Kesaksian Personal (Bagian 3)


Jumat, 28 Agustus 2015 - 20:36:23 WIB
Kesaksian Personal (Bagian 3)

Diskusi tentang Pram memang berlangsung di New York. Di AS, peserta diajak keliling ke 13 Negara Bagian, Pantai Timur, Pantai Barat, dan Amerika Tengah, Sante Fee. Sungguh-sungguh, sepuluh tahun sebelum itu, 1978, Wisran Hadi yang sedang mengikuti IWP menyurati saya, dan menyuruh saya membeli koper dan baju panas untuk juga terbang ke AS. Mungkin WH melucu, atau melagak, entahlah, tetapi itu memang terjadi: saya ke AS, diundang sebagai seorang sastrawan Indonesia. Kecuali untuk fiskal, tidak serupiah pun saya menggunakan uang dari Sawah Tangah, kampung-halaman saya. Dan sepulang saya dari AS, dengan sedikit gegar budaya, istri saya bertanya: apa rumah kita bisa direhabilitasi?

Melalui Bako pula saya berkenalan dengan beberapa calon sarjana S1, S2, S3 di pelbagai perguruan tinggi di Indonesia dan luarnegeri. Mereka bertanya tentang dan mengenai (novel) Bako. Bahkan dari Universitas Udaya, Bali, saya menerima pertanyaan yang semua dimulai dengan kata apa, siapa, mengapa, bilamana dan bagaimana. Apabila semua pertanyaan itu saya jawab, maka sebuah skripsi pun rampung.

Kembali ke RMI, saya masih mengikuti biarpun mungkin tidak secermat dulu. Sesungguhnya saya pernah diminta untuk memberi ulasan (terutama sajak dan cerpen), tetapi saya khawatir tidak mampu menjaga kesinambungan. Padahal inilah yang pernah ditawarkan Abrar Yusra ketika kami sama bermarkas, sama mengajar, di RP INS Kayu Tanam. Menurut Abrar Yusra, saya suka membaca dan punya potensi untuk menulis kritik sastra. Pula, biarpun (pada masa itu) ada H.B. Jassin, M.S. Hutagalung, S. Boen Oemarjati, Mursal Esten, Lukman Ali, Rustandi Kartakusuma, tetapi kritikus sastra Indonesia masih sangat sedikit. Pendapat Abrar Yusra menarik perhatian, dan saya berbicara dan mengulas sajak-sajak Rusli Marzuki Saria dan Abrar Yusra dalam diskusi sastra di Pusat Kesenian Padang. Paling menarik, kedua tulisan itu kemudian dimuat Kompas (1975 dan 1976). Namun menulis kritik sastra itu tidak selalu saya lanjutkan. Saya ingin menulis cipta sastra kreatif. Namun, sungguh-sungguh, tidak mudah.

Biarpun demikian kritik terhadap karya-karya sendiri senantiasa saya lakukan, sampai kini, dan entah sampai kapan. Pengalaman dari Bako yang disunting Redaktur Sastra Balai Pustaka mengajari saya untuk menyunting puisi, cerpen, novel, esai dan tulisan sendiri, berkali-kali. Saya mengupayakan agar tulisan saya tidak (perlu) disunting lagi. Itu terjadi pada novel-novel saya Dendang (BP, 1988, mengantarkan saya untuk menerima Hadiah Sastra 1992 dari Pemerintah Republik Indnesia) dan Aku Keluargaku Tetanggaku (BP,  1993, Meraih Hadiahn II Sayembara Novel Kartini 1986), Andika Cahaya (Akar Indonesia, 2012), dan novel-novel yang belum terbit, termasuk novel yang terakhir, Paco-paco (2012). Novel-novel terbit itu tidak mengalami penyuntingan, kecuali oleh saya sendiri. Satu tanda titik, tanda koma, tanda seru, satu diksi, frasa, kalimat, satu alinea, bab, saya perhitungkan dengan cermat. Judul! Ini yang tidak kalah penting, perlu dipertanggungjawabkan. Jangan sebagai akibat rayuan pasar atau penerbit lalu pengarang mau saja mengubah dan mengganti judul.

Paling mengesankan, ingin saya sebut, adalah ketika Wiswan Hadi minta saya untuk membaca naskah novel Tamu pada 1992. Tidak sampai satu hari satu malam, naskah itu (175 halaman kuarto satu setengah spasi) rampung saya baca. Tetapi, celaka, hampir setiap alinea, setiap halaman, setiap bab, nakah novel pertama Wisran Hadi itu saya corat-coret, dengan tinta merah lagi. Itu memang kerja penyuntingan yang ganas tetapi bukan dengan kemarahan. Guru dan sahabat saya itu tidak keberatan, bahkan berterima kasih, dengan tambahan: ko ndak bahonor do, Man (ini tidak punya honor, Man). Saya terpingkal. Tamu kemudian dimuat bersambung di Republika, 1994) dan diterbitkan Pustaka Utama Grafiti, 1996. Bahkan dinobatkan jadi buku terbaik. Dan, kemudian, beberapa naskah Wisran Hadi (bukan lakon) saya sunting. Terakhir saya menyunting novel Persiden Wisran Hadi (Unggulan Lomba Roman DKJ 2010, diterbitkan Bentang, 2013).

