Pulang ke Rumah


Jumat, 14 Agustus 2015 - 17:58:08 WIB
Pulang ke Rumah

Suyatto kecil selalu tidur berdendangkan kaba. Tapi bukan kaba Anggun nan tonnga, Rambun pamenan maupun Cindua Mato. Me­lain­kan Kaba rumah gadang, kaba yang berkisah tentang orang-orang hebat yang lahir atau pernah tidur di rumah tersebut. Dari Halaban ke Bidar Alam,2 Pergerakan bawah tanah,3 Rohana ku­dus,4 dari penjara ke penjara5 dan Diplomat ulung,6 adalah segelintir judul yang sering didendangkan oleh ba­pak­nya.

Baca Juga : Kecewa, dr Tirta Sebut Konten dr Kevin Samuel juga Mesum

Sejak usia remaja, Su­yatto inging sekali pulang kampung agar bisa tidur di rumah gadang. Namun ke­ingi­nannya ini terpaksa diku­bur dalam-dalam, lantaran kisah Peri-peri masih meng­hantui. Harapan Suyatto menikahi gadis Minang juga kandas ketika cinta ber­bicara. Pertemuannya de­ngan neng Lilis, mem­beri­kannya seorang anak lelaki yang ditebus dengan sa­hid­nya sang istri.

Mangkuto Alam, sengaja ia memberikan nama anak­nya yang bercirikan Minang, sebagai bentuk ketidak se­nangannya terhadap na­ma­nya sendiri. Ia selalu me­nimang-nimang anaknya tersebut dengan lagu kam­pung den jauah di mato atau Rumah Gadang maimbau pulang. Sesekali Suyatto juga membacakan syair tanah air karya Prof, Mr, Mohammad Yamin. Syair itu merujuk kepada ranah Minang di pulau Sumatera sana.

Baca Juga : Dicerca Netizen, Yuni Shara Justru Beri Jawaban Terimakasih

***

Sama dengan dirinya, Mangkuto Alam juga diti­dur­kannya dengan kaba ru­mah gadang. Semakin hari, ke­cintaan anak semata wa­yang­nya itu kepada rumah bertuah tersebut semakin menjadi. Apa lagi setelah gurunya di sekolah me­nga­jarkan tentang perjuangan para pahalawan di bangsa ini, semua tokoh dan jalan ceri­ta­nya sama persis dengan kaba pengantar tidurnya. Ah! Jika Bicara sejarah Republik ini. Mungkin tidak akan ada yang keberatan, andai orang Minang bertepuk dada.

Baca Juga : Gegara Nikahan Atta-Aurel Bukan Sih? Thariq Halilintar Kini Positif COVID-19

***

Suyatto selalu bercerita kepada anaknya. Siapapun yang lahir atau pernah tidur di rumah gadang, maka ia akan menjadi orang hebat. Jika ingin menjadi politisi, tidurlah di kamar pojok kanan, disanalah M Hatta, Agus Salim, Tan Malaka dan para politisi lainnya tidur. Jika ingin menjadi pujangga atau penulis, merenunglah di kamar pojok kiri, di kamar itulah Nur Sutan Iskandar, Marah Rusli, Chairil Anwar dan Sastrawan lainnya sering menuangkan idenya. Jika ingin menjadi ulama, me­nga­jilah di kamar tengah, disana dulu tempat me­ngajinya Ahmad Khatip Al-Minangkabawi, Djanan Thaib, Datuk Ri Bandang dan alim ulama lainnya.

Baca Juga : Yuni Shara Disindir Saat Pakai Ulos, Netizen: Terlihat Tua dan Keriput

Setiap inci rumah gadang dibangun bersendikan aga­ma, yang merujuk kepada kitabullah. Itulah kenapa para penghuninya dirahmati Tuhan Yang Maha Kuasa, bahkah sang Illahi me­nyem­purnakan rahmatNya ke­pada rumah gadang, dengan mengutuk salah satu peng­huninya, yakni Malin Kun­dang. Pengutukkan ini, tidak lain dan tidak bukan ber­tujuan Agar menjadi pela­jaran bagi penghuni lainnya, biar mereka tidak sombong dan ingkar atas segala rah­mat yang dibe­rikan. Bahkah punya darah Minangkabau saja, bearti ia telah memiliki DNA berdagang. Melalui Mangkuto Alam, Suyatto berharap impiannya tidur di Rumah Gadang bisa ter­sampaikan.

