Kuda Pelajang Bukit


Jumat, 28 Agustus 2015 - 17:58:15 WIB
Kuda Pelajang Bukit

Tokoh Budi; yang entah kenapa terlupakan, yang sebetulnya sering kugunakan di dalam cerpen, yang (sebe­lumnya) memang kuputus­kan menjadi tokoh keras kepala, enggan mengalah begitu saja. Dia berhasil keluar dari jebakan, menarik secarik kertas dan alat tulis, lalu melemparkanku ke negeri antah berantah”yang kemudian dinamakannya: Negeri Fiksi.

Baca Juga : Raih 100.000 Penonton, Tarian Lengger Maut Menjadi Film Indonesia Terlaris pada Libur Lebaran 2021

Singgahlah sebentar di Negeri Fiksi

Di negeri ini, hiduplah seorang lelaki yang telah dikutuk menjadi kuda. Hi­dupnya selalu sengsara. Apa pun pengorbanannya, telah dilarang menghargai! Dia harus hidup penuh pen­deri­taan. Dan setiap tokoh di dalam negeri, akan memang­gilnya dengan: Kuda Pela­jang Bukit[1].

Baca Juga : Duh! Ayu Ting Ting Sungkeman, Netizen Nyinyir soal Penampilan Sang Ibunda

Setiap hari, Kuda Pela­jang Bukit harus memenuhi segala kebutuhan manusia yang berbahagia. Dia dila­rang mengeluh. Terlebih membantah. Dia harus mela­kukan segala sesuatunya dengan tulus. Tanpa upah dan tanda jasa. Dan mari kita saksikan penderitaannya!

“O, kau telah menjelma penulis rupanya.”

Tokoh Budi mengelus jenggotnya, lalu me­man­dangku penuh dendam. “Bu­kankah roda pedati mesti berputar? Untuk itulah. Agar kau, bisa pula menik­mati derita tiap putaran!”

Malam belum sepenuh­nya habis. Di ufuk timur, Kuda Pelajang Bukit belum melihat cahaya kemera­han” seperti hari yang sudah-sudah. Belum terdengar alunan adzan di surau-surau. Belum pula tercium we­wangi embun di lidah daun! Tetapi dia harus manggut. Mesti menurut majikan yang penuntut. Sebelum pagi; dia harus mengangkut beban, balik berjalan dan menjaga sejumlah barang titipan.

“Hari ini, anakku akan menikah. Maka angkutlah saluak, baju gadang basiba, sarawa guntiang ampek[2], pelaminan, barang lain ke­per­luannya dan barang-barang kebutuhan bininya! Bantu kehidupannya dan menetaplah dalam suru­hannya!”

Kuda Pelajang Bukit mu­lai memikul, merangkul pe­dati lalu berjalan meninggal majikan. Semula dia mele­wati orang-orang yang me­rayu. Lalu meneruskan lang­kah menuju kelok dan tan­jakan. Selepas turunan, dia menyeberangi sungai se­belum mendaki bukit nan kian menjulang. Beberapa orang balik merayu.

“Aduh, singgahlah seben­tar di Tanah Datar. Di negeri yang ikannya banyak dan airnya dalam. O, tentu bu­kan untuk menangkap ikan. Tapi mengangkut beban di kedalamannya.”

“Lebih baik di lubuk Agam. Ikannya liar. Airnya keruh. Tentunya akan sangat menyenangkan, melihat kau; lebih menderita dalam beban.”

“Terlebih lagi di 50 Ko­to. Ikannya memang jinak. Airnya pun jernih. Tapi kau akan lebih senang, bila me­ngangkut beban dalam lubuk­nya yang berlintah.”

Tentu saja, itu tiga rayuan nan menggoda. Tetapi bagai­mana mungkin, dia bisa memilih meskipun satu di antara. Telah diikrarkannya, seluruh ketulusan untuk majikan. Dia akan me­ngan­tar beban ini hari. Hari lain, menunggu lain beban anak majikan. Kuda Pelajang Bu­kit terus berjalan.

Usai mendaki bukit men­julang, melewati jalan berlumpur dan padang ila­lang, tibalah Kuda Pelajang Bukit di rumah Ishaq”anak majikan.

Semula, Ishaq melempar pujian untuk beban lain di atas pundak. Sebentuk basa-basi karena telah terangkut barang kehendak. Kemu­dian, Ishaq mundur selang­kah, menoleh pintunya, lalu membuat corong” mengu­rung mulut dengan kedua telapak tangan, dan, “Ooo, Diak Sayang. Keluarlah kau walau sebentar.”

