Ratusan Warga Serahkan Oknum Guru ke Polisi


Senin, 17 Agustus 2015 - 19:03:06 WIB
Ratusan Warga Serahkan Oknum Guru ke Polisi

Informasi yang di­pe­roleh menyebutkan, peris­tiwa tersebut terbongkar karena orangtua korban merasa curiga dengan peru­ba­han dan keanehan ter­hadap putrinya, sehingga mendesak korban untuk menceritakan apa yang telah terjadi. Ternyata dari penga­kuan Melati membuat ter­kejut orangtuanya, karena oknum guru tersebut diduga mencabuli Melati kelas 2 SDN 07 Kampung Pinang, di dalam WC sekolah.

Baca Juga : Dukung Kemajuan Olahraga, Pemko Padang Bakal Bangun Stadion Sepak Bola Bertaraf Internasional

Kejadian itu berawal Melati mengeluh kesakitan di kemaluannya selama tiga hari dan tidak mau pergi ke sekolah, sehingga orangtua korban merasa curiga dan dibawa ke Puskesmas Bung­us Timur. Setelah dilakukan pemeriksaan, menunjukkan hasil adanya luka robek di bagian kemaluan korban.

Orangtua korban men­desak putrinya untuk men­ceri­ta­kan apa yang terjadi. Setelah itu, orangtua Melati langsung melaporkan per­buatan tersebut kepada pi­hak sekolah, namun laporan itu tidak ditanggapi pihak sekolah. Sehingga orangtua korban melaporkan pe­ris­ti­wa yang menimpa anaknya ke Polresta Padang se­ming­gu yang lalu. Kemudian pihak polisi mengantarkan korban ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sumbar untuk di visum.

Baca Juga : Pemko Padang Gelar Ujian Dinas dan Ujian Penyesuaian Ijazah Bagi 150 PNS

Karena tidak ada ta­nga­pan, kemarahan warga pun memuncak pada Sabtu (15/8) sekitar pukul 10.00 WIB, dengan hasil visum yang dikeluarkan Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sumbar menuju sekolah tersebut. Kemarahan yang telah me­m­beludak langsung mem­bawa A dari sekolah menuju Polresta Padang untuk di­beri hukuman yang setimpal karena perbuatannya.

Sejak kejadian itu, Melati mengalami trauma yang he­bat,  takut melihat wajah guru cabul itu dan tidak mau se­ko­lah lagi. Setelah dibujuk su­pa­ya ke sekolah, akhirnya ber­sedia sekolah lagi dengan sya­rat didampingi orang­tuanya.

Baca Juga : Jelang Ramadan 1442 H, ACT Lakukan Gerakan Kebaikan Tanpa Batas

Salah seorang keluarga korban, Ujang (45) menga­takan, ia baru mengetahui setelah hasil visum keluar dari Rumah Sakit Bha­yang­kara Polda Sumbar bahwa di kemaluan Melati me­nga­lami luka robek. Kemudian ia pun bersama warga lainya mencari oknum guru ter­sebut mengajar berhasil diamankan dan langsung dibawa ke Polresta Padang dengan membawa korban dan hasil visum yang di­dapat dari rumah sakit.

“Korban telah di­per­laku­kan tidak senonoh oleh gurunya. Sejak peristiwa itu, dia tidak mau lagi datang ke sekolah. Setelah di­bu­juk, korban mau sekolah kalau didampingi oleh orang­tua­nya,” katanya.

Baca Juga : Pasar Murah di Padang, Banyak Diskon yang Ditawarkan

Dikatakan Ujang, se­be­lum menyerbu ke sekolah untuk menuntut dan me­minta klarifikasi dari oknum guru yang telah berbuat itu. Sebelumnya pihak keluarga telah melaporkan pada pi­hak sekolah, namun penga­duan orang tua korban tidak di­tinda­klanjuti pihak sekolah.

Ketua Pemuda Bungus Timur, David (29) men­ye­butkan, ketika itu keluarga korban hanya bermaksud meminta keterangan ke pi­hak SDN 07, namun ratu­san warga yang ada di lo­kasi ikut bergabung. Mung­kin ini wujud solidaritas sesama warga Bungus dan  peristiwa ini baru pertama kali terjadi di Bungus.

Dikatakannya, ia tidak menyangka kenapa seorang guru yang mendidik siswa di sekolah bisa berbuat de­mi­kian. Dia berharap kasus ini diselidiki sampai tuntas dan transparan, karena ini men­coreng muka daerah Bung­gus Timur, pihak keluarga dan guru di Kota Padang.

“Kami berharap kepada pihak kepolisian, kalau be­nar oknum guru itu ber­salah, harus dihukum de­ngan apa yang dibuatnya. Kami akan monitor terus kasus ini, sampai benar tuntas dan kasunya sudah sampai di KPAI Kota Pa­dang,” jelasnya.

Sementara itu, pe­nu­tu­ran Kepala Sekolah SDN 07 di Polresta Padang, Gustina Dwi Putri (48) membantah telah adanya laporan dari pihak keluarga. Ia tidak tahu apa permasalahan yang ter­jadi, karena ia melihat kel­a­kukan A baik-baik saja dan mendapat laporan A dibawa ratusan masyarakat ke Pol­resta Padang dalam kasus dugaan pen­ca­bu­lan, sehingga ia pun langsung menuju ke Polresta Padang.

“Pihak sekolah sama sekali tidak menerima dan mengetahui adanya laporan terkait peristiwa tersebut. Saya memang tidak tau pasti apa yang terjadi saat warga datang menjemput A. Saya baru tahu kasus pencabulan sesampai saya di sini (Pol­resta Padang,red) dan me­ma­ng A hanya satu-satunya guru lelaki yang berada di sekolah tersebut,” kata Gustina.

Sementara itu, Ka­pol­resta Padang Kombes Pol Wisnu Andayana melalui Kasat Res­krim AKP Abdus Syukur menyebutkan, pi­hak­nya me­nga­mankan ters­ang­ka setelah mendapat informasi adanya aksi warga Bungus ke SDN 07 Kam­pung Pinang, yang ber­mak­sud memintai klarifikasi terhadap kasus pencabulan yang dialami salah seorang murid, di mana pelakunya diduga oknum guru yang mengajar di se­kolah ter­se­but. Saat itu, tersangka nya­ris dihakimi warga yang ama­rahnya telah memuncak.

Tersangka sudah di­ama­n­kan di Polresta Padang dan telah dimintai keterangan. Namun saat ditanyai pen­yidik, A berdalih dan masih bungkam. “Kita akan usut tuntas kasus ini,” ujar Abdus kepada wartawan.

Dikatakannya, jika ok­num guru tersebut terbukti bersalah akan dijerat Pasal 76 e jo pasal 82 UU RI No. 35 tahun 2014 perubahan UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. (h/mg-isq)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]