***

“Ayah, kapankah aku bisa tidur di rumah yang penuh rahmat itu? Seperti yang selalu ayah janjikan.”  Mangkuto Alam  menagih janji.

Suprise!” Suyatto mem­perlihatkan dua tiket pesa­wat keberangkatan besok lusa. “Apakah kamu telah memilih kamar yang akan kamu tempati?”  Mangkuto Alam mengambil tiket ter­sebut, menatapnya seolah tidak percaya. “Aku masih ragu antara kamar pojok kanan dengan kamar tengah.”

“Jadi pilihanmu diantara Politisi dan Ulama! Itu pili­han yang bagus, tapi ada baiknya kamu melihat rua­ngan kecil ditingkat paling atas. Disana masih tersim­pan senjatanya Ahmad Hu­sein dan Dahlan Djambek. Kamar yang bagus jika kamu ingin jadi militer.”

“Tidak Yah, aku kurang berminat jadi tentara.” Su­yatto tersenyum mendengar pernyataan anaknya. Seja­tinya orang Minang memang tidak cocok menjadi Ser­dadu. Pemerintahan Kolo­nial paham betul akan karak­ter ini, itulah kenapa peme­rintahan Hindia-Belanda tidak memasukkan orang Minang kedalam KNIL.7 Barulah pada masa pen­dudukan Jepang ada orang Minang yang masuk militer. Bukan lantaran orang Mi­nang takut berperang, me­lainkan karena karakternya yang dinamis, fleksibel dan suka bermusyawarah. Mes­kipun begitu, kepiawaian orang Minang dalam militer juga terbukti, ketika Divisi IX Banteng mampu me­nyelamatkan Syafrudin Pra­wiranegra dalam masa PD­RI, bandingkan dengan di­visi Elit kala itu, yang gagal menyelamatkan Sukarno-Hatta. Namun sayang, hal ini tidak terlalu ditulis, lantaran penulisan sejarah Indonesia cendrung Jawa Sentris.8

“Kenapa Ayah ter­se­nyum-senyum sendiri?” Mang­­kuto Alam juga ter­senyum melihat ayahnya tersenyum. “Apakah ayah takut kalau aku mengikuti jejak langkah Ahmad Hu­sein?” tambahnya.

“Tidak Nak, justru ayah bangga dengan apa yang dilakukan Ahmad Husein. Karena itu salah satu cer­minan watak orang Minang. Tibo di mato indak bapi­ciangkan, tibo di paruik indak dikampiakan. Siapa pun yang bersalah, entah itu anak, kemenakan, datuk bahkan raja sekali pun, harus ditegur. Jangankan koman­dan, panglima tertingi TNI pun, jika bersalah wajip dikasih tau. Itulah yang dila­kukan oleh Ahmad Husein. Ia menegur Sukarno yang telah me­lenceng.”

“Tapi Yah, bukankah tindakkan itu harus di tang­gung oleh banyak orang Min­ang?”

“Nak, bukanlah mene­gakkan kebenaran jika itu mudah. Semakin kuat kebe­naran, semakin sulit mene­gakkannya. PRRI memang dibayar mahal oleh orang Minang, tapi bukankah seka­rang kita menikmatinya. Sejak itu pemerintahan pu­sat mulai melakukan peme­rataan pembangunan, bah­kan ada yang mendapatkan otonomi khusus. Tentu se­mua ini tidak lepas dari andil para pejuang PRRI. Jauh sebelum kita berpikir, Ah­mad Husain dengan Prri-nya telah mencoba mewu­jud­kannya. Semua orang yang mendukung gerakkan ter­sebut, bisa dikatakan pahla­wan pemerataan pemba­ngunan.”

Mahalnya harga PRRI jugalah yang membuat Su­yat­to tidak pernah mera­sakan tidur di rumah gadang. Kekalahan PRRI membuat bayak orang Minang lari Ke Jawa, takuik dek ujuang badia, pai kapangka badia.9 Di Jawa mereka menganti namanya menjadi kejawaan-jawan guna menutupi iden­titas diri, agar selamat dari diskriminasi yang dilakukan pemerintahan pusat. Mes­kipun serba Jawa, namun hati tetap Minangkabau. Itulah kenapa Suyatto sangat memimpikan suatu saat bisa pulang ke rumah. Saat ge­nerasi ketiga lahir harapan itu bisa terwujud. Suyatto berharap, dengan tidurnya Mangkuto Alam disana, bisa membuat anaknya itu me­n­jadi orang hebat.

