Puja Amelia: Mama Tak Lama di Papua


Selasa, 18 Agustus 2015 - 19:22:58 WIB
Puja Amelia: Mama Tak Lama di Papua

Kontak terakhir Ar­ma­ita dengan anak bungsu­nya Puji Amelia di Calau Bayang berlangsung pada Minggu (16/8) sore. Komunikasi terakhir itu kemudian men­jadi kenangan yang tidak mungkin terlupakan Puji. Meski pembicaraan korban dengan Puji berlangsung singkat, namun kata demi kata yang diucapkan korban meninggalkan bekas teramat dalam.

Baca Juga : Iedul Fithri: Geliat Ekonomi, Momentum Keluar Resesi

Puji dengan berurai air mata kepada Haluan Selasa (18/8) di rumahnya di Calau menyebutkan, pembicaraan terakhir bersama ibunya berlangsung sore dan sing­kat.  Dari tiga adik kakak hanya Puji pulalah yang sempat ber­komunikasi dengan ibunya.

“Saat itu mama menyebutkan, beliau tidak akan lama berada di Papua. Bila telah berjumpa papa, maka mama segera pulang. Atau setidaknya mama pulang jelang Lebaran Haji,” katanya.

Baca Juga : Pembangunan dan Keadilan bagi Padagang Kaki Lima

Sebelum menutup telepon menurut Puji, korban berpesan untuk menjaga nenek dan kake­k­nya dengan baik. Nenek Puji yang bernama Rostilan (75) meru­pakan penderita tunanetra, se­men­tara kakeknya Basri (80) kondisinya juga sudah lemah. “Mama meminta untuk menjaga nenek dan kakek dengan baik. Kami tinggal bersama keduannya menjelang mama dan papa pu­lang,” kata gadis jolong gadang itu sembari menyeka air mata.

Menurut Puji, sebelum kor­ban berangkat ia sempat menga­badi­kan ibunya tersebut dengan kamera telepon genggam. “Mama tampak cantik dan anggun saat akan berangkat. Beliau mengena­kan rok, baju kurung dan hijab biru. Saya tidak menyangka saat itu adalah kesempatan terakhir menyaksikan mama dengan pe­nampilan terindahnya,” katanya.

Selanjutnya Rostilan ibu dari Armaita menyebutkan, beberapa jam menjelang dapat kabar soal jatuhnya pesawat Trigana, ia sudah mendapat firasat. “Men­jelang dapat kabar duka itu te­linga saya terasa mendenging. Ketika itu saya menyadari akan ada berita buruk yang segera didengarnya,” katanya.

Firasat Rostilan rupanya tidak meleset. Pada Minggu malam kejadian tersebut menantunya Muslim mengabari bahwa ada laporan pesawat Trigana yang mengangkut Armaita mengalami kecelakaan. “Muslim menga­bar­kan nomor HP Armaita tidak lagi bisa dikontak. Kakak-kakaknya juga mencoba menghubungi Ar­maita namun juga tidak bisa dihubungi,” katanya.

Selanjutnya, Almasrial (40) kakak korban menyebutkan, Armaita sebelumnya juga telah pernah pergi ke Papua. “Jadi kami memang tidak khawatir dengan kepergian adik kami ini ke Papua. Apalagi di sana suaminya telah menunggu. Suaminya sudah enam bulan berada di sana. Se­be­lum ke Papua Suaminya adalah TPK pada Program PNPM-MP di Bayang Utara, karena kegiatan PNPM - MP berakhir Desember 2014 lalu maka Muslim be­rangkat ke Papua,” katanya.

Camat Bayang Utara Asril Pitir menyebutkan, korban dan suami korban adalah warga yang aktif dalam organisasi di kam­pung nagari salah satunya adalah TPK PNPM-MP. Kedua-duanya adalah asset nagari Puluik -Puluik Selatan.

54 Korban Tewas

Dari lokasi kejadian, BBC melaporkan bahwa Tim SAR telah menemukan 54 jenazah di lokasi jatuhnya pesawat ATR 42-300 twin-turboprop milik mas­kapai Trigana Air di Pegunungan Bintang Papua, Provinsi Papua.

“Saat ini ditemukan 54 je­nazah dalam kondisi tidak utuh dan sebagian hangus,” kata Ke­pala Badan SAR Nasional, Bam­bang Soelistyo kepada wartawan di Sen­tani, Jayapura, Papua, Selasa (18/08) pagi.

Kini, menurut Bambang, pi­hak­nya sedang menyiapkan pro­ses evakuasi terhadap semua jenazah yang ditemukan, tetapi belum diputuskan akan di­eva­kuasi kemana.

“Tergantung hasil negosiasi kita dengan keluarga korban, apakah jenazahnya akan dibawa ke Oksibil atau Jayapura. Kita harus dengarkan dulu keinginan ke­luarga korban,” ungkap Bambang.

Selain itu, “Kita siapkan pula opsi untuk mengundang tim DVI Mabes Polri ke lokasi kejadian,” ungkapnya. Ditanya tentang cara me­nge­vakuasi jenazah korban dari lo­kasi jatuhnya pesawat, Bambang mengatakan, pihaknya telah men­yiap­kan tiga alternatif.

“Ada tiga alternatif. Pertama, kita akan menggunakan jaring (net); kedua, melalui jalan darat; atau ketiga, membangun helipad,” jelas Bambang. Tim SAR ke­mung­kinan besar akan meng­gu­nakan jaring untuk mengevakuasi korban.

Menurutnya, cara yang paling masuk akal adalah menggunakan jaring. “Kalau membangun heli­pad, rasanya susah, karena ini hutan lebat dan lokasinya mi­ring,” jelasnya.  Sebelumnya, pada Senin (17/08), Badan SAR Na­sional telah memastikanlokasi temuan ser­pihan pesawat milik Trigana Air yang jatuh dalam penerbangan dari Jayapura menuju Oksibil di di Pegunungan Bintang Papua. ***

 

Laporan:
HARIDMAN KAMBANG

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]