Sumber Air Masih Jauh


Rabu, 12 Agustus 2015 - 19:18:30 WIB
Sumber Air Masih Jauh

Ikon sumber air su dekat seakan-akan sudah mengen­tal dengan kondisi yang dialami masyarakat Kabu­paten Timor Tengah Selatan sekarang. Persoalan ketia­daan sarana air bersih yang banyak dikeluhkan ma­sya­rakat di sana lambat-laun pun mengurai.

Baca Juga : Elektabilitas Capres Oposisi, Gatot & Rocky Gerung Tertinggi

Namun, keadaan yang menggembirakan semacam itu, masih menjadi harapan yang tersangkut di langit ketujuh bagi masyarakat Na­gari Sawah Tangah. Ya, nagari yang letaknya ribuan kilo­meter dari NTT ini, hingga kini belum terjamah ikon “sumber air su dekat”, alias “jauah bana mambiak aia”.

Sebagai salah satu nagari di Kecamatan Pariangan Kabupaten Tanah Datar, Nagari Nagari Sawah Tangah terdampar di bawah kaki Gunung Merapi. Secara geografis Nagari ini me­miliki lingkungan yang asri. Di tengah potensi tersebut, memang hal luar biasa lain­nya kedamaian yang ter­cipta, bila sanak saudara co­ba berkunjung di nagari ini.

Baca Juga : THR Pekerja Wajib Dibayar H-7 Lebaran

Namun, dibalik kele­bihan yang ada tersebut, Nagari Sawah Tangah masih di­liputi, halnya yang penulis sam­paikan tadi, sulitnya men­dapatkan air bersih bagi ma­­syarakat. Letak geografis Na­gari Sawah Tangah yang di­ dataran tinggi, kisaran 10 kilo­meter dari permukaan laut.

Harian Padang Ekspres pada 14 April 2015 lalu pernah meliput kondisi objektif di nagari tersebut. Sekitar 100 hektare areal pertanian masyarakat di Nagari Sawah tangah, Ke­camatan Pariangan teran­cam kekeringan akibat ru­sak­nya irigasi sepanjang 1, 6 kilometer.

Baca Juga : Tertarik Beasiswa LPDP, Ini Syarat dan Cara Pendaftarannya

Bahkan tidak itu saja sekitar 20 petak areal sawah masyarakat belum lagi me­miliki irigasi permanen. Hal itu diungkapkan Pj Wali Nagari Sawah Elita D.S.Sos usai meninjau seluruh aliran air sawah masyarakat ber­sama unsur nagari, Kepala UPT Pertanian Pariangan, Babinsa dan anggota kelom­pok tani lainnya.

Dari monitoring yang dilakukan dengan me­nge­lilingi seluruh air yang me­ngairi sawah pertanian, ter­nyata dari 25 saluran air sawah yang ada baru sekitar 5 aliran sawah yang sudah dibangun pengairannya. Ya­itu bandar Tangah tapi yang dibangun melalui dana PN­PM, Banda Pulai, banda Sipakam, Banda Galanggah Ta­ngah dan dibangun sepan­jang 500 meter tahun ini. Lebih miris lagi ditemukan sekitar 1,6 km dalam kea­daan rusak tidak layak pakai dan akibatnya ikut mem­pengaruhi pendapatan pe­tani nagari sawah tangah.

Baca Juga : Aa Umbara Tersangka, Hengky Kurniawan Ditunjuk Jadi Plt Bupati

Berbagai upaya telah dilakukan oleh masyarakat. Sebelumnya masyarakat telah melakukan swakarsa dengan membuat pompa air secara tradisional, kemu­dian sekarang dengan ban­tuan kerjasama PNPM sejak tahun 2008 telah diari degan kaburator listrik sehingga air hidup dua kali seminggu, dan itu dikenai biaya 10 ribu rupiah per rumah. Upaya lainnya dengan menjemput air ke sungai dengan dirijen oleh perorangan. Kemudian upaya lainnya, terdapat ada­nya jasa pelayanan pen­jem­putan air dengan biaya enam ribu rupiah sekali jemput.

Kendala pengadaan air: daerah dataran tinggi, sum­ber mata air jauh ke bawah lembah, minimnya bak pe­nampungan air, biaya lis­trik untuk pompa air listrik yang relatif mahal, sampai saat ini masih menjadi ma­salah yang membelenggu bagi ma­sya­rakat Nagari Sawah Tangah.

Tulisan sederhana ini laksana mengajak pe­me­rintah untuk mempedulikan masalah tersebut. Sebab air adalah sumber kehidupan, dan air adalah kunci dari pembangunan berkelanjutan (sesuai tema Hari Air Dunia tahun ini adalah ‘Water and Sustainable Development’). Maka dari itu, adalah ke­wajiban negara untuk me­layani rakyat dalam hal pe­nyediaan air bersih—se­bagai sumber kehidupan dan entitas pembangunan ber­kelanjutan.

Mahkamah Konstitusi dalam Putusan MK No. 85/PUU-XI/2013 mendalilkan kak atas air sebagai hak dasar melakat (In-Persona) tak bisa dikurangi. Dengan kata lain, hak konstitusional ma­syarakat adalah mem­pe­roleh pelayanan me­nyang­kut kebutuhan hak atas hajat hidup orang banyak ter­sebut. ***

 

ALEK KARCI KURNIAWAN
(Aktivis UKM Pengenalan Hukum dan Politik)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]