Dua Menteri Tantang Rizal Ramli


Kamis, 13 Agustus 2015 - 19:29:37 WIB
Dua Menteri Tantang Rizal Ramli

Sepanjang Kamis (13/8), Rizal Ramli mengeluarkan dua pendapatnya terkait pro­gram kementerian tersebut, yakni pembatalan pembelian Airbus A-350 untuk Garuda dan proyek pembangkit listrik 35 ribu Megawatt (Mw).

Baca Juga : Daftarkan Logo Partai atas Nama SBY, Ketua DPC PD Dharmasraya: Cegah Penyalahgunaan oleh Pihak Lain

Soal Garuda, ia meminta agar PT Garuda Indonesia Tbk membatalkan penam­bahan pesawat. Dia me­ngaku telah menggagas pem­batalan rencana pembelian pesawat Airbus A350 oleh Garuda Indonesia.

"Minggu lalu, saya ke­temu Presiden Jokowi. Saya bilang, Mas, saya minta to­long  layanan diperhatikan. Saya tidak ingin Garuda bangkrut lagi karena sebulan yang lalu beli pesawat de­ngan pinjaman 44,5 miliar dollar AS dari China Avia­tion Bank untuk beli pesa­wat Airbus A350 sebanyak 30 unit. Itu hanya cocok untuk Ja­karta-Amerika dan Jakarta-Ero­pa," ujar Rizal Ramli di Kantor Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta.

Baca Juga : DPC Partai Demokrat Dharmasraya Sampaikan Surat Pengaduan dan Perlindungan Hukum ke Polres Setempat

Ini membuat Rini Soemarni gerah. Kepada kompas.com Rini mengisyaratkan tidak boleh ada pihak yang mencampuri urusan bisnis PT Garuda Indonesia Tbk, selain Menko Perekonomian, dengan posisi bahwa Kemen­terian Keuangan bertindak selaku pemegang saham perusahaan milik negara, dan Kementerian BUMN sebagai kuasa pemegang saham.

"BUMN itu (Garuda) jelas di bawah Kemenko Perekonomian, bukan di bawah Kementerian Koordinator Bidang Kema­riti­man. Jadi, jangan ada yang men­campuri Garuda di luar Kemenko Perekonomian," kata Rini sebagaimana dikutip Antara.

Baca Juga : Terjun ke Politik, Athari Gauthi Ardi: Ingin Kampung Seperti Jakarta

Tak cukup sampai di sana. Rizal meragukan proyek pem­bangkit litrik 35 ribu megawatt (mw) bisa terealisasi. Bahkan, dia menyebut proyek itu terbilang tidak masuk akal.

"Mana yang betul-betul masuk akal. Jangan memberikan target terlalu tinggi tapi dicapainya susah. Supaya kita realistis," ujar Rizal di Kantor Menko Kema­ritiman, Jakarta, Kamis (13/8).

Baca Juga : Ada Gerakan Mau Kudeta Cak Imin dari Kursi Ketum PKB, Benarkah?

Dirilis okezone, mantan Men­ko Perekonomian era Gus Dur ini membandingkan dengan target pembangunan listrik 10 ribu mw zaman SBY yang masih tersisa 7 ribu mw yang belum terealisasi. Sehingga, dirinya berpendapat, merealisasikan 42 ribu mw dalam lima tahun itu bakal sulit tercapai.

Hanya saja Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said berkeras akan menjalankan program pem­bangunan pembangkit listrik 35 ribu megawatt (MW).

"Jadi sebe­tulnya secara persia­pan kita opti­mis, cuma tanta­ngannya adalah proyek manaje­men yang ada. Kalau kita bicara soal (masalah) tanah mengenai perizinan ma­kanya sekarang kita coba," ujar Sudirman di kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Kamis (13/8), seperti dirilis cnn indonesia.

Sudirman mengungkapkan, konsistensi pembangunan pem­bangkit listrik 35 ribu MW tak lepas dari telah ditekennya kontrak penjualan tenaga listrik (power purchase agreement/PPA) oleh PT PLN (Persero) tahun ini yang ditargetkan men­capai 10 persen atau berkisar 3.500 MW.

Ia pun meyakini dengan per­sia­pan yang lebih baik, besaran PPA oleh PLN bisa mencapai 15 ribu MW pada tahun depan.

"Kalau evaluasi, kita akan lakukan terus menerus dan mencari cara bagaimana target itu terpenuhi. Karena target itu kan angka yang dibutuhan, bukan sesuatu yang datang begitu saja (melainkan) berdasarkan listrik yang dibutuhkan 5 tahun ke d­e­pan," tuturnya. (h/net/mat)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]