktu yang lama. Bahkan aroma dan rasa rendang tidak akan berubah bila disimpan di freezer lemari pendingin.

Sementara untuk men­jaga agar makanan ini tetap awet dan rasanya tidak cepat berubah, kemasan packing yang semula hanya kantong plastik sederhana, kini su­dah diganti dengan meng­gunakan facum modern se­a­ler plas­tik (ke­masan tanpa udara). Atau kemasan khu­sus ma­kanan yang telah se­suai dengan standar nasional untuk ke­ma­san pembungkus maka­nan.

“Kini kita sudah me­makai packing kemasan pri­mer standar untuk makanan. Rasanya tetap sesuai tradisi, namun kwa­li­tasnya mo­deren,” ungkap Silvi yang juga menjabat sebagai Ketua Asossiasi Pe­ng­usaha Ma­ka­nan Kab. So­lok ini.

Untuk memenuhi ke­puasan dan permintaan kon­sumen, Rendang Hj. Fati­mah juga membuat inovasi baru seperti rendang hati dan rendang ubi serta rendang daging yang dicampur de­ngan kacang merah.

“Kita tetap mem­per­hati­kan permintaan kon­su­men, mulai dari ukuran potongan daging serta campuran lain­nya seperti kacang dan ubi. Namun un­tuk bumbu tetap di­per­tahankan, karena itu ciri khas rasa produk kita,” be­bernya.

Inovasi yang ti­a­da henti rupanya membawa pening­katan yang sig­nifi­kan bagi Rendang Hj. Fatimah. Mulai dari pesanan untuk kebu­tuhan hi­dangan pesta, oleh-oleh bagi tamu ins­tansi sam­pai menjadi be­kal bagi je­maah haji dan umrah.

“Ada juga pesa­nan dari Australia. Namun kare­na terkendala atu­ran pe­ngiri­man ma­kanan seperti da­ging, produk kita dikem­balikan,” kenangnya.

Meski sempat menga­lami pa­sang surut, namun Ren­dang Hj. Fa­timah tetap op­timis hingga bisa me­ngem­bangkan sayap bisnis. Hing­ga tahun 2015 ini, pro­ses operasional Rendang Hj. Fatimah dibantu oleh 4 kar­yawan. Sementara un­tuk pemasaran, sekarang juga telah dibuka outlet di de­pan Kantor PDAM Kab. Solok atau di samping Mesjid Agung Nurul Mukhlisin Islamic Center Koto Baru.

“Saat ini, rata-rata omzet mencapai Rp15 juta per­bulan, bahkan kalau ada pesanan untuk pesta bisa lebih,” kata Silvi.

Sedangkan untuk harga Rendang Hj Fatimah, saat ini dijual dengan harga Rp250 ribu per kilogram. Namun ini berbeda dengan harga ren­dang untuk jemaah haji, karena kemasannya pun berbeda, selain dengan pac­king facum modern sealer plas­tik, ditambah dengan box khusus. “Kalau untuk jemaah haji, dalam satu box isinya tetap 1 kg, namun bungkus kemasannya kecil, hanya untuk sekali makan. 1 box harganya Rp300 ribu,” kata Silvi. (***)

 

Laporan :
YUTIS WANDI

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]