Kenaikan Cukai Rokok Picu Efek Domino


Selasa, 25 Agustus 2015 - 19:30:29 WIB
Kenaikan Cukai Rokok Picu Efek Domino

“Kenaikan target cukai 2016 sebesar 23 persen ini sangat sangat eksesif, diban­dingkan dengan kenaikan tahun-tahun sebelumnya yang berada di kisaran 7 sampai 9 persen. Lagi-lagi, industri tembakau berada di ujung tanduk, karena target tersebut ditentukan tanpa memper­timbangkan daya beli kon­sumen dan dam­paknya bagi lapangan kerja yang sangat besar,” ujar Muhaimin Moef­ti, Ketua Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia (Gaprin­do), Selasa (25/8).

Baca Juga : Palestina Ternyata Tidak Punya Tentara, Ini Alasannya

Kenaikan target pene­rimaan cukai tembakau 2016 merupakan pukulan telak bagi industri tembakau na­sio­­nal. Kenaikan ini dinilai mem­beratkan karena kenai­kan­ tersebut mencapai ang­ka­ 23 persen dibandingkan de­ngan target cukai 2015 yang tertuang di APBN yang di­te­ken di September 2014, ya­itu sebesar Rp120,6 tri­liun.

Lebih jauh lagi, telah dilakukan revisi program pemerintah dimana target penerimaan cukai tembakau 2015 didorong naik ke angka Rp139,1 triliun pada awal 2015, pasca peralihan pe­me­rintahan Jokowi. Sejumlah strategi diluncurkan peme­rintah untuk mencapai tar­get penerimaan pajak, khu­susnya cukai.

Baca Juga : Korban Luka Berjatuhan Saat Ribuan Orang Palestina Demo Israel di Kota Nablus

Ironisnya, hal ini dilun­curkan tanpa mem­per­hati­kan kelangsungan industri tembakau nasional jangka panjang. Pasca revisi APBN-P di awal 2015, pemerintah me­­ner­bitkan PMK 20/PMK.­04/2015 yang beri­sikan penghapusan fasilitas penundaan pembayaran pita cukai melalui mekanisme pencepatan pembayaran.

Adanya ketetapan baru ini memang memungkinkan tam­bahan pendapatan sela­ma dua bulan untuk masuk ke kas pemerintah, namun ke­bi­ja­kan tersebut kontra­produk­tif.

Menjadi kontra­produktif mengingat skema ini hanya akan menambah peneri­ma­an dalam tahun 2015. Se­dang­kan,pada tahun-tahun se­lan­jutnya, pene­rimaan ne­gara dari cukai akan kembali seperti semula.

“Imbas dari kenaikan target cukai yang eksesif, apalagi dibarengi dengan melemahnya daya beli ma­sya­rakat, akan langsung dira­sakan oleh pabrikan rokok, tenaga kerja serta petani tembakau dan cengkeh. Da­lam kurun waktu lima tahun terakhir saja, ratusan peru­sahaan rokok gulung tikar dan telah terjadi PHK besar-besaran yang dilakukan oleh perusahaan kecil maupun besar,” katanya.

Sekarang, jika peme­rin­tah bersikukuh menaikkan target cukai sebesar 23 per­sen, maka ini merupakan upaya untuk menghilangkan mata pencaharian jutaan orang yang bergantung pada industri tembakau.

Kenaikan cukai yang ek­se­sif disertai dengan mele­mahnya daya beli masyarakat akan berimbas pada mening­katnya daya tarik rokok ilegal di pasaran. Hal ini dise­babkan karena rokok illegal yang dibanderol jauh lebih murah dibandingkan dengan rokok hasil produksi industri le­gal. Berdasarkan pene­litian Universitas Gadjah Mada pada tahun 2014, pe­re­daran rokok ilegal di In­donesia sudah semakin merajalela.

Ditemukan bahwa dalam empat tahun terakhir, rokok ilegal sudah tumbuh dua kali lipat menjadi 11,4 persen pada 2014. Dengan adanya fakta dan kemungkinan ter­se­but, kenaikan cukai dan imbasnya pada rokok ilegal justru merugikan pihak pe­me­rintah dan industri tem­bakau legal.

Enny Sri Hartati, Direk­tur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), me­nga­takan keberadaan rokok ilegal akan diuntungkan oleh kenaikan cukai eksesif dan akhirnya mengancam ke­ber­lang­sungan industri legal. Jika pemerintah tidak bijak­sana dan tidak segera me­nga­mbil langkah koreksi yang te­pat, maka ini meru­pakan ke­menangan bagi rokok ile­gal.

Menjadi mungkin indus­tri ha­sil tembakau pada akhirnya akan kolaps apa­bila kon­tribusi da­­ri industri tembakau terus di­­dorong untuk menge­jar tar­get pene­rimaan yang tidak ra­sio­nal. Kolapsnya industri ini ten­­tu akan me­nga­­ki­batkan ke­­ru­gian yang sa­ngat be­sar. Ko­­­laps­nya industri akan turut meng­­hilangkan ra­tusan tri­liun pe­nerimaan ne­gara dan la­pa­ngan kerja bagi jutaan tenaga ker­­ja da­lam mata rantai pro­duk­­si tem­bakau nasional. (h/trn)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]