Dari Debur Ombak, Hingga Cucuik Langkitang


Jumat, 28 Agustus 2015 - 17:56:10 WIB
Dari Debur Ombak, Hingga Cucuik Langkitang

Ketika matahari turun di ufuk barat, germerlap lampu mulai menyala mene­rangi seluruh pelosok kota. Kota Padang, Ibu Kotanya ranah minang Su­matra Barat (Sumbar) ini tidak hanya menyajikan keelokan disiang hari na­mun juga menyajikan sejuta keindahan di malam hari.

Baca Juga : Kolam Pemandian Hotwater Boom Solsel Tetap Buka, Satpol-PP Gelar Patroli

Jika berkunjung ke Pa­dang, jangan lupa mampir di kawasan pantai Padang (taplau) ketika malam. Wi­sa­­tawan akan menikmati sejuknya angin laut dima­lam hari dan kerlap kerlip lampu kapal yang terlihat dari bibir pantai.

Ada yang menarik, keti­ka melihat sosok penjual Langkitang dan Pensi di kawasan jembatan Muaro Lasak, Pantai Padang. Mo­ny Yulia Sandy, dara manis kelahiran 20 tahun silam. Wajahnya  yang anggun, tutur bahasa yang lembut membuat penikmat kuliner olahan siput betah berlama-lama menikmati suasana pantai.

Baca Juga : Hati-hati! Eksploitasi Anak Rawan Terjadi di Wisata Indonesia

“Bagaimana tidak be­tah, lha penjualnya yang anggun, lembut dan cantik. Selain itu, rasanya yang unik merupakan pilihan,”tutur Boy seorang pelanggan se­tia Mony.

Jika sebelumnya ne­tizen dihebohohkan oleh sosok Ninih, gadis penjual getuk yang berada di Jakarta Selatan.Mendadak Ni­nih menjadi obrolan di jejaring sosial karena dianggap ter­lalu cantik sebagai penjual getuk di pinggir jalan.

Baca Juga : Sandiaga Uno Mengaku Merinding Saat Salat Isya di Hotel Marbella Anyer, Ada Hantu?

Kali ini, dara manis kelahiran Padang, Mony tanpa canggung dan malu menjajakan Langkitang dan Pensi di pinggir pantai Padang. Diterangi lampu seadanya beratapkan terpal, beralaskan meja segi empat diamana diatasnya berderet toples yang berisi siput panjang dengan kuah gulai dan toples yang lain berisi kerang berkuah bening dengan daun bawang. Ya, itu lah langkitang dan pensi cemilan bergizi khas pantai padang.

“Kenapa Mony harus malu, pekerjaan Mony ha­lal. Kalau mencuri iyalah malu, Mony berjulan meno­long orang tua bang,”dengan nada lembut dara manis tersebut bertutur.

Baca Juga : Pariwisata Era Baru, Sandiaga: Berbasis Alam Terbuka

Dara yang hobi menari tersebut bercita-cita men­jadi seorang pramugari, namun karena niat tulusnya ingin membantu orang tua membuat Ia harus bersabar untuk menggapainya. De­ngan motto”Menjadi Orang Sukses dan Mem­bahagia­kan Orangtua” dara berzo­diak Gemini itu optimis menggapai masa depan.

“Insyaallah, tahun de­pan Mony melanjutkan ku­liah dan semoga cita-cita dapat diraih,sekarang fokus bantu orang tua du­lu,” tandas Mony.

Setiap pagi, Ia dan orang tuanya membeli pensi dan langkitang di Pasar Pagi. Rata-rata dalam sehari  langkitang dan pensi bisa habis 10 sampai 15 liter, dimana harga perliter berki­sar Rp.5.000 sampai Rp7.000.

Penghasilan dengan berjualan langkitang dan pensi diakui Mony mampu menopang ekonomi ke­luarganya. Dalam sehari Ia mampu meraih omset pen­jualan mencapai Rp.300 ribu sampai Rp.500 ribu.

Sedangkan untuk pe­ngo­lahan langkitang mema­kan waktu yang lama. Mem­bersihkan ekornya satu persatu dengan dipo­tong, selanjutnya dicuci bersih dan direbus dalam waktu minimal 2 jam.

Mungkin tidak banyak yang tahu dengan Lang­kitang. Langkitang merupa­kan sejenis moluska yang hidup didalam cangkang. Sebenarnya Langkitang ham­pir mirip dengan keong namun cangkang Lang­kitang sedikit lebih panjang dan ramping.

Sebagian besar masya­rakat Indonesia sudah ti­dak asing lagi dengan ber­aneka ragam olahan keong. Namun langkitang tampil beda dengan dimasak de­ngan kuah gulai.

Awalnya langkitang di­cuci bersih. Kemudian se­telah bersih dimasukan kedalam kuah gulai yang telah mendidih yang terdiri dari campuran santan ke­lapa kental,cabe, laos, ku­nyit, jahe, bawah merah dan bawang putih yang te­lah dihaluskan. Untuk me­ngu­rangi bau amis di tambah­kan dengan daun jeruk nipis dan asam kandis.**

 

Laporan:
JEFLI

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]