Dulu Pelayan Kini Juragan


Jumat, 14 Agustus 2015 - 17:59:22 WIB
Dulu Pelayan Kini Juragan

Dan hal inilah yang dila­koni Rozi Fefori atau yang lebih dikenal dengan pang­gilan Ojik. Suami dari Sari Andrianis ini, merupakan owner (pemilik) Zyiee Style dan Delisha Collection di Pasar Konveksi Aur Kuning Bukittinggi. Diawali  de­ngan  modal usaha 45 juta, kini usaha yang dijalan­kannya tersebut berkem­bang dengan omset menca­pai ratusan juta dalam se­bulan.

Baca Juga : Kabar Baik! Jaringan di Wilayah Sumatera akan Ditingkatkan Selama Ramadan

“Meski tahun ini omset penjualan menurun dari tahun sebelumnya, namun alhamdulillah selama bulan puasa hingga lebaran 1436 kemarin, omset penjualan yang didapat selama satu bulan tersebut mencapai Rp550 Juta, pada dua petak toko yang kita miliki,” ujar Ojik saat ditemui Haluan ditokonyo di komplek per­tokohan Aur Kuning Bu­kittingi.

Menurut Ojik, memang selama bulan puasa kemarin daya beli di pasar konveksi Aur Kuning agak sedikit menurun dibanding tahun lalu. Penurunan omset jua­lan tidak hanya dirinya saja yang merasakan tapi juga dirasakan oleh pedagang lainnya.

Baca Juga : Maksimalkan Pengalaman Aktivitas Digital di Momen Ramadan dan Idulfitri 1442 Hijriah

Menurutnya, kurangnya daya beli selama bualan puasa tersebut disebabkan masyarakat dihadapkan de­ngan dua kebutuhan yang harus dipenuhi. Yaitu ke­butuhan untuk keperluan lebaran dan kebutuhan un­tuk tahun ajaran baru bagi anak-anak mereka.

Oleh sebab itu, sebagian masyarakat lebih me­men­tingkan dan mendahulukan memenuhi kebutuhan anak-anak mereka untuk tahun ajaran baru. Artinya, mereka harus membeli keperluan dan perlengkapan sekolah anak-anaknya terlebih da­hulu.

Baca Juga : Resep Kolak Pisang Tanpa Santan, Cocok untuk Berbuka Puasa

“Kalau kita lihat selama bulan puasa kemarin, ma­syarakat lebih mendahu­lukan kebutuhan anak seko­lah dari pada kebutuhan lebaran seperti mebeli pa­kai­an baru. Dengan keadaan yang demikian maka terjadi penurunan omset tahun ini bagi sejumlah pedagang di Pasar Konveksi Aur kuning, termasuk kita sendiri yang mengalaminya,” ujar Ojik.

Dirinya juga menjelas­kan, adapun barang yang dijual pada dua petak toko yang dimilikinya itu berupa pakaian jadi, dengan bahan yang dijual jenis Gamis, Blus dan Kemeja wanita. Semua barang yang dijualnya itu merupakan barang local yang diambilnya dari Pusat Grosir Metro Tanah Abang (PGMTA).

Baca Juga : Intip 5 Trik Kurangi Asupan Karbohidrat

Dari segi harga jual lan­jutnya, juga tidak terlalu tinggi. Untuk harga 1 baju Gamis dijual dari harga  Rp75.000-150.000. Untuk jenis Bluss dijual dengan harga Rp40.000-85.000 Ri­bu dan kemeja seharga Rp40.­000-55.000. Semua harga tersebut merupakan harga grosir, sedangkan ka­lau dijual harga ecer be­danya juga tidak terlalu tinggi.

“Barang yang kita jual merupakan prodak lokal dan bukan produk impor. Sebab kalau barang impor yang kita jual sifatnya khusus menjelang lebaran. Dengan artian barang barang ter­sebut bias dijual hanya men­jelang lebaran saja, se­men­tara kalau dijual dihari hari biasa peminatnya sangat kurang. Sedangkan kalau barang lokal bisa dijual menjelang lebaran dan juga bisa dijual pada hari-hari biasa seperti sekrang ini. Oleh karena itu kita menang menjual barang lokal terse­but,” terang Ojik.

Diakuinya, memang ma­sa panen sejumlah pedagang di pasar konveksi di Aur Kuning 1 bulan menjelang lebaran. Sedangkan kalau hari hari biasa tidak begitu ramai. “Kalau hari-hari bia­sa seperti sekarang ini, omset penjualan kita hanya ber­kisar Rp10-20 juta/minggu, terkadang ada yang kurang di bawah Rp10 juta kalau legi sepinya. Sebab, jualan konveksi di Aur Kuning ini, ada waktu ramainya dan juga ada waktu sepinya,” kata Ojik.

Dirinya menambahkan, saat ini pelanggan tetapnya berasal dari berbagai pro­vinsi, seperti Sumbar, Su­mut, Riau dan Jambi. Untuk Sumatera Utara (Sumut) umumnya pelanggan berasal dari Padang Sidimpuan dan Panyabungan Madina.

