Bagaimana Nasionalisme Kita


Kamis, 13 Agustus 2015 - 19:21:40 WIB
Bagaimana Nasionalisme Kita

Mengapa harus malu? Ya, kita memang harus malu kepada para pejuang dan para pahlawan RI yang telah mengikhlaskan nyawa dan kehidupan mereka untuk merebut kemerdekaan. Berjuta-juta pejuang gugur di medan tempur, di bawah kalimat Allahuakbar, Allahuakbar. Pilihan mereka hanya dua, “Merdeka atau Mati”. Yang mereka mau, bendera merah putih berkibar. Cita-cita dan tujuan mereka hanya ingin bangsa ini merdeka, agar anak cucu mereka bisa hidup tenang dan senang. Tidak mudah dibodoh-bodohi, ditipu, diadu domba antara yang satu dengan yang lainnya, tidak buta huruf dan bisa hidup damai sejahtera. Keluarga mereka barangkali tak pernah merasa hidup tenang, hidup becerai-berai, balita telah menjadi anak yatim. Tapi ketika telah merdeka, kita yang hidup sekarang malah enggan dan acuh dengan bendera merah putih. Kita tak merasa ada beban dan tak merasa ada salah ketika bendera merah putih tak berkibar saat peringatan HUT RI yang hanya diperingati sekali dalam setahun.

Baca Juga : Cegah Warga Nekat Mudik, Polri Gelar Operasi Sebelum 6 Mei

Rasa nasionalisme kita memang telah luntur, pudar, menipis bahkan sekarat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), nasionalisme berarti (1) paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; sifat kenasionalan: — makin menjiwai bangsa Indo­nesia; (2) kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu; semangat kebangsaan.

Ini bukan persoalan sepele! Ini adalah salah satu subtansial dari kehidupan berbangsa dan bernegara yang telah berada di bibir jurang yang dalam. Ketika orang-orang acuh dan tak peduli dengan berkibar atau tidaknya bendera merah putih pada momentum HUT Ke­merdekaan RI. Ini adalah  sebuah pertanda kehancuran bagi marwah bangsa. Dengan kondisi mental masyarakat seperti itu, pantas saja susah mengajak masyarakat bergotong-royong, tetangga yang satu dengan lainnya tidak saling peduli, got-parit dibiarkan mampet, gundukan sampah yang menggunung tak membuat masyarakatnya bergeming dan pedagang kaki lima susah diatur dan berbagai persoalan lainnya.

Baca Juga : Inilah Jam Kerja ASN pada Bulan Ramadan 1442 Hijriah

Pada peringatan HUT RI ke-70 di tahun 2015 kondisi itu tak boleh terulang kembali. Di depan setiap rumah, toko, ruko, kantor, bengkel, gudang dan fasilitas lainnya mesti dipastikan bendera merah putih berkibar. Baik yang berada di pinggir jalan protokol, arteri, lingkungan maupun di dalam-dalam komplek  peru­mahan. Setidaknya mulai tanggal 15 s/d 19 Agustus 2014 atau selama enam hari berturut-turut. **

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]