Dari Sawit ke Ubi Kayu


Ahad, 23 Agustus 2015 - 19:20:42 WIB
Dari Sawit ke Ubi Kayu

Dalam kondisi sulit, petani sawit di Pessel harus mencari solusi jika tidak ingin utang mereka terus menumpuk. Salah satu solusinya adalah dengan menanam ubi kayu di lahan sawit. Pertimbangan petani memilih tanaman ubi kayu sangat sederhana. Selain tidak butuh modal besar, resiko juga sangat kecil. Sementara harga ubi kayu juga cukup menggiurkan ketimbang harga sawit sekarang. Petani bisa menjual ubi kayu Rp2.500 per kg di kebun.

Baca Juga : Menaker: Pelindungan ABK Perikanan Indonesia Merupakan Hal Mutlak!

Petani sawit di Pessel yang telah mengambil langkah tersebut adalah, Naldo warga Kambang Utara. Dia telah banting stir dengan menanam ubi kayu di lahannya. Menurutnya, ubi kayu lebih menguntungkan dari pada sawit. Harga ubi kayu relatif stabil yakni Rp2.500 per kg. Satu periode tanam ubi kayu meng­habiskan waktu enam hingga delapan bulan. Hasil yang diperoleh juga cukup menguntungkan. Selanjutnya, Yendi Imam Bandaro Kampai juga sangat terarik dengan tanaman ubi kayu. Menurutnya ketika harga TBS sawit tidak stabil seperti sekarang, petani  lebih diuntungkan bertanam ubi kayu.

Pilihan mereka menanam ubi kayu juga ditopang oleh kemudahan pemasaran. Kebutuhan ubi kayu Sumbar selama ini juga belum terisi oleh hasil pertanian lokal. Kebutuhan industri aneka macam kerupuk berbahan dasar ubi kayu di Bukittinggi, Payakumbuh dan  Padang tidak terpenuhi oleh hasil pertanian daerh Sumbar, sehingga terpaksa didatangkan dari daerah lain. Indonesia pun hingga kini masih tercatat  sebagai Negara pengimpor ubi kayu.

Baca Juga : Kemenkes Dorong Pengurus Masjid Tetapkan Jadwal Vaksinasi

Pemerintah seyogiyanya memberikan perhatian khusus kepada para petani dalam kondisi terpuruknya beberapa jenis komoditas pertanian untuk ekspor agar para petani tidak terus terpuruk dalam kondisi sulit. Selain menjaga agar harga TBS sawit tidak terus melorot akibat diduga adanya permainan harga oleh para pedagang dan prabrik, pemerintah  juga perlu mem­berikan pembinaan kepada para petani sawit untuk juga bercocok tanam tumbuhan jenis lain, termasuk ubi kayu, jagung dan lain sebagainya. Dalam kondisi jatuhnya harga sawit, langkah-langkah yang demikian perlu diambil.

Pemerintah juga perlu mengantisipasi terus melo­rotnya harga berbagai hasil pertanian komoditi ekspor lainnya, seperti karet, gambir, pinang, coklat dan lain sebagainya. Kapan perlu pemerintah melalui instansi yang diberi kewenangan turut membeli hasil pertanian tersebut dengan harga wajar. Dengan demikian harga-harga di tingkat petani tidak terus ditekan serendah-rendahnya oleh pengumpul, tengkulak, pedagang besar dan lainnya.

Baca Juga : Audiensi dengan Musisi Indonesia, Menko Airlangga akan Cari Solusi Konstruktif untuk Industri Musik

Dalam ruang kebijakan yang lebih luas lagi, pemerintah sebaiknya juga turut intervensi mengatur sedemikian rupa regulasi tata niaga hasil pertanian komoditi ekspor sehingga tidak rawan dipermainkan oleh pedagang besar atau pihak-pihak yang hanya menjadikan para petani sebagai sapi perahan saja. **

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]