Pikiran Rakyat Bukittinggi Harus Merdeka


Jumat, 14 Agustus 2015 - 19:30:59 WIB
Pikiran Rakyat Bukittinggi Harus Merdeka

 

Bagi Indonesia bulan ini sangat berarti dalam catatan sejarah panjang berdirinya bangsa yang besar ini. Bagi Bukittinggi, bulan ini juga punya arti khusus , dimana  bulan ini adalah bulan kela­hiran Bung Hatta di kota ini, dan bulan proklamasi sela­ma 70 tahun sudah dipe­ringati. Walaupun setelah 17 Agustus 1945, kata Mer­dekabak sebuah shelter pe­nan­tian ke perjuangan-per­juangan berikutnya. Bu­kit­tinggi juga menjadi pondasi sejarah perjuangan Maha­genting bagi keber­lang­su­ngan Republik ini saat Ope­rasi Gagak diluncurkan Belanda pada desember 1948. Sebelum dan sesudah itu,  perjuangan yang pernah ada di kota ini tidak hanya militer, namun juga per­juangan politis dari kaum terdidik maupun ulama di­zaman itu untuk tidak ber­pikir Minangkabau atau Bukittinggi, tapi Indonesia.

Baca Juga : Elektabilitas Capres Oposisi, Gatot & Rocky Gerung Tertinggi

Pikiran-pikiran jernih yang bisa mengontrol hasrat politis.Setidaknya itu yang teladan yang dicontohkan Buya Hamka.Sebagai ulama, pe­mikir dan sekaligus poli­tisi terbaik yang pernah dimiliki Bangsa ini. Beliau bisa membuat bilik terpisah antara perkara politis diku­rung dalam penjara tanpa peradilan, dengan bilik per­kawanan karena alasan kuat, karena masih melafazkan kalimat syahadatyang sama­dengan Soekarno.

Saat ini, pikiran-pikiran merdeka dan jernih itu yang perlu kita jaga dalam meng­hadapi situasi “mendadak politik” saat ini, hingga beberapa bulan kede­pan. Lima pasang bakal calon pemimpin Bukittinggi se­cara alami akan men­cip­takan beberapa tim sukses. Cara dan metode yang digu­nakan para suksesor tentu berbeda, tergantung tingkat pendidikan, pandangan me­re­ka terhadap harta dan tahta, serta seberapa dekat hatinya dengan san Pen­cipta.Bahkan untuk satu calon, ada beberapa tim sukses yang saling ber­kom­petisi mendapatkan per­hatian sang calon. Di era frag­matis yang me­nye­dih­kan saat ini, adalah sangat wajar, karena kompetisi antar tim sukses dalam satu calon biasanya tidak lebih dari perebutan jasa cetak spanduk, jasa pasang umbul-umbul, jasa pengumpulan ktp dukungan warga, atau yang paling dekat adalah proposal acara 17an. Dari sisi bahasan tim peme­na­ngan saja, masyarakat harus­nya sudah mulai membuka mata pikir melihat gejolak dan hasrat politik yang ber­limpah limpah yang ternyata tak hanya dari sang calon. Sebagai sang juri,  praktis fenomena ini akan ber­dam­pak pada masyarakat, dima­na akhirnya masyarakat yang menjadi tujuan berlapis dari keadaan ini.

Baca Juga : THR Pekerja Wajib Dibayar H-7 Lebaran

Kemerdekaan berpikir bebas untuk mengenal para pasangan calon mesti dijaga dan selalu terbuka.Agar war­ga bisa menilai dengan cerdas, mana calon yang cukup, lu­mayan, atau ter­baik diantara yang ada. Se­jauh ini kita melihat iktikad baik ma­syarakat masih meng­gunakan pikiran sehat dan positif pada kelima ca­lon.­ Hal ini terbukti hampir se­luruh calon yang men­daftar ke KPU diantar oleh ratusan masya­rakat dibe­lakangnya, walaupun bisa jadi mereka belum tau moti­vasi calon yang diantarnya ter­sebut.Ada yang mendaftar karena mera­sa tidak kalah cerdas dari yang sudah men­daftar sebe­lumnya.Ada yang mendaftar mempertaruhkan gengsi di panggung politik saja, dan ada juga yang te­rang-terang mengatakan “ba­ru menge­tahui kalau diutus par­tai” (jualan yang mencoba seperti tidak ter­lihat seperti sedang ber­dagang).Lucu me­mang ka­rena sindrom sele­britas juga melekat pada poli­tisi. Ter­leapas dari itu, sekali lagi ma­syarakat masih mem­perlihatkan antusias yang positif.

Kedepan mungkin perlu ruang diskusi publik antar para calon.Agar para kan­didat dapat saling me­nyam­paikan buah pikir dan ga­gasan konkrit.Diskusi ter­buka membantu masyarakat melihat gelagat, gesture, dan cara pandang calon pe­mim­pinnya. Bagi sang calon, tentu ini juga akan menjadi sebuah ladang amal untuk dapat berinteraksi langsung de­ngan masyarakat, dipuji mau­pun dikritik gaga­san­nya. Berbi­cara tentang ga­ga­san atau buah pikir,  Buya Ham­ka pernah menjelaskan da­lam sebuah tulisan : “Is­lam dan mengerti ilmu ke­pe­mim­pinan serta sehat, se­lain itu seorang pemimpin ju­ga­lah orang yang mau terus me­nerus “memeras kincia-kin­cia akal dan budi” agar mem­bawa kemajuan bagi ma­syarakat yang dipim­pin­nya.

