Kesaksian Personal (Bagian 2)


Kamis, 27 Agustus 2015 - 19:25:10 WIB
Kesaksian Personal (Bagian 2)

Tiap pagi, sampai hari ini, selain buku-buku (usang dan baru), saya rutin mem­baca empat harian yang terbit di Padang (sesuai abjad: Haluan, Padang Ekspres, Pos Metro Padang, Singga­lang), satu dari Jakarta (Kom­­pas), satu majalah berita mingguan setiap pe­kan, dan satu majalah sastra setiap bulan. Di era internet, saya menyigi ruang-ruang budaya banyak koran, ter­masuk The New York Times. Dulu, saya pernah berlang­ganan The Jakarta Post, Newsweek, dan membaca The Archipel Journal. Saya membaca Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer, pada suatu hari, mulai pukul 10.00 pagi, dan selesai pukul 02.00, dinihari. Tidak sebu­lan sesudah itu, Bumi Manu­sia dilarang beredar. Saya membaca, membaca, mem­baca, menjaring makna. Per­nah saya melanggani bebe­rapa surat kabar khusus edisi hari Minggu saja, yang me­nye­diakan halaman budaya atau ruang sastra, terutama yang terbit di Jakarta.

Baca Juga : Innalillahi, Pemilik Radwah Hartini Chairuddin Meninggal Dunia

Syukur, sekarang, kita merdeka, termasuk merdeka untuk membaca. Lebih awal, saya terpesona dan kagum, setiap jumpa Chairul Harun, saya selalu menampak di tangannya ada beberapa eksempelar koran dan buku. Bang Chairul mungkin ogah membawa Echolac atau tas seminar. Tetapi saya berke­simpulan, dia pembaca (bu­ku-buku dan surat kabar) berat. Di Manila, saya per­nah diajak Pak Mochtar Lubis bertamu ke rumah seorang Guru Besar untuk mendapatkan goreang talua bulek balado. (Lidah Padang begok saya tidak berterima menu makan manis-manis, bergizi dan berkalori tinggi, bertarat internasional itu.) Semua dinding lantai dasar dan lantai satu rumah besar itu penuh (rak) buku. Saya pun terpana menyaksikan orang asing, di ruang tunggu bandar udara, di waktu isti­ra­hat di kampus, selalu mem­baca, membaca dan membaca buku. Ke mana-mana, dalam tas mereka, ada buku bacaan. (Kini, tentu saja, banyak orang punya telepon genggam, dan de­ngan gawai, berselancar di dunia maya. Mereka juga membaca?)

Dan saya berusaha benar menjaga hubungan baik, silaturahmi, dengan para senior, sahabat seangkatan, dan yang berusia lebih mu­da. Untuk menyebut bebe­ra­pa, biarpun acap kena sarengeh, saya relatif dekat dengan suhu A.A. Navis, Rusli Marzuki Saria, Wisran Hadi, Mursal Esten, Moch­tar Lubis, Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi W.M., Danarto, Hamsad Rangkuti, Leon Agusta, Ibrahim Sattah, Idrus Tintin, Zainuddin Tamir Koto (Zatako), Dami­ri Mahmud, A. Rahim Qah­har, Husni Djamaluddin, bahkan juga Ismail Hussein di Malaysia, Djamal Tuki­min di Singapura, Fransisco Sionil Jose di Filipina. Tentu saja saya pernah berdiskusi dengan Umar Kayam, Umar Junus, Goenawan Moha­mad, Budi Darma, Toeti Heraty Noerhadi, Ikrana­gara, Radhar Panca Dahana, Nirwan Arsuka, Nirwan Dewanto, Afrizal Malna, Taufik Ikram Jamil, Adek Alwi, Isbedy Stiawan Z.S. Ke Jakarta, saya menyem­patkan diri singgah ke Jalan Bonang 17, atau ke kantor Yayasan Obor di Jalan Plaju, untuk berjumpa dengan Pak Mochtar Lubis. Ketika ke Padang, Mochtar Lubis bah­kan mampir ke Jalan Pasa­man II/170, Kompleks Pe­-rum­nas Siteba, Kelurahan Surau Gadang, Nanggalo, tempat tinggal saya. Istri saya menjamu Mochtar Lubis dengan teh manis, dan tum­bang ubi bakarambie. Sering Pak Mochtar Lubis mengi­ngatkan, bahwa penulis itu harus berani, jujur menyam­paikan kebenaran dan tidak menggadaikan apalagi men­jual (harga) diri. Tidak lupa pengarang Harimau Hari­mau itu memberi saya buku. Mochtar Lubis bahkan min­ta saya menerjemahkan no­vel The Moonson Country, nominator penerima Ha­diah Nobel Sastra, oleh Pira Sudham dari Thailand. No­vel itu saya terjemahkan dengan judul Negeri Hujan, dan diterbitkan Yayasan Obor (Jakarta, 1999). Pe­nyun­tingan terhadap terje­mahan saya langsung diker­jakan Mochtar Lubis.

