Paripurna HUT Kota Padang Kacau Balau


Jumat, 07 Agustus 2015 - 20:40:26 WIB
Paripurna HUT Kota Padang Kacau Balau

Pidato Erisman lang­sung terhenti, karena lama­nya listrik padam. Sebagian tamu undangan yang gerah, turun dari lantai dua ke lantai dasar. Padamnya listrik da­lam waktu cukup lama ada­lah peristiwa perdana yang terjadi selama perayaan HUT Kota Padang dilak­sanakan di Gedung Bundar itu. Selain gelap, ruangan sempit yang penuh sesak tersebut terasa panas. Di­duga listrik di gedung DPRD Padang kelebihan beban, sehingga byar pet.

Baca Juga : Perkembangan Kasus Covid-19 di Kota Padang, Kadinkes: Mendekati Zona Kuning

Anggota DPD RI Nofi Candra menyayangkan pa­nitia dan DPRD Kota Pa­dang tidak memiliki kesia­gaan di acara sebesar itu, seperti menyediakan genset khusus. Nofi telah banyak menghadiri acara resmi, tapi baru kemarin yang paling kacau. “Sangat disayangkan. Harusnya ada genset untuk antisipasi,” katanya.

Anehnya dalam kondisi tersebut, Pemko Padang menyalahkan PLN. “Sejak tanggal 4 Agustus 2015, kami sudah menyurati PLN untuk meminta tambahan daya, dan menyediakan gen­set besar mulai pukul 08.00 hingga acara selesai. Namun, setelah ditunggu hingga malam hari tambahan daya dan penam­bahan genset tidak juga ditang­gapi PLN,” kata Sekda Kota Padang Nasir Ahmad.

Baca Juga : Sidak ASN Pemko Padang, Arfian: Tingkat Kehadiran Mencapai 99 Persen 

“Jadi, tidak bisa panitia pelak­s­ana HUT Kota Padang yang disalahkan. Karena PLN yang tidak menyikapi permintaan Pemko Padang. Kalau, dari segi tunggakan pembayaran listrik tidak pernah ada dari Pemko Padang. Jadi, tidak ada alasan PLN untuk tidak menanggapi permintaan Pemko Padang. Bah­kan, Kepala PLN kami undang pada acara HUT Kota Padang ini,” katanya.

Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah, menanggapi santai kondisi yang terjadi. Menurutnya kejadian itu hal biasa. Hanya kesalahan teknis yang tidak perlu dibesar-besarkan. Tuan rumah, Wakil Ketua DPRD Kota Padang Wahyu Iramana Putra merasa kecewa, pada acara besar pakai mati lampu segala.

“Bikin malu saja, dan mem­buat para undangan yang datang dari berbagai tempat kecewa. Kenapa, acara sebesar ini tidak ada kesiagaan dari panitia. Yang patut disalahkan adalah ketua panitia pelaksananya,” ujarnya.

Diinterupsi, Dewan Pertanyakan Penghargaan

Tidak hanya itu saja, insiden yang lainnya ketika Walikota Padang Mahyeldi memberikan penghargaan kepada sejumlah tokoh masyarakat, diinterupsi oleh anggota DPRD Kota Padang Maidestal Hari Mahesa. Esa yang didukung puluhan anggota dewan lainnya merasa kecewa karena usulan penerima penghargaan dari DPRD tidak ditanggapi Pemko Padang. Suasana pun kacau balau. Volume suara mi­kropon panitia yang memanggil tokoh masyarakat penerima peng­hargaan sama-sama bertanding uji keras dengan suara anggota dewan Maidestal Hari Mahesa. Esa pun langsung disorot puluhan kamera dan konsentrasi acara terpecah. Sebagian besar tamu undangan sudah meninggalkan ruang rapat paripurna, termasuk muspida. Lebih parah lagi, di ruangan bawah dan tenda ternyata 80 persen tamu undangan sudah meninggalkan lokasi acara.  Pa­dahal pembacaan doa belum dilakukan. Mantan Walikota Padang Zuiyen Rais dan Fauzi Bahar tetap duduk tenang ber­dam­pingan di kursi balkon. Man­tan Ketua DPRD Padang Zul­herman tidak hadir.

Namun, interupsi Maidestal tidak ditanggapi oleh Walikota. Walikota terus memasangkan pin emas kepada penerima penghar­gaan hingga tuntas. Karena tidak ditanggapi, Maidestal segera meninggalkan sidang paripurna istimewa itu. Puluhan anggota dewan lainnya juga ikut mening­galkan ruangan. Kursi Wakil Ketua DPRD Wahyu Iramana Putra juga sudah tampak kosong.

“Saya kecewa kepada Pemko Padang, yang telah melecehkan DPRD. Tak satupun, nama pene­rima penghargaan yang diusulkan DPRD Padang ditanggapi Pemko Padang,” sebut politisi PPP itu.

Wakil Ketua DPRD Kota Padang Wahyu Iramana Putra sangat menyesalkan Pemko Pa­dang yang main sendiri saja tanpa ada koordinasi dengan DPRD. “Kamikan juga berhak mengu­sulkan tokoh menerima penghar­gaan. Jangan tidak diacuhkan seperti ini. Berarti, ke depan DPRD dan Pemko Padang bisa saja berjalan sendiri-sendiri. Karena, Pemko Padang sendiri yang tidak mau bermitra dengan DPRD.   Selain itu, HUT Kota Padang ke-346 kali ini sepi de­ngan kehadiran tokoh masya­rakat, seperti, tidak hadirnya Gubernur Sumbar Irwan Pra­yitno, mantan Walikota Padang Syahrul Ujud, mantan Gubernur Azwar Anas,” katanya. Dari empat anggota DPD RI, hanya Nofi Candra yang hadir.

Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah mengatakan, sepi­nya kehadiran tokoh masyarakat kali ini kemungkinan karena ada urusan lain yang lebih penting. “Saya sudah antarkan undangan, bahkan menelpon. Jadi, kalau mereka tidak datang, mungkin karena ada urusan lain,” katanya.

Guru Besar Unand Prof Dr Ir Isril Berd SU yang tampil mem­berikan sambutan di sidang pari­purna sebagai perwakilan dari tokoh masyarakat juga menyorot berbagai insiden dalam sidang paripurna istimewa peringatan HUT Kota Padang ke-346. Dia sangat berharap di tengah-tengah kemajuan Kota Padang, persoalan listrik padam saat acara yang tidak tertangani sebagaimana mestinya ke depan tidak terulang kembali. Dia juga menyorot soal banjir yang masih sering terjadi di sejumlah wilayah di Kota Padang. Dia meminta Pemko Padang belajar ke Pemko Pa­lembang yang sejak 100 tahun lalu sudah membangun 10 waduk atau danau mini di tengah-tengah kota, sehingga luapan Sungai Musi tidak lagi menyebabkan banjir di kota mpek-mpek.

Tamu undangan yang berada di ruang sidang utama tidak dapat mencicipi menu makan siang yang disiapkan panitia. Pasalnya acara berakhir 11.40 WIB, tamu undangan bergegas mencari mas­jid terdekat untuk melaksanakan Salat Jumat. (h/ade/erz)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]