Baca Juga : Tertarik Beasiswa LPDP, Ini Syarat dan Cara Pendaftarannya

Banyak cara lain yang dapat dilakukan agar ma­sya­rakat dan calon pemimpin mereka dapat berinteraksi positif untuk saling menge­nal. Baik melalui media sosial, aksi kerja konkrit dan ber­bagai metode positif yang pastinya sudah disiap­kan para suksesor.Tentu tidak untuk sekedar mem­bagikan flyer profile, baju kampanye gambar foto ca­lon, atau menyelipkan am­plop berisi rupiah disebuah pengajian. Hal ini tentu mempersempit ruang pikir masyarakat, karena tentu masyarkat yang pendek pikir dan realistisnya mun­cul hanya sesaat, akan mera­sa calon yang paling banyak memberi rupiah adalah ca­lon yang baik, care, dan tahu masalah utama setiap orang yaitu uang. Kita berharap semoga semua yang dila­kukanadalah upaya yang mengarah pada ke­mer­de­kaan berpikir.Jika tidak dilakukan dengan cara yang benar, wajar saja masyarakat berpikiran  menganggap semua politisi tidak lebih dari sekedar opera topeng monyet yang bersedia diper­malukan di depan umum. Tentu hal ini sangat tidak adil kan bagi para calon.

Selama beberapa bulan kedepan masyarakat bisa menilai kelima calon ter­sebut yang secara “alamiah” dari”amaliah” para calon. Masyarkat juga harusnya pro aktif melihat gerakan para calon.Sayang sekali jika masyarakat hanya dan mau saja dicekoki dengan peng­kultusan satu calon dengan segudang programnya, serta merendahkan calon lain dengan segudang kele­ma­hannya. Keterbukaan piki­ran masyarakat untuk jangan (terlalu) percaya pada media kampanye sangat ber­pe­nga­ruh pada hasil penafsiran masyaratkat itu sendiri. Bu­daya menelan mentah-men­tah informasi, sugesti atau doktrin dari para suksesor akan membuat pikiran kita semakin sempit. Kadang – kadang hal ini malah memu­dahkan jalan manambah catatan dosa karena gibah dan fitnah. Kompetisi tidak sehat dengan kemampuan silat lidah yang disalah guna­kan akan berkontribusi me­ru­sak mental masyarakat.

Baca Juga : Aa Umbara Tersangka, Hengky Kurniawan Ditunjuk Jadi Plt Bupati

Menghadapi Budaya la­tah “mendadak politik” akan menjamur beberapa bulan kedepan. Dimana semua orang di warung-warung mendadak mengerti dan paham soalan poli­tik. Akun facebook dan twitter akan sibuk saling unjuk gigi kebolehan calon yang me­reka kagumi. Walaupun men­jadi lucu ketika akun sang calon setiap hari me­nerbitkan quote, foto kam­panye, dan secercah tulisan gagasan mereka.  Tapi jika ditanyai tentang suatu hal dalam bentuk pancingan diskusi, tak satupun yang merespon, kecuali ada satu atau dua orang suksesor yang mencoba menjawab seakan paling tau bagaimana pi­kiran calon yang dija­go­kannya. Bahkan tidak jarang, pikiran  si suksesor itu sea­kan jauh lebih cerdas dari sang calon yang diusung. Dinegara berkembang, hal ini biasa terjadi pada calon-calon boneka yang nantinya juga akan disetir pikiran dan kepentingan segelintir tim suksesnya tersebut.

Kita berharap jangan sampai karena hasrat-hasrat politik tuan-tuan yang (men­dadak) mengerti politik ini sampai membuat amai-amai yang jualan cabai dan rem­pah di pasar bawah sa­ling tidak bertegur sapa karena doktin yang  tak sehat. Jangan sampai siswa kelas 2 atau kelas 3 SMA sebagai pemilih pemula si­buk mengetik pesan-pesan kebencian ditwitter. Jangan sampai para pegawai negeri sipil yang hobi minum kopi di lapau saat jam kerja (ala­san kerja tak harus dibalik meja) tidak mau lagi me­neguk seteguk kopi teman sejawatnya hanya karena pilihan politik yang berbeda.

Bukittinggi sedari dulu­nya sudah menjadi kota yang terhormat. Terhormat kare­na alamnya yang tak habis untuk dipuji. Terhormat karena orang-orang besar yang dilahirkan kota ini. Terhormat karena pemi­-kiran-pemikiran cen­dikia­wan yang tengah berada di kota ini dari dulu hingga sekarang. Mari kita jaga itu, Merdeka…! ***

 

MUHAMMAD ARIEF
(Sutradara Film, Mahasiswa Magister Film Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta,
Dan Bagian dari rakyat Bukittinggi)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]