“Bagi pelanggan yang jauh itu, terkadang  tran­saksi dilakukan melalui Te­lepon dan BBM. Jika pe­langgan memesan barang, maka kita akan kirim barang pesanan tersebut melalui jasa ekspedisi, dan kemudan sipelanggan metransfer uang­nya ke rekening kita,” ungkap  Ojik yang memiliki dua orang karyawan.

Kesuksesan yang men­dekati Ojik sekarang ini tentunya tidak semudah yang dibayangkan oleh kita semua, tanpa melihat proses yang dijalani untuk menda­patkan kesuksesan tersebut.

Untuk mencapai kesuk­sesan yang diperoleh, ten­tunya dibutuhkan sebuah proses. Dan proses itulah yang dilalui Ojik hingga bisa seperti sekarang ini. Dia­wali  dengan  bekerja seba­gai pelayan toko di salah satu toko konveksi di pasar Konveksi Aur Kuning pada tahun 2006, kini bapak satu anak hasil hubungan per­nikahannya dengan Sari Andrianis tersebut, telah memiliki usaha sendiri de­ngan memiliki dua buah petak toko di pasar Konveksi Aur Kuning.

Kepada Haluan, Ojik menceritakan bagaimana dirinya merintis dan me­mulai usaha yang dija­lan­kannya itu hingga ber­kem­bang dan sukses seperti seka­rang ini. Diceritakannya, sebelum dirinya membuka usaha sendiri di pasar Kon­veksi Aur Kuning berbagai pekerjaan telah dila­kukan­nya.

Setelah menamatkan pen­di­dikan dibangku SLTA, putra dari 6 bersaudara ini sempat menganggur. Tidak berapa selanglama mengang­gur Ojik memutuskan me­rantau ke Dumai. Didumai berbagai pekerjaan telah dilakukannya, mulai dari mencuci motor, menjual bawang hingga berjualan kain dari pasar ke kepasar. Melihat keadaaan yang tidak menjanjikan bagi kelang­sungan kehidupannya, lalu dirinya pergi ke Jambi ke­tempat kakaknya untuk ikut menolong kakaknya yang kebetulan saat itu menjual barang PMD.

Setelah beberapa lama di Jambi, Ojik memutuskan untuk pulang kampung ke Bukittinggi. Dan pada tahun 2006 dirinya bekerja sebagai pelayan toko di pasar kon­veksi Aur Kuning dengan gaji waktu itu sebesar 600 ribu/sebulan.

Hampir selama 6 tahun Ojik bekerja sebagai pelayan toko (bekerja dengan ju­ragan). Dan pada tahun 20­12 Ojik memutuskan untuk pisah dengan juragannya dengan membuka usaha sendiri yakni berjualan di kaki lima dikawasan Kon­veksi Aur Kuning.

“Alhamdulillah, waktu itu juragan kita orangnya sangat baik sekali. Ketika kita pisah dengan juragan dan membuka usaha sendiri di kaki lima, juragan mau me­ngasih barang kepada kita. Barang yang dimaksud itu yaitu barang konveksi be­rupa pakaian jadi sama kita,” kenang Ojik.

Melihat daya beli yang cukup menjanjikan dan meng­giurkan waktu itu, ma­ka dirinya berkeinginan untuk mengembangkan usa­hanya itu. Hanya berselang lima bulan ojik berjualan di kaki lima, Ojik mem­bera­nikan diri untuk mengambil 1 petak toko di komplek pasar konveksi Aur Kuning.

“Dengan bermodalkan uang sebesar Rp45 juta, kita ambil 1 petak toko yang waktu itu sewanya sebesar Rp25 juta/tahun. Dari sisa uang yang ada tersebut kita belanjakan untuk memenuhi isi toko dengan membeli barang konveksi seperti ga­mis, blus dan kemeja wa­nita.” ujar Ojik.

Dengan ketekunan dan ketabahan dalam mengelola usaha yang dijalankannya itu, ditambah dengan motivasi sang istri, maka usaha yang dijalankan berkembang, dimana  omset dari hasil penjualan terus meningkat. Dan berawal dari situ, Ojik­pun berniat untuk mengem­bangkan sayapnya dengan menambah 1 petak toko lagi di komplek pertokohan Aur Kuning dengan lokasi yang tidak terlalu jauh dari toko yang pertama.

Pada tahun 2014, impi­annya untuk memiliki dua toko terwujud. Ojik yang sebelumnya memiliki 1 pe­tak toko kini sudah me­miliki dua petak toko de­ngan merk toko Zyiee Style dan Delisha Collection.

“Untuk dua petak toko ini kontrakannya berbeda. Untuk Zyiee Style kon­tra­kan­nya sebesar Rp25 Juta, sedangkan untuk Delisha Collection kontrakannya sebesar Rp60 juta/tahun,” jelas Ojik.

Ojik saat ini, tidak hanya memiliki 2 buah petak toko di Komplek pertokohan Pasar Aur Kuning, tapi juga telah memiliki 1 unit Daihatsu Terios dari hasil usaha yang dijalankannya tersebut. ***

 

Laporan :
RUDI GATOT

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]