Rupiah Tembus 14.000, Perlu Dibentuk Pusat Krisis


Senin, 24 Agustus 2015 - 18:55:13 WIB
Rupiah Tembus 14.000, Perlu Dibentuk Pusat Krisis

Pada perdagangan awal pekan ini, sentimen ekster­nal dan internal masih akan memengaruhi posisi tukar rupiah. Penurunan indeks dollar AS dan siaganya oto­ritas Bank Indonesia di pasar diharapkan dapat me­na­han posisi mata uang garu­da dari pelemahan lebih lanjut.

Baca Juga : PKS Kota Batam Targetkan Perolehan Kursi Dua Kali Lipat di Pemilu 2024

“Rupiah sepertinya ma­sih akan bertahan di bawah Rp 14.000 per dollar AS untuk beberapa saat, tetapi masih dalam tekanan,” de­mi­kian riset Samuel Sekuri­tas Indonesia, pagi kemarin.

Menutup pekan lalu, bur­sa AS turun jauh bersa­maan dengan penurunan indeks dollar AS beserta imbal hasil obligasi AS. Kekhawatiran mengenai prospek ekonomi global mulai memberikan tekanan terhadap pasar saham AS, walaupun itu bisa berarti penundaan kenaikan suku bunga The Fed lebih lama lagi. Indeks manufaktur AS yang diumumkan turun juga menambah pesimisme ter­ha­dap perekonomian.

Baca Juga : Daftarkan Logo Partai atas Nama SBY, Ketua DPC PD Dharmasraya: Cegah Penyalahgunaan oleh Pihak Lain

Sementara itu, rupiah turun tajam hingga penutupan perdaga­ngan pada pekan lalu bersamaan dengan penguatan dollar AS di pasar Asia. Pasar SUN dan IHSG juga turun jauh pada hari yang sama. Harga komoditas yang masih juga turun diperkirakan masih akan mempertahankan tren pelemahan rupiah.

Hingga akhir pekan lalu, harga minyak kembali jatuh hampir 3 persen. Kebijakan stabilisasi oleh Bank Indonesia serta OJK diper­kirakan bisa membantu mence­gah penurunan aset rupiah yang terlalu dalam walaupun aksi jual oleh pihak asing yang kuat akan sulit terbendung.

Baca Juga : DPC Partai Demokrat Dharmasraya Sampaikan Surat Pengaduan dan Perlindungan Hukum ke Polres Setempat

Bentuk Pusat Krisis

Ketua Umum Partai Golkar hasil Munas Bali, Aburizal Ba­krie, mengingatkan pemerintah untuk waspada terkait terus mele­mahnya nilai tukar rupiah ter­hadap dollar Amerika Serikat. Aburizal meminta pemerintah membentuk pusat krisis agar kondisi ekonomi saat ini ter­tangani dengan baik.

Baca Juga : Terjun ke Politik, Athari Gauthi Ardi: Ingin Kampung Seperti Jakarta

“Pemerintah harus buat pusat krisis untuk menangani dan menghadapi permasalahan yang begini sulit,” kata Aburizal dalam rapat pleno Fraksi Partai Golkar di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (24/8).

Aburizal menambahkan, pu­sat krisis ini bertujuan untuk menyinkronkan kebijakan peme­rintah agar satu tujuan meng­hadapi tantangan. Nantinya, pusat krisis ini dapat dipimpin oleh orang yang dipercaya oleh Pre­siden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

“Jadi, tidak ada lagi satu menteri gerak ke kanan, menteri lain gerak ke kiri, ketika semua penanganan sulit ini tidak ada di dalam satu komando,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Aburizal juga meminta peme­rintah dan DPR tidak hanya fokus pada anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Sebab, pembangunan bagi pereko­no­mian Indonesia membutuhkan peran seluruh masyarakat. “APBN itu hanya 20 persen, sisanya 80 persen dilakukan oleh masyarakat kita,” kata mantan Menteri Koordinator Kesejah­teraan Rakyat itu.

Tim Ekonomi Tak Dipercaya Pasar

Pengamat ekonomi Didik J Rachbini menilai melorotnya nilai tukar rupiah hingga di atas 14.000 per dollar AS tak hanya disebabkan faktor eksternal tetapi juga internal. Menurutnya, faktor internal tersebut yaitu belum dipercayainya tim ekonomi pe­merintah oleh pasar.

“Tim ekonomi pemerintahah baru yang tidak bisa meyakinkan publik dan pasar secara khusus. Dengan tim seperti ini meskipun pemilu berhasil dan ekonom-ekonom bilang rupiah akan kuat menjadi Rp 10.000 per dollar AS apabila Jokowi terpilih, tetapi karena tim ekonomi tidak me­yakinkan maka rupiah terus merosot,” ujar Didik kepada Kompas.com, Senin (24/8).

Selain itu, respons pemerintah menjaga stabilitas rupiah dalam satu tahun terakhir ini juga dinilai tak maksimal. Masalahnya kata dia, lantaran pasar sebenarnya tak memiliki kepercayaan kepada tim ekonomi pemerintah.

“Dalam waktu kurang setahun rupiah sudah merosot dari Rp 12.000 ke Rp14.000 karena pemerintah masih belum diper­caya pasar untuk dapat meredam dampak faktor eksternal,” kata dia.

Dari sisi neraca perdagangan, pemerintah juga dinilai tidak berhasil merespons penurunan ekspor sehingga neraca berjalan yang awalnya surplus menjadi negatif. Menurutnya, dari situlah awal masalah dan pelelahan nilai tukar terjadi.

Sebelumnya, nilai tukar ru­piah sore hari ini melemah. Meski sempat menguat, mata uang Garu­da makin tak berdaya terhadap dollar AS dan diperdagangkan di Rp 14.049 per dollar AS atau turun sebesar 0,78 persen.  (kcm/met)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]