Aset Lokal Berskala Global


Jumat, 21 Agustus 2015 - 17:44:20 WIB
Aset Lokal Berskala Global

Aset lokal berskala glo­bal, itulah salah satu idiom yang menempel pada sosok Zul Ifkar Rahim dimata para ahli tata kota di Pulau Sumatera, Jawa, bahkan di Pulau Borneo Kalimantan sekalianpun.

Baca Juga : Politik dan Etika Berkelindan dalam Pengisian Jabatan Wawako Padang

Di mata rekan sepro­fesinya, pria kelahiran Bu­kit­tinggi 10 Januari 1958 ini juga dikenal sangat keras dalam memperjuangkan pe­ren­canaan kota untuk ke­pen­tingan masyarakat ba­nyak, dan selalu menentang kebijakan yang hanya ber­sandar pada kepentingan pribadi atau sekelompok orang tertentu.

Sejak 1978 hingga 2003, Ifkar mulai bekerja di Ke­menterian PU, dan men­dapat tugas belajar di Kota Bandung dalam meraih ge­lar sarjana planologi. Dalam kurun waktu itu juga, Ifkar sempat dipindahtugaskan ke Departemen Transmigrasi Jakarta. Selama waktu ter­sebut, Ifkar ikut memberi kontribusi dalam penyu­sunan tata kota, desa hingga kawasan transmigrasi di ber­bagai daerah di In­donesia.

Baca Juga : Jangan Terlalu Bersedih Jika Kamu Dihinakan

Selama berkeliling nu­santara untuk membuat pe­rencanaan transmigrasi, If­kar menilai hanya Kota Bu­kit­tinggi yang paling top. Selain memiliki hawa sejuk, Kota Bukittinggi juga memi­liki banyak cagar budaya dan objek wisata yang memiliki magnet besar untuk menarik pengunjung wisata domestik dan mancanegara, serta in­ves­tor mancanegara sekali­pun. Namun sayangnya, po­tensi itu kurang terkelola dengan baik.

Tapi setidaknya Ifkar me­miliki konsep yang ma­tang untuk mengembangkan po­ten­si itu, dan akan di­aplikasikan jika nanti terpi­lih memimpin Kota Bu­kittinggi.

Baca Juga : Mengapa Isu Presiden 3 Periode Kembali Berhembus?

Beberapa kriteria dan segudang gagasan cerdas yang dimiliki Ifkar ini mem­buat calon walikota Bukit­tinggi Febby Dt Bangso ak­hirnya kepincut dan me­minang Ifkar sebagai calon wakil walikota pendam­pingnya.

Ifkar yang juga meru­pakan seorang pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemko Bukit­tinggi, sangat mengetahui persis seperti apa perma­salahan dan solusi untuk Kota Bukittinggi.

Baca Juga : Perang Inovasi dalam Era Disrupsi

Basicnya sebagai se­orang ahli tata kota mem­buat dirinya selalu diminta banyak pemerintah daerah untuk membuat peren­cana­an tata kota. Menurutnya, menata perkotaan tidaklah sesulit yang dibayangkan, selagi pemerintah setempat mau untuk mengubah kota­nya menjadi lebih baik, serta mentaati segala peraturan dan prosedur yang berlaku.

Berbagai program pena­taan kota telah disusunnya secara rapi, dan akan dija­lan­kannya jika dirinya ber­sama Febby dipercaya mas­ya­rakat untuk memimpin Kota Bukittinggi. Perma­salahan klasik Bukittinggi seperti perparkiran, kema­cetan, air bersih, kebersihan, dan peningkatan kenya­ma­nan masyarakat akan menjadi prioritas utama bagi Ifkar dalam menata Kota Bukittinggi menuju lebih baik lagi.

Sewaktu Ifkar bertugas di Dishub Bukittinggi dan ketika mengabdi di Dinas PU Bukittinggi, Ifkar telah memiliki rencana penataan kota di Bukittinggi, dengan melibatkan pakar lainnya dari Bogor. Bahkan waktu itu, Ifkar bisa mendatangkan ahli lainnya secara sukarela ke Bukittinggi untuk mem­bantu membangun Kota Bu­kittinggi.

Jika pasangan Febby-Ifkar memimpin Kota Bu­kittinggi, diyakini per­masa­lahan tata Kota Bukittinggi bisa teratasi dengan baik, dan berkemungkinan besar bisa mendongkrak jumlah wisa­tawan yang akan berkunjung ke Bukittinggi.

Jauh sebelum menjadi kandidat calon wakil wali­kota Bukittinggi, Ifkar juga memiliki banyak gagasan jenius bagi pengembangan perkotaan Bukittinggi yang berbasis kearifan lokal dan ramah lingkungan. Namun sayangnya, gagasan yang selalu diajukan selalu kan­das di tingkat elit peme­rintah Kota Bukittinggi.

Salah satu gagasan yang sering mengapung di media waktu itu adalah mendisain kawasan pedisterian (pe­jalan kaki) di kawasan Jam Gadang, Jalan Minangkabau hingga tugu Bung Hatta. Menurutnya, kawasan itu harus diciptakan benar-be­nar menjadi kawasan nya­man dan aman dan menjadi kawasan no way for car. Na­mun sayangnya gagasan itu kurang mendapat duku­ngan dari pemerintah daerah.

“Untuk kawasan Jam Gadang, ini adalah kawasan heritage (warisan bernilai sejarah) yang harus kita restorasi (pemulihan) kepa­da hal ihwal yang original. Ditilik dari ilmu tanah (soil), yang harus ada adalah resa­pan. Tanpa adanya re­sapan, maka tanah akan kehilangan daya rekat. Bila tanah kehilangan daya rekat, bila terjadi gempa, ia akan gampang terurai (longsor). Pada kawasan Jam Gadang, yang harus kita perhatikan, ya soal resapan itu tadi. Kita tak ingin akibat kritis daya rekat, kebanggaan kita pada dentang Jam Gadang menjadi sunyi dan runtuh,” tutur Ifkar.

Tapi paling tidak, ada satu gagasan jenius Ifkar yang cukup mengharumkan nama Kota Bukittinggi dan membuat Kota Bukittinggi menjadi salah satu Kota Percontohan Transportasi. Awalnya, aplikasi gagasan Ifkar berjalan mulus dan membuat Kota Bukittinggi dipercaya pemerintah pusat menjadi Kota Percontohan Transportasi.

Namun di tengah per­jalanan, konsep awal yang ditawarkan Ifkar ternyata tidak sepenuh hati dija­lankan pemerintah daerah, sehingga membuat trans­portasi di Kota Bukittinggi kembali semrawut. Meski sempat kecewa, namun Ifkar tetap optimis suatu saat gagasan dirinya bisa menjadi solusi konkrit sistem trans­portasi di Kota Bukittinggi. ***

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]