1.500 Warga Puluik Puluik Pesisir Selatan Merantau ke Papua


Jumat, 21 Agustus 2015 - 20:10:02 WIB
1.500 Warga Puluik Puluik Pesisir Selatan Merantau ke Papua

Telisik punya telisik ru­pa­nya, Papua merupakan wilayah tujuan merantau bagi warga Puluik Puluik. Berdasar­kan data Kecamatan Bayang Utara jumlah warga Puluik Pu­luik yang merantau ke Tanah Papua melebihi separuh jumlah penduduk di nagari tersebut.

Baca Juga : Iedul Fithri: Geliat Ekonomi, Momentum Keluar Resesi

Asril Pitir Camat Bayang Utara menyebutkan, berdasarkan pen­dataan baru-baru ini terhadap penduduk di kecamatan yang berbatasan dengan Alahan Pan­jang Solok itu, rupanya jumlah warga yang merantau ke Papua mencapai 1.500 orang. Bila dita­nyai dari rumah ke rumah maka penghuni rumah menyebutkan sebagian anggota keluarga di Papua.

“Biasanya yang menetap di kampung adalah para orang tua, anak usia sekolah. Jarang dite­mukan anak lulusan SMA di rumah penduduk karena telah pergi me­rantau ke Papua,” katanya.

Baca Juga : Pembangunan dan Keadilan bagi Padagang Kaki Lima

Selanjutnya Akmal Bucok ( 58 ) salah seorang perantau Papua menyebutkan, merantau sudah menjadi kebiasaan bagi warga Puluik Puluik. Ada beberapa hal yang membuat warga di sini suka merantau, misalnya sempitnya lapangan kerja di Puluik Puluik. Lahan pertanian terbatas semen­tara jumlah penduduk besar. Ke­dua, sebetulnya topografi wilayah yang menjadi tujuan merantau di Papua ada kemiripan dengan sejumlah kampung di Puluik Puluik, misalnya Kam­puang Ca­lau yang berada di perbukitan.

Mereka tersebar di beberapa wilayah yang topografinya mirip dengan Calau misalnya Jaya Pura, Wamena, Puncak Jaya, Oksibil Jayapura, dan daerah lainnya. 1.500 jiwa yang tersebar empat wilayah itu mengandalkan eko­nomi dari dagang.”Meski de­mikian sudah ada pula yang bekerja di instansi pemerintah dan jasa konstruksi,” katanya.

Sejarah Perantau Pertama

Tentu ada tokoh yang “mene­ruka” jalan ke Papua sehingga akhirnya banyak warga Puluik Puluik yang menaruh harapan di negeri paling timur Indonesia itu. Tokoh pertama yang mencoba me­ngadu nasib ke Papua adalah Mai­nus. Awal keberangkatan mai­nus ke Papua berawal ditahun 1966.

Tokoh Masrakat Bayang Uta­ra Irjal sebelumnya menyebutkan, kondisi topografi daerah ini yang berbukit dan banyak lahan tidak bisa digarap membuat masyarakat memaksakan mencari nafkah di negeri orang. Manfaat merantau itu kemudian memang dirasakan oleh warga, hal ini dapat dilihat dengan kondisi rumah keluarga di sejumlah kampung bagus.

“Tetapi ada juga rumah warga yang sudah bagus, namun tidak ada yang menempatinya, karena selu­ruh anggota keluarganya per­gi me­rantau, baik  ke Jakarta, Pekan Ba­ru, Medan terutama Papua,” katanya.

Manius  kemudian setelah mencoba mengadu nasib pada tahun 1966 itu pulang pada tahun 1970 dan telah berhasil, karena keber­hasilan itu dia mengajak para warga daerah ini untuk mengikuti jejak­nya. ”Mata  pencarian Mainus di sana hanya pedagang,” katanya.

Disebutkannya, orang awak amat piawai dalam menjaga hubu­ngan dengan penduduk lokal, sehingga warga Puluik Puluik yang ada di sana dapat membaur tanpa ada masalah. ”Setiap Leba­ran mereka pulang bersama, dan satu persatu pemuda dan pemudi di Nagari Puluik Puluik yang te­lah tamat sekolah diboyong  oleh mereka yang sudah terlebih da­halu berhasil di Papua,” ujarnya

Diterangkannya, di Kota Wa­me­na Papua terdapat lebih 200 toko milik orang Puluik Puluik Bayang Utara. Para perantau  itu sudah ada yang menjadi milyader dan memberikan kontribusinya kepada daerah.”Contohnya para perantau  yang berasal dari Papua ikut membantu pemba­ngunan jalan usaha tani, bantuan dana mereka kirim supaya kam­pung mereka bisa juga ikut maju,” tutupnya. (*)

 

Laporan :
HARIDMAN KAMBANG

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]