Pengadaan Beras Bulog Baru 57 Persen


Senin, 24 Agustus 2015 - 18:28:19 WIB
Pengadaan Beras Bulog Baru 57 Persen

Akibat kejadian itu, harga beras tidak pernah kembali ke titik sebe­lumnya, sulit sekali men­cari gabah dan beras de­ngan harga sesuai keten­tuan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) di ting­kat petani, yakni sebesar Rp3.700/kg untuk gabah kering panen (GKP), Rp4.­600/kg untuk gabah kering giling (GKG), dan Rp7.300/kg untuk beras.

Baca Juga : Palestina Ternyata Tidak Punya Tentara, Ini Alasannya

“Bulog memang tidak mudah melakukan penga­daan karena harga berge­rak dinamis di lapangan,” kata Bustanul saat ditemui di Kantor Indef, Jakarta, Senin (24/8).

Kemudian, di tengah tingginya harga gabah dan beras petani, Bulog masih harus bersaing dengan penggilingan-penggili­ngan beras swasta yang mau membeli gabah dan beras petani dengan harga di atas HPP. Saat ini, tutur Bustanul, sudah ada be­berapa penggilingan beras swasta yang mulai bisa menyaingi Bulog, mi­sal­nya PT Tiga Pilar.

Baca Juga : Korban Luka Berjatuhan Saat Ribuan Orang Palestina Demo Israel di Kota Nablus

“Bulog kalah juga de­ngan penyerap-penyerap besar, kaget ketika peru­sahaan-perusahaan swasta kita beri kesempatan se­luas-luasnya untuk masuk. Ada PT Tiga Pilar mi­salnya,” paparnya.

Bustanul menam­bah­kan, dirinya juga kurang yakin produksi padi tahun ini naik sampai 73,5 juta ton GKG seperti yang di­sam­paikan dalam Angka Ramalan (Aram) I BPS. Bila angka itu benar, ha­rusnya produksi beras melimpah dan Bulog tak kesulitan menyerap beras petani. “Bisa juga pro­duksinya (beras) tidak sebesar itu,” dia meng­ungkapkan.

Dengan masih rendah­nya serapan beras Bulog hingga hari ini, ditambah serangan el nino, Bustanul memperingatkan pe­me­rintah agar benar-benar waspada memperhatikan stok beras. Bila stok Bulog kurang dan produksi beras turun akibat el nino, harga beras bakal melambung saat puncak paceklik di Januari-Februari 2016.

“Kita harus sangat was­pada di awal tahun depan. Kita harus perhatikan el nino dengan serius juga,” pungkasnya.

Seperti diketahui, pe­nga­daan beras yang dila­kukan oleh Perum Bulog hingga pertengahan Agus­tus baru 1,85 juta ton atau baru 57% dari target. Jika ditambah dengan penga­daan dari beras komersial pun total pengadaan Bu­log baru sekitar 2 juta ton, masih jauh dari target pengadaan tahun ini yang mencapai 3,2 juta ton.

Sedangkan stok beras Bulog saat ini 1,6 juta ton atau setara dengan kebu­tuhan untuk 6-7 bulan penyaluran. “Pengadaan beras sampai saat ini 1,85 juta ton. Stoknya 1,6 juta ton. Beras premium ada 230 ribu ton,” ungkap Direktur Pengadaan Pe­rum Bulog, Wahyu.

Wahyu menyatakan bahwa pihaknya akan te­rus mengejar target penga­daan beras hingga men­capai 3,2 juta ton di akhir tahun. Diharapkan penga­daan beras sudah men­capai 2,5 juta ton pada Oktober mendatang. “Tar­get sampai Oktober 2,5 juta ton. Kita kerja terus (target pengadaan beras), nanti tercapai atau tidak ada banyak faktor,” ucap Wahyu.

Diakuinya, sangat sulit bagi Bulog untuk dapat mencapai target penga­daan beras sebanyak 3,2 juta ton. Sebab, panen raya yang setiap tahun jatuh pada April, Mei, dan Juli telah lewat. Saat ini pun Bulog sudah kesulitan untuk mendapatkan beras dengan harga sesuai HPP yang ditetapkan peme­rintah sebesar Rp7.300/kg.

Karena itu, Bulog akan menggenjot pengadaan dari komersial. “Kita per­banyak pengadaan dari komersial karena sudah sulit untuk memperoleh beras dengan harga sesuai HPP,” kata Wahyu. (h/dtf)


Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]