Kaki Lima yang Kini Bercita-cita Jadi Bupati


Jumat, 28 Agustus 2015 - 18:03:33 WIB
Kaki Lima yang Kini Bercita-cita Jadi Bupati

Sejak kecil, Azwar kecil mengalami masa-masa sulit ketika dirinya duduk di bangku SMP di Kecamatan Pangkalan. Karena keter­batasan ekonomi, dirinya rela berjalan kaki dengan menelusuri jalan tanah di kawasan  hutan hingga 45 kilometer. Perjalanan sejauh itu, terpaksa dilakukan Az­war untuk pergi ke sekolah demi menuntut ilmu.

Baca Juga : Iedul Fithri: Geliat Ekonomi, Momentum Keluar Resesi

“Saya SD dan SMP di kampung. Kemudian,  SMA baru ke Kota Paya­kumbuh. Yakni di SMAN 2 Paya­kum­buh. Waktu duduk di SMP, saya harus berjalan kaki hingga 45 kilometer dari rumah ke sekolah. Jalan sepi dan di kawasan hutan.  Saat itu kendaraan tidak ada dan ke­hidupan keluarga juga hanya sebagai petani,” kisahnya.

Setamat dari SMAN 2 Payakumbuh, Azwar Ches­putra mencoba mengadu nasib ke Pulau Jawa sambil melanjutkan pendidikan. Dirinya mencoba untuk ber­jualan sepatu di kaki lima untuk mencari uang pem­bayar  kuliah demi masa depan dirinya.

Baca Juga : Pembangunan dan Keadilan bagi Padagang Kaki Lima

Sebagai seorang peda­gang, darisanalah Azwar Chesputra mulai bergaul dan akhirnya memiliki rela­si yang cukup kuat. Berkat sabar, bekerja keras dan kemauan diri, itulah yang dilakukan Azwar hingga jadi orang besar saat ini.

Di tingkat elit ataupun petinggi-petinggi, siapa yang tak kenal dengan Azwar Ches. Tak hanya di Sumbar apalagi di Kabupaten Lima­puluh Kota, hingga di ting­kat nasional, sosoknya tidak asing lagi.

Selain memiliki ber­ba­gai perusahaan skala na­sional, suami dari Ko­mariah tersebut dikenal sebagai politisi senior di Sumbar maupun Riau. Azwar me­mulai karir politiknya pada era Reformasi lalu.

Saat itu, pada usia muda, dirinya memberanikan diri untuk jadi Bupati Lima­puluh Kota. Saat itu juga, pe­mi­lihan bupati masih dipilih oleh DPRD. Untuk me­muluskan niatnya itu,  Az­war pun beru­paya menjalin komunikasi antar pengurus partai.

Seiring waktu, Azwar pun sadar.  Azwar me­nya­dari dirinya masih tergolong muda dan belum me­miliki pengalaman banyak pada bidang politik, akhirnya dia menarik kembali niatnya itu.

Setelah tidak jadi men­calonkan diri, akhirnya Az­war memutuskan diri untuk me­rantau lagi ke daerah tetangga, Provinsi Riau. Di Riau, selain jadi pimpinan berbagai pe­rusahaan, Azwar juga terus belajar politik dengan teman dan senior-seniornya.

Bertahun-tahun me­ne­tap di Riau, ternyata upa­ya Azwar untuk belajar ber­politik membuahkan hasil. Azwar terbilang cukup cer­das untuk berpolitik. Ia juga termasuk orang beruntung. Pasalnya, meski dibesarkan di Sumbar, tetapi ia mampu meyakinkan puluhan ribu masyarakat Riau hingga menghantarkan dirinya ke gedung parlemen di pusat.

Pada saat Pemilihan Legislatif 2004 dari Daerah Pemilihan (Dapil) Riau, ia mengumpulkan 37.126  sua­ra dan berhasil duduk di kursi DPR RI.  Pada saat itu, Azwar adalah salah seorang di antara tiga  politisi dari Partai Golkar yang men­dapatkan kursi di parlemen.

Selama jadi anggota DPR-RI periode 2004-2009, meski dari daerah pemilihan Riau, tetapi Azwar tidak melupakan kampung hala­mannya. Berbagai program pem­bangunan yang ber­sumber dari APBN,  turut di bawa ke Provinsi Sumbar. Teru­tama di Kabupaten Lima­puluh Kota, Azwar  telah banyak memperjuangkan pembangunan bagi ma­sya­rakat. Seperti jalan, jembatan, sektor pertanian dan pe­ternakan.

Pada bidang organisasi, Azwar sudah memulai sejak di bangku SMA hingga ma­ha­siswa dengan aktif di orga­nisasi sekolah maupun inter­nal kampus. Azwar juga me­rupakan pencetus pertama berdirinya Ikatan Alumni Kampus Flamboyan (Ika­f­las) atau komunitas alumni dari SMAN 2 Kota Pa­ya­kum­buh.

Beberapa organisasi yang pernah diikuti Azwar adalah sebagai Ketua DPP Angkatan Muda Pem­ba­haruan Indonesia (AMPI) dan Ketua DPP Komite Na­sional Pemuda Indonesia (KNPI) dan berbagai orga­nisasi lainnya.

Meski banyak meng­ha­biskan waktu di rantau, te­tapi Azwar tidak pernah melupakan kampung hala­mannya. Hampir setiap bu­lan, Azwar selalu pulang kampung untuk melihat kon­­disi sanak famili di kam­pung. Tak hanya itu saja, Azwar juga sering me­man­faatkan berkeliling Lima­puluh Kota ketika berada di kampung halaman.

Dari awal, Azwar Ches­putra memang tidak ber­keinginan untuk men­ca­lonkan diri sebagai Bupati Ka­bupaten Limapuluh Ko­ta. Malahan,  dirinya lebih memberikan kesempatan dan dukungan kepada to­koh-tokoh Lmapuluh Kota untuk jadi bupati ke depan. Seiring dengan waktu, ka­rena adanya desakan yang kuat datang dari masyarakat serta dari politisi di Kabu­paten Limapuluh Kota, Az­w­ar masih berpikir panjang untuk jadi bupati.

Sebelum memutuskan diri untuk ikut Pilkada, Azwar sempat turun ke ma­sya­rakat dan melihat kondisi daerah. Setelah mengetahui kondisi sebenarnya dari Kabupaten Limapuluh Kota yang memang jauh tertinggal dari daerah lain, membuat Azwar jadi prihatin.

Dengan kondisi tersebut, akhirnya jiwa Azwar Che­s­putra terpanggil untuk me­lakukan perubahan bagi  Ka­bupaten Limapuluh Ko­ta ke­depan. Adanya do­rongan yang kuat dari ma­sya­rakat, didu­kung politisi dan pang­gilan jiwa, Azwar pun mem­bera­nikan diri ma­ju sebagai ca­lon bupati Limapuluh Kota, ber­pasangan dengan Yunirwan Khatib. (*)

 

Laporan :
DADANG ESMANA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]