Harga Daging Sapi di Padang Ikut Naik


Kamis, 13 Agustus 2015 - 19:27:26 WIB
Harga Daging Sapi di Padang Ikut Naik

Beberapa pedagang menjelaskan, di Pasar Raya Padang, harga daging sapai saat ini mencapai Rp120.000 hingga Rp125.000 per kilonya. Jika dibandingkan dengan harga sebelumnya yakni berkisar Rp90.000 hingga Rp100.000 per kilo kenaikan harga saat ini lumayan mencekik pembeli dan juga tidak mengun­tungkan untuk para pedagang karena minat pembeli jadi sangat berkurang.

Baca Juga : Arab Saudi Tegaskan Belum Ada Instruksi Resmi tentang Haji Tahun Ini

Salah seorang pedagang daging Jon (32) mengatakan, bahwa kenaikan harga daging sapi ini dipicu oleh permainan im­porter yang menaikkan harga, “Harga modalnya melonjak terus, bahkan semenjak sebelum mema­suki bulan puasa kemarin sudah mulai naik. Untuk impor daging untuk Indonesia ini dari Lam­pung, jadi kemungkinan yang bermain itu adalah orang sana,” ungkapnya.

Dikatakan juga, sejak harga daging sapi mengalami kenaikan penjulannya juga mengalami pe­nu­runan tajam lebih kurang 40 persen dari hari biasanya. Untuk saat ini yang masih setia membeli adalah pedagang untuk dijualnya kembali pada pembeli, dan pro­duk rumahan yang bahan da­sarnya daging.

Baca Juga : 'Tsunami' Covid-19 India Makin Menggila, Anak Muda yang Meninggal Semakin Banyak

“Sangat jauh menurun, biasa­nya dalam satu hari satu ekor sapi itu habis terjual kalau sekarang untuk satu sapi itu bisa dua hari habisnya. Saat ini yang membeli cuman pedagang itupun jauh berkurangnya dari hari biasa, kalau biasanya mereka beli enam kilo sekarang hanya tiga kilo saja,” ulasnya.

Untuk mensiasati kerugian tersebut, ia mengurangi jumlah pasokan dan pesanan daging supa­ya tidak merugi. Karena kalaupun jumlah pasokan cukup, tapi harga tidak sesuai dengan pembeli menurutnya sama saja merugi, “Kalau pasokan ada, tapi harga tidak cocok kan sama saja. Kalau daging lokal seperti dari pesisir tidak terlalu banyak, dan daging­nya juga tidak sebanyak sapi dari Australia,” ujarnya.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Dedi (45 tahun) bahwa penjualan dagingnya menurun dari hari biasanya, sejak harga daging melonjak naik. Menurut­nya, pemerintah harus turun tangan kalau tidak para pedagang dan masyarakat akan teraniaya, “Biasanya harga daging ini naik­nya satu kali dalam satu tahun, namun tahun ini naik berkali-kali. Pemerintah harus turun tangan karena ini penyebab nya adalah importer,” tambahnya.

Berdasarkan informasi yang didapatnya dari teman sejawatnya yang merantau di Malaysia, harga daging disana jauh lebih murah jika dibandingkan dengan harga daging sapi di Sumbar. di Malay­sia harganya Rp60.000 per kilo­nya, sedangkan disini sudah Rp120. 000 per kilonya. Padahal pasokan sama-sama dari Aus­tralia,” pungkasnya.

Seorang ibu rumah tangga, Yani (41) yang biasa meng­kon­sumsi daging untuk keluarganya hingga 2 Kg per bulan, harus berpikir ulang untuk membeli daging sebanyak itu. Menurut warga Pampangan, Kota Padang itu, kebutuhan rumah tangga lain juga makin besar sehingga harus bisa menyiasati kenaikan harga dengan kebutuhan  di rumah tangga.

“Saya terpaksa mengurangi pembelian. Kini terpaksa kami beli untuk kebutuhan dapur 1 Kg saja dan itu harus dihemat agar keluarga bisa menik­matinya,” kata Yani.

Timbun Sapi

Dari Jakarta, Polisi mengge­rebek  lokasi yang diduga menjadi lokasi penimbunan sapi. Kepala Bareskrim Polri Komisaris Jen­deral Budi Waseso mengung­kapkan bahwa jumlah sapi yang ditemukan di lokasi berjumlah 21.993 ekor. Jumlah tersebut berasal dari dua lokasi yang dija­dikan target penggerebekan. Se­mua sapi itu adalah impor dari Australia.

Dari total tersebut, satu per lima sapi seharusnya sudah dipo­tong karena kondisinya siap po­tong. Sayangnya sapi-sapi tersebut tidak dipotong. “Ada 4.000 yang tidak dipotong dengan alasan ti­dak laku jual atau tidak ada pem­belinya,” kata Budi saat ditemui di Mabes Polri, Kamis (13/8).

Berdasarkan temuan tersebut, Budi berencana untuk melakukan pemanggilan terhadap beberapa pihak yang diduga terkait dengan proses penimbunan tersebut.

Pemanggilan akan dilakukan terhadap importir, asosiasi pe­dagang sapi, termasuk juga bea cukai. Kementerian Pertanian pun akan dimintai keterangan terkait sapi-sapi tersebut.”Kita cek se­mua, kita panggil semua,” kata Budi yang dirilis cnn indonesia.

Terkait dengan pemilik lokasi penggemukan sapi, Budi mengaku mereka akan diperiksa hari ini. Apakah ada unsur pidana di dalamnya akan berkembang ber­dasarkan hasil pemeriksaan.

Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Anton Char­liyan mengungkapkan bahwa lo­kasi penggerebekan terletak di belakang Bandara Internasional Soe­karno-Hatta. “Lokasinya Ja­lan Kampung Kelor No. 33, Keca­ma­tan Sepatan, Kabupaten Tange­rang dan Jalan Suryadharma, Sela­pajang,” kata Anton saat dite­mui di Jakarta, Rabu malam (12/8).

Lokasi tersebut, kata Anton merupakan alamat dari peru­sahaan bernama PT Brahman Perkasa Sentosa. Dari hasil pe­nge­cekan awal, Anton menga­takan bahwa PT Brahman Perka­sa Sentosa dimiliki oleh tiga orang.

Inisial ketiganya adalah BH, PH, dan SH. Khusus untuk SH dia juga menjadi pemilik utama dari PT Tanjung Unggul Mandiri.

Direktur Tindak Pidana Eko­nomi Khusus Brigadir Jenderal Viktor Simanjuntak mengatakan adanya upaya menahan produksi daging sapi di Indonesia. Hal itu disimpulkan Viktor setelah melihat fakta di lapangan yang menunjukkan adanya lebih dari 20 ribu sapi dan 4000 diantaranya siap potong sejak sebelum hari Raya Idul Fitri tahun ini.  (h/mg-rin/mat)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]