Dari balik pintu, tam­paklah seorang perempuan yang tak terlalu tinggi dan tak terlalu pendek. Ba­dan­nya tak terlalu gemuk dan tidak pula kurus. Rambutnya panjang sebahu. Baik mata, hidung dan bibirnya, cukup elok dalam pandangan. Dia tengah berjalan. Dan pe­rempuan itu...

“Perkenalkan. Ini...” Is­haq telah menggenggam ta­ngan­nya. “Martalita, perem­puan yang sebentar lagi aku nikahi.”

Aku mendongak. Dan di luar sana; Tokoh Budi masih tersenyum, kadang gelak, menggeleng-gelengkan ke­pa­la seraya menulis kertas. Ah, kurang ajar betul. Aku memang pernah menja­di­kan­nya tokoh di beberapa cerpen”memainkan takdir, lalu menyiksanya. Tetapi belum sekalipun, aku per­nah mengutuknya menjadi binatang (terlebih sebagai kuda pengangkut beban). Belum lagi... Ah, anjing! Aku memaki di dalam hati. Ke­mudian memelototinya.

“Heh! Siapa suruh kau mematutku seperti itu? Di sini, akulah tuhanmu. Kau tak lebih dari seekor kuda dan, tugasmu, sekedar pe­ngangkut beban!” Tokoh Budi; kembali memandang kertas, mencoret beberapa kalimat dan tampak berpikir seraya mengurut jenggot, lalu menulis...

Pernikahan berlangsung cepat. Tapi jalan hidup kian melambat. Ishaq telah resmi memiliki Martalita, dan Kuda Pelajang Bukit turut bahagia untuk kebaha­giaan­nya. Dalam keseharian, Mar­talita...

Bagaimana mungkin; Tokoh Budi, turut membawa Martalita? Seharusnya, pe­rem­puan terkasihku ini masih bergalung di relung hati.

...senantiasa bermanja. Telah diajukannya pula satu pinta. Bahwa Ishaq, mesti mengajaknya berkeliling berkuda.

Ah! Itu sangat berle­bihan! Bagaimana mungkin aku bisa tulus hingga habis kisah? Tapi, ah, sudahlah. “Di negeri ini,” katamu, ya, aku harus sadar diri. Aku; sekedar tokoh yang takdir­nya telah ditentukan, yang mesti manggut, menurut, menanti ketetapan yang entah­lah”entah menderita lalu mati dan dihidupkan kembali, balik sengsara, mungkin pula bahagia di akhir kisah, atau, tak menu­tup kemungkinan: aku di­biar­kan kekal dalam ratapan.

Di punggung kuda, Mar­talita menyandarkan badan ke tubuh Ishaq. Mereka saling pandang. Membuka bibir; saling mendekat, sa­ling melekat, saling melu­mat. Terlepas sebentar, un­tuk balik memulai. Perla­han, tangan Ishaq menjamah dahi, turun ke pipi, naik ke telinga dan meraba bela­kangnya, menyusur leher, lalu menjelajah dada berla­ma-lama”meremas, memu­tar, memelintir. Martalita? Tersenyum pasrah dalam desah. Kuda Pelajang Bukit? Melangkah lebih pelan! Dia mesti mendengar, menerka lanjutan.

***

Aku; menyelipkan pena di sela rambut dan telinga, meletakkan kertas, lalu ber­topang dagu di perbatasan. Tak lama, datanglah seekor kuda”tampak bergegas mem­bawa sepasang pe­ngan­tin berbagagia, kemudian bersikeras agarku menyu­dahi kisah. Kupandang se­jenak mata kuda, yang se­dang mematut seperti me­meram dendam.

Sejenak kemudian, aku mengalih pandang. Menatap empat mata di sepasang wajah, yang balik melirik”meski lelah dalam gairah.

“Tampaknya, kami ha­rus sering-sering berkuda. Bukankah begitu menur­ut­mu?” Ishaq meminta pan­dangan.

“Ya, sangat menyenang­kan. Lebih terasa di pung­gung kuda.” Martalita menambahkan.

Tokoh Budi memandang Martalita penuh arti. “Oh, ya? Teruskanlah.” Lalu me­ngalih pandangan, mematut lekat ke wajahku. Kemudian berkata, “Ah, kau memang pemikul yang pandai.”

Ya, akan kupikul sampai batas. Tapi ada satu hal yang mesti kau ingat, bahwa kita, sebatas dua tokoh di dalam dua potong cerpen. Takdir kita memang digariskan yang menuliskan. Saat ini, kau memang tuhanku di Negeri Fiksi. Sementara aku, ah, bukankah kisah ini belum usai? Masih ada ke­jutan sebelum akhir cerita. Dan, kaupun patut cemas!

 

Karya :
BONI CHANDRA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]