Kesaksian Personal (Bagian 1)


Rabu, 26 Agustus 2015 - 20:05:21 WIB
Kesaksian Personal (Bagian 1)

Sejak 1 November 2010, Haluan berada di bawah kendali pemodal baru, H. Basrizal Koto.  Pada masa awal manajemen baru ber­tin­dak jadi Pemimpin Umum H. Basrizal Koto, Wakil Pemimpin Umum Zul Effendi, Pemimpin Re­dak­si Yon Erizon, Kepala Litbang Eko Yanche Edrie. Di masa ini Nasrul Azwar pernah menjadi Redaktur Seni Budaya, berbuat profe­sional. Untuk satu kata yang meragukan pun Mak Naih, demikian panggilan akrab Nasrul Azwar, meng­hu­bungi penulis naskah. Ikut jadi redaktur Ismet Fanany, Rusdi Bais, Hendra Dupa. Ki­ni­ (2015) Pemimpin Umum/Penanggungjawab Zul Effendi dengan Pemim­pin Redaksi Yon Erizon.

Baca Juga : PSI Nilai Anies Tidak Konsisten soal Pembukaan Tempat Wisata

Pada 1976, di tahun “RMI “ bermula, saya belum setahun bergabung di Ha­luan. Pada 18 Mei 1975 saya menikahi kekasih, Darhana Bakar (hadir pada acara ini, dan ke mana-mana kami sering berdua), dan saya meninggalkan “pekerjaan” guru bahasa Inggris di RP INS Kayu Tanam. Di INS, saya diajak A.A. Navis yang tahu saya menyelesaikan tingkat sarjana muda jurusan bahasa Inggris di ABA Pra­yoga Padang. Istri saya setuju saya bekerja di Haluan. Dan Pak Kasoema mau menga­jak saya dengan alasan, saya, lapeh makan, bisa berba­hasa Inggris, dan saya tamat Sekolah Seni Rupa Indo­nesia (SSRI) Negeri Padang. Mungkin saya dianggap tahu tata wajah surat kabar?

Pada tahun 1975 itu, Haluan mulai menggunakan cetak web offset tetapi huruf masih ketik timah. Pak A. Hamid, Pemimpin Peru­sahaan, minta saya meran­cang logo. Merujuk logo terdahulu, saya ajukan tiga. Satu diterima, dan itulah logo Haluan, persis, terpakai sampai kini. Ketika Basrizal Koto membeli Haluan, saya diajak rapat awal oleh Hasril Chaniago yang ikut mem­bidani. Usul saya untuk moto Haluan, Mencer­das­kan Kehidupan Masyarakat, diterima dan terpakai.

Baca Juga : OSO Bertemu LaNyalla: Seharusnya DPD RI Bisa Usung Capres

Kerja rutin-awal saya di Haluan adalah korektor, pembetul ketikan. Haluan pada waktu itu terbit delapan halaman. Kerabat kerja saya adalah Djasmani, Daswir Wahiduddin, Masri Marjan (kelak jadi wartawan andal, pernah jadi Ketua PWI Su­ma­tera Barat), Mufthi Syar­fie (kini komisioner KPU Sumatera Barat), Aldjufri Sjahruddin (dosen UNP), Armansjah Nizar (terkenal dengan sebutan Mang­ku­tak), Uzmil Argan, Indra Merdy (kelak jadi  redaktur).

Sebagai korektor, tentu saja kami bukan saja mem­baca tetapi bahkan meme­riksa semua naskah yang diset sehingga, dengan demi­kian, saya tahu naskah-nas­kah yang disiapkan untuk RMI dan BMI oleh Redak­tur Budaya Rusli Marzuki Saria (RMS). Biarpun bebe­rapa tahun sebelum itu seca­ra pribadi saya sudah menge­nal Papa RMS, tetapi saya tidak mau mengusik naskah (sering disebut kopai, copy, maksudnya kopi) yang di­siap­kan dengan sungguh-sungguh, terencana, dan se­lek­tif. Otonomi dan karisma RMS sangat kuat, jujur, ter­pu­ji, tahan banting. Untuk Minggu, sudah ada sebundel naskah di ruang mesin cetak timah pada hari Kamis. Untuk Selasa, naskah disiap­kan dan mulai diketik Sabtu. Ada puisi, cerpen, esai, kritik, dan vignet (ilustrasi). Seleksi dilakukan sendiri oleh RMS. Naskah masuk tiap hari, via pos atau diantar sendiri. Dan itu dikerjakan RMS selama 30 tahun lebih.

