Mengajarkan Kejujuran pada Anak


Rabu, 19 Agustus 2015 - 19:30:19 WIB
Mengajarkan Kejujuran pada Anak

Batita adalah peng­kha­yal. Anak umur 2 dan 3 tahun hidup dalam dunia imajinasi, dan fantasi mere­ka tampak sangat hidup dan nyata –sehingga mereka sa­ngat mempercayainya. Seo­rang anak yang terobsesi dengan anjing, mengatakan kepada seseorang di tempat penitipan anak bahwa dia mempunyai seekor anak anjing, padahal tidak benar. Dia betul-betul menyakin­kan dirinya sendiri bahwa itu benar adanya.

Baca Juga : Resep Lauk Tahan Lama, Bisa untuk Sahur dan Buka Puasa

Mereka menyenangkan hati orang. Ya, batita berbo­hong untuk menghindari hukuman, tapi mereka me­lakukan itu juga karena kha­watir tentang apa yang akan Anda rasakan (“Mama baha­gia jika saya baik - apakah mama akan kurang menci­ntaiku kalau mendapatiku berbuat hal yang tidak baik?”). Dalam kasus Jack yang membantah mencoret rumah boneka milik kakak­nya, “Saya sangat yakin kalau dia berbohong karena tidak suka kakak perempuannya marah padanya –dan dia memang marah!” kata ibu­nya, Rachel.

Berkata Jujur

Baca Juga : Sebentar Lagi Puasa, Ini Doa Menyambut Bulan Ramadan yang Diamalkan Rasulullah SAW

Untungnya, ada bebe­rapa cara untuk mendapat­kan jawaban jujur di luar imajinasi batita Anda. Cara ini dapat mendorongnya untuk lebih berterus terang di masa mendatang.

Jangan bertindak berlebihan.

Baca Juga : Scooter Fan's Club Padang Gelar Khitanan Massal dan Donor Darah

Menghukum anak se­umur ini karena berbohong tidak akan menolong apa­pun, kerena mereka tidak menyadari kalau telah mela­kukan hal yang salah, kata Betsy Brown Braun, penulis buku Just Tell Me What You Say: Sensible Tips and Scripts for Perlexed Parents. Kalau Anda bersikap terlalu keras, anak Anda mungkin akan takut mengakui kesala­han­nya di masa mendatang. Lebih baik biarkan dia me­ngakui dirinya tidak meme­cahkan mainan kakaknya, padahal dialah yang secara jelas melakukannya. Kemu­dian berbicaralah kepadanya betapa pentingnya meng­hormati barang milik orang lain.

Jangan bertanya kalau Anda sudah tahu jawabannya.

Baca Juga : Bunda, Ini Cara Cari Lokasi Suami Lewat WhatsApp

Bertanya, “Siapa yang menumpahkan jus ini?” ke­tika anak Anda adalah pela­ku­nya hanya akan menem­patkannya pada posisi untuk berbohong. Tapi susunlah pertanyaan dengan tenang, cara ingin tahu (seperti:  “O, ada jus tumpah di atas meja, siapa yang akan mem­ban­tuku membersihkannya?”) akan membuat anak lebih mudah berterus terang dan mengakui perbuatannya.

Jelaskan mengapa kejujuran itu penting

Meskipun anak Anda tidak bisa menerangkan perbedaan antara kebenaran dan kebohongan, tidak ber­arti Anda mengabaikan ke­bo­hongan yang diucap­kan­nya suatu ketika.  Jika ba­tita Anda tidak mengakui telah menyentuh tempat kue, padahal ada sisa kue dibibirnya, misalnya, jelas­kan padanya bahwa Anda lebih peduli dengan jawaban jujur daripada memper­soalkan kue yang hilang.

Bicarakan perbedaan fantasi dengan kenyataan

Anda tentu tidak ingin memadamkan imajinasi anak, khususnya sejak anak Anda sering menggunakan cerita-cerita aneh untuk mengatasi kekhawatiran dan ketakutan. Tapi kalau batita tetap bersikeras mengatakan seekor singa yang bertang­gung jawab membuat robek celanan barunya, tunjukkan padanya nada skeptis Anda, “Cerita yang luar biasa! Pasti sangat menakutkan. Saya belum pernah melihat se­ekor singa pun dalam ling­kungan kita. Apa kamu yakin itu yang terjadi?”

Pujilah anak karena telah jujur.

Ketika anak datang kepa­da Anda dengan pengakuan – misalnya, telah menonton televisi yang seharusnya tidak boleh di lakukan -  puji kejujurannya sebelum me­ngi­ngatkan batasan waktu menonton. Ketika batita Anda menyadari pentingnya kejujuran (dan merasa aman mengakui kesalahannya), dia akan terbiasa mengata­kan kebenaran. (h/prt)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]