Baca Juga : Pemerintah Perlu Pertimbangkan Kembali Penggabungan Kemendikbud dan Ristek

Dari mereka dan pemba­caan sejumlah buku kemu­dian saya menerima pema­haman dan pencerahan, bah­­wa untuk berbuat kreatif, sekali lagi, berbuat kreatif, di bidang sastra itu memer­lukan kerja keras, bersung­guh-sungguh, berpeluh, ma­ti-matian, tidak mengenal lelah, banyak membaca dan berupaya memaknai kehi­dupan. Menemukan sesuatu yang baru, itulah ujud kon­kret kreativitas. Mengulang apa yang sudah dikerjakan M. Yamin, Amir Hamzah, Chairil Anwar atau Marah Roesli, Abdoel Moeis, Ar­mi­jn Pane, Hamka, Iwan Simatupang, dan seurut sas­tra­wan besar dan penting lain jadi sia-sia. Betapa lagi saya sempat membaca bebe­rapa karya Boris Pasternak, Yukio Mishima, Ernest Hemingway.

Konsep dan tesis penting dan mendasar ini pula yang sepuluh tahun belakangan saya sampaikan kepada pulu­han bahkan ratusan siswa, mahasiswa dan guru-guru bahasa Indonesia se-Suma­tera Barat yang saya dam­pingi ketika mereka mengi­kuti Program Pelatihan Me­nulis (Puisi, Cerpen, Novel, Esai) yang ditaja Balai Baha­sa Provinsi Sumatera Barat di berbagai kampus dan sekolah, dan Rumah Puisi Taufiq Ismail di Aie Angek, Kabupaten Tanah Datar. Pendamping lain adalah Taufiq Ismail, Wisran Hadi, Rusli Marzuki Saria, Upita Agustine, Gus tf Sakai, Har­ris Effendi Thahar, Maman S. Maha­yana, Jamal D. Rah­man, Joni Ariadinata, Iman So­leh, Yusrizal K.W., Ab­du­l­lah Khusairi, Zelfeni Wim­ra, Endut Ahadiat, Mu­ham­mad Ibrahim Ilyas, S. Met­ron Masdison, Syuhen­dri.

Baca Juga : Hadapi Terorisme, Indonesia Bisa Adaptasi Strategi CTAP Selandia Baru

Di masa jadi korektor itu saya gamang apakah saya akan mampu menulis karya yang bagus? Kemudian saya juga sempat menyimak Al­bert Camus, Penerima Ha­diah Nobel Sastra 1957: “Setiap orang, dengan alasan yang kuat, setiap seniman, sastrawan, ingin diakui.” Lalu, apa kelak saya bisa diakui, diterima, dalam blan­tika sastra? Untuk itu, saya membatin, bahwa saya harus melahirkan karya bermutu, betapa pun relatif dan atau absurd ukuran bermutu itu! Saya memang tergila-gila sesudah membaca dan mem­­baca ulang kehebatan pan­tun, soneta, sajak-sajak mo­dern Indonesia, Salah Asuhan, Azab dan Sengsara, Siti Nurbaya, Merantau ke Deli, Belenggu, Senja di Ja­kar­ta, Merahnya Merah, Godlob, ratusan bahkan ribuan puisi dan cerita pendek.

Di masa jadi korektor, di zaman BMI dan RMI  itulah, saya menulis novel Gumam yang entah mengapa, berani-berani saja saya menyer­takan ke Sayembara Penulis Roman DKJ 1976. Ternyata ada 43 naskah roman yang menyertai, dan Gumam termasuk naskah (novel) yang layak diterbitkan seba­gai bacaan biasa. Tujuh nas­kah lain yang direko­men­dasi adalah Mata-mata (Su­par­to Brata), Di Atasnya Pepuingan (Tri Rahayu Pri­hat­mi), Jatuhnya Benteng Batu Putih (Mohayus Abu­komar), Maryati dan Ka­wan-kawannya (Suwarsih Djojopuspito), Keok (Putu Wijaya), Jembatan (Edi­ruslan Pe Amanriza) dan Warisan (Chairul Harun). Pada Sayembara 1976 itu tidak ada Juara I. Juara II diraih Upacara oleh Korrie Layun Rampan dan Juara III Pembayaran oleh Kowil Daeng Nyonri (Sinansari ecip, yang kelak juga saya kenal baik). Dewan Juri: H.B. Jassin, Ali Audah, Mh. Rustandi Kartakusuma, Do­dong Djiwapradja, dan M. Saleh Saad.