Sebagai korektor, dan sekali-sekali menulis berita, saya juga menyerahkan nas­kah sastra dan terjemahan sastra ke RMS tetapi untuk BMI. Saya pernah “antrean” dua tahun sebelum sajak-sajak saya dimuat, antara lain, Shelly Kecil yang saya terakan di bagian awal novel Bako (BP, Cetak Pertama 1983). Shelly Kecil kemu­dian me­nang Sayembara Menulis Puisi IKIP dan, 1973, dimuat di majalah sastra paling bergengsi, pada masa itu, Horison. Beberapa bulan sebelum pemuatan, sebagai salah seorang redak­tur, Sa­pardi Djoko Damono me­nyurati saya, bahwa sa­jak-sajak saya lolos seleksi, dan (akan) dimuat Horison. Dan Shelly Kecil mengan­tarkan saya ke Pertemuan Sastrawan Indonesia 1974 di TIM Ja­karta. “Sajak DM sudah ada di Horison,” ujar Navis mem­beri alasan me­nga­pa saya dan belasan sas­tra­wan dari Su­matera Barat diajak ke per­temuan itu. Semua biaya transportasi dan uang saku dicarikan dan disediakan Bang Navis. Itu­lah pertama kali saya meli­hat Monumen Nasional pa­da malam hari. Menak­jub­kan! Dan di per­temuan itu­lah saya, malu-malu, berja­bat tangan dengan W.S. Ren­dra, Ramadhan K.H., Slamet Sukirnanto, Darmanto Jat­man, Aspar Paturusi, dan mengintip tem­pat tinggal Taufiq Ismail, di mes, sebe­lah Wisma Seni (sekarang sudah tidak ada) di kom­pleks TIM. Pada per­temuan itu pula saya ber­kenalan dengan orang-orang seusia: Ahmad Tohari, D. Zawawi Imron, Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi A.G., Yudhis­tira Ardinoegraha, Adri Damardjo Woko, dan Ebiet G. Ade. Dan puluhan yang lain.

Ke rumah kontrakan RMS di Koto Marapak, Ko­-t­a Padang, saya beberapa kali bertamu, sehingga saya me­nge­nal istri RMS dan anak-anak yang masih kecil-kecil. Ke sana saya belajar dan berdiskusi sastra, meminjam buku-buku sastra penting dan bundel majalah Horison (semua pinjaman kemudian saya kembalikan). Di tem­pat-tinggal RMS pula saya jumpa dan berkenalan de­ngan Navis yang, antara lain, mengusul agar saya banyak membaca, membentuk grup, dan menyatakan, kalau ingin jadi penulis jangan kaung, jangan menyiarkan karya di Padang ke di Padang saja. “Kalau perlu,” jelas Navis, “jual nama saya.”

Imbauan Bang Navis me­­mang saya lakukan, dan pada 1971, sebuah cerpen saya dimuat Indonesia Raya dengan Pemred Mochtar Lubis. Cerpen saya berjudul Nasib, tetapi oleh redaktur diubah jadi Gantungan su­dah Putus. Lima belas hari kemudian, nomor bukti pe­muatan dan wesel hono­rarium berjumlah besar sampai ke alamat kos saya. Pada 1970, setahun sebelum itu, dalam usia 18 tahun, cerpen saya bertajuk Senja Penentuan dimuat Haluan dengan Redaktur Minggu M. Joesfik Helmy.

