Alquran sebagai Petunjuk Manusia dan Obat Galau


Kamis, 13 Agustus 2015 - 19:22:10 WIB
Alquran sebagai Petunjuk Manusia dan Obat Galau

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Alqu­ran surat albaqarah (2) ayat 185, yang artinya Allah menurunkan Alqur’an seba­gai petunjuk bagi umat ma­nu­sia serta sebagai pen­jela­san mengenai petunjuk itu dan pembeda. Imam Ath-Thabari di dalam jami al-bayan fi tawil quran men­jelaskan Huda linnas yang bermakna sebagai petunjuk  bagi manusia ke jalan yang benar dan manhaj yang lu­rus, wa bayyinati huda wal­fur­qon yang merupakan pen­jelasan yang merujuk kepada hudud Allah SWT, kefa­r­duan serta kehalalan dan haram-nya serta pemisah antara kebenaran dan ke­bathilan, pembeda antara yang baik dan yang buruk serta antara amal salih dan amal buruk.

Baca Juga : Kasus Covid-19 di Indonesia Merangkak Naik: Tambah 6.177 Positif Baru, DKI Jakarta Terbanyak

Sebagai mana kita ke­tahui, Alquran sebagai pe­tun­juk bagi manusia untuk menjalani hidup dan kehi­dupan serta alqur’an mem­berikan penjelasan atas se­gala sesuatu. Sebagaimana firman Allah SWT mene­gaskan dalam surat An-Nahl (16) ayat 89 yang artinya “ Kami telah turunkan kepada kamu al-kitab (Alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu, juga sebagai pe­tunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi kaum muslimin. Maksud dan arti dari semuanya ini, se­sung­guhnya  alqur’an meliputi segala pengetahuan yang bermanfaat berupa berita tentang apa saja yang telah lalu, pengetahuan apa saja yang akan datang, juga me­nge­nai hukum tentang se­mua yang halal dan yang haram serta apa-apa saja yang diperlukan oleh ma­nusia dalam hidup dan kehi­dupan beragama baik didu­nia maupun diakhirat.

Secara hakiki Alquran merupakan petunjuk bagi manusia, namun alqur’an tidak serta merta secara riil berperan sebagai kompas dalam kehidupan terkecuali memang jika alqur’an diper­hatikan dan di jadikan seba­gai panduan, pedoman, dan petunjuk dengan memaknai membaca serta memahami dan mengamalkan isi al­qur’an. Sebut saja, ketika kita mengindahkan peringatan-peringatan yang terkandung didalamnya, pelajaranya di­per­hatikan, perintahnya di jalankan, larangan nya di­jauh­kan dan kita tinggalkan, semua ketentuan yang ada diikuti, hukum-hukumnya serta halal dan haramnya diterapkan serta dijadikan hukum untuk mengatur pola dan tata cara dalam kehi­dupan. Alquran secara haki­ki menjadi penjelasan atas segala sesuatu sekaligus sebagai solving problem da­lam setiap permasalahan dalam kehidupan, jika kita benar-benar secara riil men­jadi solusinya diambil dan dijalankan. Dengan kata lain, alqur’an akan benar-benar menjadi petunjuk, penjelas, pembeda, solusi dan obat bagi manusia jika kita benar-benar menjalani hidup berpedoman dan ber­pegang dengan alqur’an dan segala tidak tanduk yang kita lakukan haruslah berpegang teguh serta sesuai dengan tuntunan Alquran.

Baca Juga : Jadi Bandar Sabu, Eks Anggota DPRD Palembang Divonis Mati!

Dengan berpedoman itu semua, kita mengimani Allah SWT yang menu­run­kan al­qur’­an, mengimani Ra­su­lullah Muhammad SAW yang membawa dan men­jelaskan alqur’an itu sen­diri, maka tidak sela­yaknya kita enggan men­jadikan alqur’an sebagai pe­tun­juk dalam setiap akti­fitas yang kita lakukan didu­nia yang fana dan sifatnya semen­tara dan janganlah kita sam­pai termasuk orang-orang yang terancam dengan penga­duan Rasullah Mu­hammad SAW kepada Allah SWT nantinya.

Namun dewasa ini sa­ngat banyak kita jumpai dalam hidup dan kehidupan ditengah-tengah masyarakat kita, khususnya di Ranah Miang yang tercinta yang terkenal dengan Adat Ba­san­­di Sara’, Sara’ Basandi Kita­bullah  (ABS-SBK). Dan pada umumnya mere­ka le­bih cendrung merasa ada yang kurang ketika ti­dak membaca isi bacaan KO­RAN ketimbang me­rasa ada yang kurang ketika belum baca alqur’an, nau­zubillah summa nau­zu­billah min­zalik.  Namun sangat disa­yangkan sudah menjauh bah­­kan me­ning­galkan al­qur’an. Alqur’an hanya diba­ca pada waktu tertentu saja, seperti mau menikah, ke­matian dan ketika masih di bangku SD bahkan sampai khatam saja, selepas itu mereka me­ning­galkanya. Sebagaiman yang kita ke­tahui, mendengarkan dan menyimak orang mem­baca Al­quran saja kita men­da­pat­kan pahala, apalagi kita ikut membaca, menga­mal­kan dan men­jalankan isi yang terkandung dida­lamnya.

Baca Juga : Kabar Baik Untuk Jemaah Umrah Indonesia, Satgas Prediksi Vaksin Sinovac 'Tersertifikasi' WHO Akhir Mei

Dengan demikian, tam­pak jelas bahwa upaya men­jadikan Alquran sebagai petunjuk tidak akan sem­purna hanya oleh seke­lom­pok tertentu atau individu. Tertapi, harus melibatkan peran aktif pemerintah un­tuk menggalakan cinta dan tadabur Quran. Dengan so­lusi dan caranya dengan menerapkan hukum al­qur’­an atau syari’ah Islam me­lalui kekuasan pe­me­rin­tahan. Persyaratan untuk menjadikan alqur’an secara hakiki, riil dan sempurna  serta benar-benar menjadi pedoman, solusi obat dan petunjuk bagi kita semua dalam kehidupan. Artinya, ini semua mesti kita per­juangkan supaya benar-be­nar menjadikan alqur’an sebagai kompas dan baro­meter dalam kehidupan ti­dak hanya sekedar klaim, agar keimanan kita pada Alquran lebih sempurna dan supaya kita menjadi kaum yang layak untuk dimuliakan de­ngan Alquran dan men­jadikan kita ummat yang dicintai baginda Rasulullah Muhammad SAW. ***

 

Baca Juga : Penggabungan Kemenristek ke Kemendikbud Jangan Mengganggu Program Vaksin Merah Putih

HARIYANTO,SS
(Ketua DPD Ikatan SosiaL Fakir Miskin Anak Yatim dan Anak Terlantar Kota Padang (ISAFAT))

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]