Baca Juga : Jatim Diprediksi Hujan Usai Gempa Malang M 6,1, BMKG: Waspada Longsor-Banjir

Gumam benar-benar me­­­le­­cut saya. Saya siasati dan pelajari lagi novel-novel bermutu, yang selalu dibi­carakan, didiskusikan, di­ang­gap terbaik. Empat tahun kemudian, 1980, saya kem­bali ikut Sayembara Penu­lisan Naskah Roman DKJ. Selama tiga tahun saya me­nu­lis Bako yang pada awal­nya hendak saya beri judul Mendiang atau Silsilah. Pe­ngerjaan Bako benar-benar berpeluh, lima kali ketik ulang, dengan mesin ketik biasa. Paling akhir, harus pakai lima lembar kertas karbon setiap kali mengetik rangkap enam. Dan penge­tikan harus diulang total dari baris pertama di halaman yang sama bila terjadi salah ketik di baris ke duapuluh. Salah ketik saja bisa diakali, bisa dihapus. Tetapi, celaka, ada kata yang tertinggal, atau ada frasa yang harus ditam­bahkan! Mana ada tip eks, mana ada laptop pada tahun itu. Betul-betul kerja keras! Sekarang? Menyunting nas­kah alangkah mudah. Dari halaman tujuh bisa langsung berpindah ke halaman tujuh puluh.

Dan, alhamdulillah, luar biasa. Bako dinyatakan men­jadi satu di antara Tiga Peme­nang Utama. Disusun menu­rut abjad, Tiga Pemenang Utama itu adalah Bako (Dar­­man Moenir, Padang), Hara­pan Hadiah Harapan (Nas­jah Djamin, Yog­yakar­ta), Olenka (Budi Darma, Sura­baya). Ada lima Peme­nang Harapan: Den Bagus (Sudar­moko, Surabaya), Dicari Hari yang Cerah (E. Noh­bi, Jakar­ta), Ketika Lam­pu Berwarna Merah (Ham­sad Rangkuti, Jakar­ta), Merdeka (Putu Wijaya, Ja­karta), dan Panggil Aku Sa­kai (Ediruslan Pe Aman­ri­za, Pekanbaru). Nas­kah ma­suk 25, hanya 23 yang me­­menuhi syarat. Dewan Ju­ri: Ali Audah, Sapardi Djo­ko Damono, Dami N. To­da, Toeti Heraty Noerha­di.

Merayakan kemenangan Bako, A.A. Navis menjamu saya dan keluarga makan bersama di sebuah rumah makan terkenal “Serba Nik­mat” di Kota Padang. Ja­muan itu dihadiri oleh Gu­ber­nur Sumatera Barat, Wa­li­kota Padang, beberapa Guru Besar, sastrawan, bu­da­yawan, dan seniman terke­muka, berjumlah sekitar 40 orang. Semasa Navis hidup, tradisi merayakan keme­nangan itu berlanjut.

Ajip Rosidi dari PT Pus­ta­ka Jaya menyurat, penerbit yang dia pimpin dan asuh sedia menerbitkan Bako. Saya terlambung! Pustaka Jaya mau menerbitkan?! Tetapi ada syarat, kalau boleh, judul diubah: Keluar­ga Ayah atau apa. Saya galau. Bukankah saya sama sekali belum punya naskah sastra yang terbit menjadi buku? Tiba-tiba ada tawaran luar biasa. Namun, setelah saya pikir, judul tidak usah di­ubah, dan biarlah Bako be­lum terbit. Pada hemat saya, pada diksi bako ada sistem dan sekaligus kebaruan. Pa­da akhirnya tawaran untuk menerbitkan Bako itu datang dari PN Balai Pustaka. De­ngan acc Redaktur Sastra Soetjipto, Soebagio Sastro­wardojo, Abdul Hadi W.M., dan Hamid Jabbar, saya menanda-tangani kontrak penerbitan dengan BP. Para redaktur menjelaskan, di sana-sini ada  penyuntingan, dan saya setuju. Dari sinilah saya tahu dan kemudian belajar banyak teknik pe­nyun­tingan naskah. Pada cetak pertama, Bako terbit 5.000 eksemplar, dan saya menerima wesel royalti pe­ner­bitan. Biarpun tidak ba­nyak, alangkah enak mem­beri makan bini dan anak-anak dengan honor karya sas­tra. Syukran. Sampai 2013, Bako sudah tujuh kali dicetak BP (termasuk dua kali untuk naskah elek­tronik). Pada akhir 2012, Dewan Kesenian Jakarta pun melakukan digitalisasi terhadap Bako. *

 

DARMAN MOENIR
(Sastrawan)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]