Mengetahui ada cerpen saya dimuat di Indonesia Raya, wartawan junior Masri Marjan mewawancarai saya, dan memuat hasil wawan­cara itu di majalah hiburan, Selecta, 1972. Menjawab pertanyaan apa keinginan saya, kepada MM saya jelas­kan: semoga Hadiah Nobel Sastra jatuh ke tangan sastra­wan Indonesia. Dan sung­guh-sungguh pemikiran itu bersarang di benak saya setelah membaca sejumlah buku sastra bermutu, ter­ma­suk yang dipinjamkan RMS.

Ajakan Navis agar saya membentuk Grup Studi Sastra saya tunaikan, ya, dengan Krikil Tajam itu. Bersama A. Chaniago Hr., Asnelly Luthan, Harris Effen­­di Thahar, R. Lubis Zamaksjari, Sjahida Siddiq, Sjaiful Usmar, Zulfikar Said, Yalvema Miaz, Susian­na Darmawi, Bakhtaruddin Nasution, Sjaiful Bachri, Tabah R. Rawisati, dan satu-dua nama lain yang luput dari catatan saya. Tiap hari Minggu, hampir setahun, kami benar-benar studi sas­tra secara komprehensif, mendalam. Paling menge­sankan, grup itu mendapat atensi besar bukan saja dari Na­vis dan RMS tetapi juga dari Mursal Esten, Chairul Harun, Nasrul Siddik, Roes­tam Anwar, Zaidin Bakry, Bhr. Tandjoeng, Muslim Ilyas, M.S. Sukma Djaja, A. Pasni Sata, Wisran Hadi, Upita Agustine, M. Joesfik Helmy, Shofwan Karim Elha, Zaili Asril, Emma Yohanna, Bagindo Fahmy, Ridwan Isa, Makmur Hen­drik, Yanuar Abdullah, Ben­ny Azis, Sjukril Sjukur, Nasrul Djalal, Anas Kasim, Sabaruddin Abbas, Satni Eka Putra, Uzmil Argan, Alwi Karmena, Asril Joni, Zainul Basri, A. Karim (yang suka mengajukan per­tanyaan: ke mana kesu­sas­traan Indonesia diarah­kan?). Kepada mereka saya berutang besar.

Puncak kegiatan Krikil Tajam adalah “Malam Apre­­­siasi Sastra” yang dise­leng­garakan di Taman Me­lati pada 22 Desember 1973. Mengurus penye­leng­garaan acara, Asnelly Lu­than dan saya diinterogasi Laksus Pangkopkamtibda selama 48 jam, siang-ma­lam. Semua sajak yang akan dibacakan disensor, di­(per)­tanyakan. Semua data pribadi, foto-diri dari pel­bagai arah, sidik-jari, siapa induak-bako, siapa sahabat kental, direkam. Pak Mayor Kahfi dan Pak Mayor Hen­dro bersama anggota mere­ka, yang mengin­tero­gasi, berlaku simpatik, bah­kan membasai rokok ber­merek. Dan acara “Malam Apre­siasi Sastra” yang ber­lang­sung di bawah cahaya an­dang dan tidak boleh liwat dari pukul 23.00 WIB itu dihadiri lebih banyak oleh intel dan aparat bersenjata lengkap. Sehari sesudah pe­ris­tiwa, iven itu jadi berita. Ha­luan keluar dengan pojok Dr. Ronda: semoga dari da­e­rah ini lahir Rendra-Ren­dra baru. Indonesia Raya dan BBC London mem­­­beri­ta­kan se­hingga ka­bar itu me­na­sio­nal dan men­­­­dunia. Ti­dak ada kai­tan sa­ma se­ka­li, sebulan ke­mu­dian di Ja­kar­ta me­mang meledak Pe­ris­tiwa Ma­la­ri 1974 de­ngan ak­tor uta­ma Hariman Sire­gar. *

 

DARMAN MOENIR
(Sastrawan)


Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]