***

Bak raso bibia ditapi cawan, itulah yang dirasakan oleh Mangkuto Alam  dan Suyatto selama perjalannya dari bandara Soetta hingga ke BIM. Di pesawat yang sedang terbang itu, bapak dan anak ini telah me­ra­sakan sensasi rumah gadang. Namun sesampainya di hala­man rumah, kedua orang ini bak jago dari ra­sian.

Begitu melihat rumah gadang, mereka terpaku de­ngan mulut ternganga. Hanya ada satu gonjongnya yang masih utuh, sisanya bak ker­bau patah tanduk. Atapnya seperti padi ditiup badai. Ukirannya rayap memakan sedangkan ruangannya se­kuat laba-laba bersarang. Lakang dek paneh, lapuak dek hujan.

“Yah, inikah rumah itu?” Berkedip tidak matanya Mangkuto Alam. Suyatto masih diam terpaku seolah tidak percaya. “Apanya yang indah, jangankan orang, bu­rung pun enggan bersarang. Bagaimana mana mungkin tidur di rumah bobrok be­gini bisa membuatku hebat.” Kekecewaan pemuda gagah tersebut berubah menjadi frustasi yang berujung pada kemarahan. “Aku tak me­nyangka, ternyata ayahku pendongeng ulung.”

“Janganlah kamu bicara seperti itu Nak, mungkin tukang dendang salah sam­paikan, makonyo sasek gari­tiak saluang. Ayah hanya mengiringi kaba yang disam­paikan kakekmu. Tapi Coba­lah masuk dulu kedalam, siapa tau tidak sama dengan yang tampak dari luar.”

“Masuk kedalam? Yang benar saja, tidak aku injak pun, jenjang itu akan patah. Apa yang mau diharapkan dari rumah yang tidak ber­tungku.”

“Tidak bertungku!?”

Alun takilek alah taka­lam, Yah”

Suyatto melihat se­ke­lilingnya. Banyak mas­jid yang dikunci Alim Ulama, sekalian angka tarif untuk dakwah. Ninik mamak hobi menggadai, sementara cer­dik pandai sibuk berpikir bagaimana cara duduk di senayan. Bapak-bapak ter­lihat asyik dan sibuk me­mangku anak, sehingga me­nga­baikan kemenakan yang minta dibimbing. Bak kata pepatah, dicari surek, surek lah hilang. Ditanyo guru, guru alah mati. Pai ka surau, surau tabaka. Suyatto merasakan dirinya taku­ruang di lua.

Tersentak Suyatto, ketika anak yang diharapkannya balik kanan. “Mau kemana nak?” Tegur Suyatto dengan mata merah. Bukan merah karenah marah, tapi merah menahan tangis.

“Balik ke Jakarta Yah, setidaknya rumah gadang di taman mini jauh lebih indah, meski itu hanya mainan.” Mangkuto Alam terus me­langkah. “Tunggu Nak, apa kau mau terus mabuk de­ngan kehebatan orang Mi­nang disangkek saisuak?” Anaknya tersebut seolah tidak mendengar. “Oi Nak. Tunggu dulu, orang Minang suka bermusyawarah, tidak menerabas-nerabas seperti itu.”

Mangkuto Alam putar badan. “Apa lagi yang ayah mau musyawarahkan. Apa ayah mau bermusyawarah untuk mengatakan kalau rumah itu rumah istimewa! Sebenarnya siapa yang m­a­buk dengan kehebatan orang minang masa dulu.” Ia kem­b­ali balik kanan.

***

Pesawat yang dinaiki Mang­kuto Alam lepas landas saat gerimis meng­hujani ranah Minang. Su­yatto masih saja termenung, anak yang diharapkannya bisa menjadi orang hebat, telah balik ke tanah Jawa sambil membawa luka. Ia tidak menyangka, pulang ke rumah sesakit ini. Namun sekarang ia mengerti, rumah gadang yang tidak dirawat, tidak akan melahirkan anak Minang yang hebat.

“Ah! Aku harus mencari kemenakanku, mereka akan aku bimbing ke lereng gu­nung Merapi guna me­ngam­bil tonggak tuo.” Guman Suyatto dalam hati di tengah gerimis yang hendak men­jadi badai. (**)

 

Oleh:
YANSEN WAPITA ANWAR

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]