Penyutingan saya lakukan terhadap sejumlah naskah buku dari Singgalang melalui Khairul Jasmi dan dari Zaili Asril (lebih-kurang 800 halaman) yang mengimbali dengan honorarium relatif memadai. Saya tidak meminta, tetapi doa untuk menolak rezeki memang belum diayatkan. Saya pun menyunting naskah-naskah buku yang ditulis oleh Buya Bagindo Leter, novel Nelson Alwi, naskah tulisan Sjamsir Roust, cerita rakyat Yulizal Yunus, dan secara lisan saya pernah berdiskusi dengan Syarifuddin Arifin mengenai naskah kumpulan puisi Maling Kondang. Dan saya pun, Mahabesar (ini ejaan yang baku) Allah SWT, saya diajak oleh Kementerian Agama RI bekerja sama dengan IAIN Imam Bonjol Padang, 2012-2014, untuk memvalidasi terjemahan Kitab Suci Alquran dari bahasa Indonesia ke bahasa Minangkabau.

Ada bahkan banyak naskah yang tidak sempat saya baca dan sunting. Selain waktu yang terbatas, saya beranggapan, naskah-naskah itu lebih baik disunting oleh orang lain. Saya bukan menganggap, naskah-naskah itu populer atau bagaimana. Terakhir, Juli 2015, Eddy Pranata PNP minta saya untuk memberi catatan sampul belakang terhadap kumpulan puisi Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (Shell Jagat Tempurung, 2015). Saya minta semua puisi, hampir lima ratus (judul), dikirim dan saya baca sebelum saya putuskan memberikan testimoni, endorsement, atau apa pun namanya. Sesungguhnya saya termasuk orang yang tidak suka penggunaan catatan kulit belakang. Saya percaya, naskah yang baik, puisi yang bagus, novel bermutu, berbicara langsung dengan para pembaca, tanpa perantara. Tanpa pengakuan saya, Eddy Pranata PNP sah jadi penyair.

Dan tulisan-tulisan saya untuk surat kabar dan majalah rata-rata lolos sensor, tanpa penyuntingan. Namun bukan tidak pernah, terjadi penyuntingan dan mendatangkan kelucuan. Saya menulis diksi melesat, sebagai contoh, tetapi oleh redaktur diubah menjadi meleset. Andai hendak mengubah, mengapa tidak bertanya melalui surat-e atau melalui pesan singkat. Itulah yang saya apresiasi pada Nasrul Azwar ketika masih jadir Redaktur Seni Budaya Haluan: hanya untuk satu kata, dia mau dan tidak malu bertanya. Dan ada pula naskah bagus yang saya kirim ke surat kabar Padang tetapi, tanpa kabar berita, tulisan itu tidak dimuat. Tetapi saya terlambung setelah artikel itu  dimuat Kompas, tanpa perubahan satu titik koma pun. Pernah pula naskah saya kirim ke Horison, ditolak. Tetapi naskah yang sama dimuat di Kalam.

Penggunaan kata ubah dalam berbahasa, sebagai contoh, yang bila diimbuh menjadi mengubah, berubah, perubahan, pengubahan, perlu diperhatikan secara saksama sehingga tidak tersua lagi kata berobah, perobahan, pengobahan. Akar kata ubah bukan rubah (nama binatang), robah (tidak ada pada Kamus Besar Bahasa Indonesia).  Begitu pula untuk diksi meletakkan, bukan meletakan, mengontrakkan, bukan mengontrakan. Risalah Di Bukittinggi kambing makan kelereng atau ke lereng perlu dipahami. Salat boleh di langgar (di sebagai kata depan) atau dilanggar (di sebagai awalan) harus dikuasai secara jeli. Saya ingin mengatakan, setiap penulis perlu khatam memakai EYD. Belum lagi dinamika bahasa yang melesat luar biasa cepat. Fenomena kealpaan berbahasa secara baku, baik dan benar tersua hampir di enam puluh buku sastra oleh pengarang-pengarang Sumatera Barat yang terbit selama satu dasawarsa terakhir. Penggunaan judul, penyampaian alinea pertama (cerpen atau novel), atau bait pertama (dari puisi) belum mengundang minat untuk melanjutkan pembacaan. Padahal judul dan alinena pertama (bait pertama) selalu punya magnit hebat agar karya itu dibaca sampai tamat. Saya memaksakan diri untuk membaca sebagian besar buku itu tetapi melelahkan! Penggunaan kredo puitika lisentia saja tidak cukup membela.

 

DARMAN MOENIR
(Sastrawan)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]