Psikologis dan Penanaman Nilai Karakter pada Novel “Rumah di Tengah Sawah”


Jumat, 21 Agustus 2015 - 17:34:55 WIB
Psikologis dan Penanaman Nilai Karakter pada Novel “Rumah di Tengah Sawah”

Pada novel Rumah di Tengah Sawah terdapat be­be­rapa perbedaan watak dan karakter tokoh-tokohnya. Dalam novel ini perwatakan tokoh ditulis oleh pengarang novel ini Muhammad Sub­han dengan bahasa yang ringan. Penggambaran wa­tak tokoh dapat dilihat seca­ra langsung dengan mem­baca kata-kata yang disam­paikan oleh tokoh dalam novel ini. Sedangkan peng­gam­baran secara tidak lang­sung dapat dilihat dari gam­baran fisik tokoh dalam cerita, pembentukan karak­ter seorang anak dimulai dari lingkungan terdekat yaitu keluarga.

Baca Juga : Duh! Ayu Ting Ting Sungkeman, Netizen Nyinyir soal Penampilan Sang Ibunda

Muhammad Subhan sa­lah seorang penulis yang kreatif dan produktif. Ber­bagai tulisan sudah dibuat­nya dan dimuat di berbagai media cetak. Materi penu­lisan pengarang ini cukup banyak berupa berita, arti­kel, esai, puisi, cerpen dan novel menunjukkan bahwa kepiawaian menulisnya ti­dak diragukan lagi. Setelah terbit novel best seller seperti novel Rinai Kabut Singga­lang (2011) dan kini lahir novel berikutnya, Rumah di Tengah Sawah (2015).

Novel ini menceritakan tentang Agam yang dibe­sarkan di sebuah kampung yang nyaman. Agam mem­punyai sahabat dekat yaitu Bondan. Agam suka ber­main layangan, mancing belut di sawah, memanjat batang jambu klutuk, dan permainan lainnya di desa Tembung, Medan.

Baca Juga : Lirik Lagu Sofia yang Sedang Viral di TikTok

Agam dan Bondan bersa­habat. Keduanya memiliki kemauan keras untuk seko­lah. Agam dan Bondan me­ru­pakan salah satu contoh anak yang santun. Sikap mereka mencerminkan pri­badi yang hormat pada orang­­tua. Mereka mem­pu­nyai semangat tinggi untuk mencapai cita-cita. Mereka tidak malu berjualan tebu di sekolah, dan uang yang di­dapat dipergunakan untuk keperluan sekolah dan mem­beli kebutuhan sehari-hari.

Penanaman nilai-nilai pada novel ini sangat me­narik untuk dijadikan se­bagai renungan bagi kita (pembaca). Nilai moral sangat  menonjol dalam novel ini. Kalau sekarang digadang-gadangkan tentang nilai karakter, maka dalam novel ini sudah menun­juk­kan nilai karakter yang baik. Perpaduan dua karakter yang berbeda dan saling mengisi.

Novel best seller yang berangkat dari kisah nyata menampilkan sosok anak miskin merupakan trend novel saat ini. Kisah nyata dari tokoh terkenal banyak  berasal dari keluarga seder­hana. Pada saat ini ada bebe­rapa tokoh menjadi orang terkenal dan sukses. Kalau kita membaca kisah hidup Ikal, Dahlan, Alif pada no­vel Laskar Pelangi, Sepatu Dahlan, Negeri 5 Menara merupakan contoh karya yang mengetuk hati pem­bacanya. Mereka adalah tokoh-tokoh sejak kecil hi­dup dalam kemiskinan.

“Hidup ini keras, kamu harus berjuang sendiri.” Pesan orangtua dalam se­buah novel, senantiasa pe­micu semangat seorang anak untuk gigih merajut asa dan menggapai cita-citanya.

Novel Rumah di Tengah Sawah sebuah harapan to­koh­nya yang sederhana. Agam bahkan tidak mempu­nyai cita-cita yang pasti seperti halnya sahabatnya, Bondan. Sahabatnya itu walau­pun kehidupan dalam keterbatasan dia ingin jadi dokter. Hal ini menun­juk­kan pada kita bahwa walau­pun tinggal di rumah di tengah sawah tidak  meng­halangi semangat anak bang­sa tersebut.

Sebuah peristiwa yang memilukan ketika rumah mereka kena gusur. Dengan sikap berani anak laki-laki itu menentang yang berbuat bathil pada mereka. Dengan lantang Bondan mengatakan kepada aparat yang meng­gusur rumah di tengah sa­wah, “Tunggu saya nanti kalau sudah besar akan mem­balas sikap kalian...” Sebuah intimidasi, keta­makan, keegoisan dan keti­dak­pedulian, anak kecil saja sudah mampu berontak, bagaimana dengan kita?

Tinjauan psikologis tokoh dalam novel Rumah di Tengah Sawah:

1) Agam seorang anak kelas lima Sekolah Dasar sudah menyaksikan sebuah peristiwa pertengkaran Ibu dan Bapaknya di saat dia kecil. Hal tersebut masih membekas dalam dirinya, hal ini menyebabkan dia menjadi pribadi yang pena­kut dan kurang percaya diri.

2) Ibunya seorang wanita yang ingin membantu men­cari tambahan  nafkah dalam keluarga. Tetapi menjadi tidak berani lagi berusaha karena pernah bos tempat dia bekerja ingin menja­dikan dia sebagai istrinya.

3) Bapak Agam tidak bisa berbuat apa-apa di negeri orang. Dia mem­biarkan dirinya dituntut oleh orang lain padahal Bapaknya Agam  bisa membela diri.

4) Bondan sebagai sosok yang pemberani karena ke­luarga hidup keras mengum­pulkan barang bekas.

Kita dapat menarik be­nang merah pada masyarakat sekarang ini adalah per­soalan hidup manusia yang paling banyak mendapatkan tekanan adalah kaum mis­kin. Mereka selalu dibuat aturan atau undang-undang yang cenderung merugikan masyarkat kelas bawah.

Dalam Novel Rumah di Tengah Sawah diceritakan tentang sebuah pemukiman yang tergusur karena sikap egois oknum. Dengan alasan rumah mereka tidak ada IMB adalah alasan yang dicari-cari. Yang sebenarnya mereka ingin mengusir si miskin adalah untuk me­nam­bah kantong-kantong keka­yaan untuk mendirikan Mall atau Plaza buat orang kaya.

Siapa yang bertanggung jawab dalam masalah ini? Sebuah dilema yang perlu dicari solusinya. Hanya de­ngan mata hati yang bisa menjawabnya. Bagi yang ingin mendapatkan keda­maian jiwa “Rumah di Te­ngah Sawah” pelabuhan ter­akhirnya. (*)

 

Dra. LILI ASNITA
(Guru SMA Negeri 4 Bukittinggi, Penulis Novel “Mengukir Cinta”)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]