Cinta Kami Bertaut dan Berpisah di Tanah Papua


Rabu, 19 Agustus 2015 - 20:13:27 WIB
Cinta Kami Bertaut dan Berpisah di Tanah Papua

Rabu (19/8), Darma­yenti kepada Haluan me­ngung­kapkan sepenggal kisah perjuangan hidupnya. Ia sebetulnya sudah semen­jak gadis jolong gadang be­rangkat ke Papua dan di sana bersama mamak. Pahitnya penghidupan di kampung asalnya Calau Puluik Puluik membawa nasib sampai ke negeri ujung timur In­do­nesia itu.

Baca Juga : Investasi Tumbuh, Indonesia Maju

“Motivasi saya merantau ketika itu ingin merubah hidup. Soalnya di kampung semuanya serba sulit dan terbatas. Di Jayapura saya memulai usaha rumah ma­kan, dan usaha itu berkem­bang cukup baik,” katanya.

Kemudian sekitar 16 tahun lalu di Tanah Papua Darmayenti berjumpa se­orang pamuda yang berasal dari kampungnya sendiri. Pemuda tampan itu bernama Epiardi dan kemudian keduanya bersepakat untuk membangun mahligai ru­mah tangga. “Ya, jauh - jauh merantau ke negeri orang namun tetap ber­jodoh dengan pria se kampung. Pernikahan berlang­sung di kam­pung halaman,” ka­tanya.

Baca Juga : Kenangan Bersama Bang Rusdi Lubis

Dari pernikahan itu pasangan tersebut di karuniai empat orang anak. Pertama Rido Ardianto (15), M. Putera (10), Silvia (5) dan Nindia Putera (1). Tanah Papua tetap saja menjadi harapan bagi keluarga ini untuk mengais rezeki.

Tahun 2014 lalu Darmayenti atas izin suaminya memutuskan untuk menetap di kampung, karena di Sawah Laweh keduanya sudah membangun rumah. Ren­cana pulang kampung ini sebe­tulnya sudah mereka konsep sejak lama dengan tujuan anak-anak mereka dapat bersekolah dan mengaji dengan baik di kampung.

“Maka pasca melahirkan anak terakhir, saya bersama tiga anak lainnya tinggal di kampung hala­man. Hanya Uda saja yang men­cari nafkah di Papua. Lalu men­jelang Lebaran 1436 H kemarin Uda pulang untuk merayakan Idul Fitri, kami merasakan keba­hagiaan itu,” katanya.

Senin (10/8) menurut Darma­yenti, suaminya hendak berangkat kembali ke Papua. Ia menyak­sikan suaminya itu terlihat enggan untuk balik ke Papua. “Kala itu si bungsu dipeluknya erat-erat dan kemudian menatapnya da­lam sekali,” katanya.

Dikisahkannya, saat mau be­rangkat itu, Epiardi kepada Dar­mayenti mengaku kakinya terasa berat untuk melangkah namun apadaya pekerjaan di Papua sudah menunggu.Sabtu (15/8) malam, Darmayenti terakhir kali ber­komunikasi dengan Epiardi. Di ujung telephon, suaminya itu berpesan agar menjaga anak-anaknya dengan baik.

Kemudian Minggu (16/8) dia menerima kabar dari mamaknya di Oksibil Jayapura pesawat yang ditumpangi Epiardi mengalami kecelakaan. Dunia kemudian merasa berguncang hebat. “Tanah Papua tempat kami bertemu, dan tanah papua pula yang memi­sahkan,” katanya.

Korban lainnya adalah Ar­maita warga Calau Bayang Utara. Maksud hati Armaita datang ke Tanah Papua untuk berjumpa dengan suami Muslim (40) yang telah enam bulan berada di Ok­sibil Jayapura, namun takdir bekehendak lain, Armaita menga­lami kejadian nahas bersama pesawat yang ditumpanginya.

Armaita meninggalkan tiga orang anak masing-masing Mar­tisa Fitri (20), Yulia Ningsih (18) dan Puja Amelia (14). Korban berangkat dari Bayang Senin (10/8) bersama menantu kakaknya Epiardi (yang juga korban) me­nuju Bandara Internasional Mi­nang Kabau menuju Papua me­numpang Lion Air. Di Jaya Pura Armaita sudah ditunggu sanak famili untuk selanjutnya me­nunggu pesawat selama lima hari ke depan.

Kontak terakhir Armaita de­ngan anak bungsunya Puji Amelia di Calau Bayang berlangsung pada Minggu (16/8) sore. Ko­munikasi terakhir itu kemudian menjadi kenangan yang tidak mungkin terlupakan Puji. Meski pembicaraan korban dengan Puji berlangsung singkat, namun kata demi kata yang di ucapkan korban meninggalkan bekas teramat dalam.

Puji dengan mata berurai air mata kepada Haluan Selasa (18/8) di rumahnya di Calau menye­butkan, pembicaraan terakhir bersama ibunya berlangsung sore dan singkat. Dari tiga adik kakak hanya Puji pulalah yang sempat berkomunikasi dengan ibunya.

“Saat itu mama menyebutkan, beliau tidak akan lama berada di Papua. Bila telah berjumpa papa, maka mama segera pulang. Atau setidaknya mama pulang jelang Lebaran Haji,” katanya. (*)

 

Laporan :
HARIDMAN KAMBANG

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]