Songket Silungkang Butuh Inovasi Baru


Ahad, 30 Agustus 2015 - 18:33:53 WIB
Songket Silungkang Butuh Inovasi Baru

Menurutnya, songket Silungkang memiliki sifat kain yang keras dan kaku sehingga kurang nyaman dipakai sehari-hari, aki­batnya peluang pasar yang tersedia pun menjadi ter­batas, karena hanya bisa digunakan oleh orang-orang atau beberapa kegiatan ter­tentu saja.

Baca Juga : Waduh! Putin Murka, 10 Diplomat AS 'Diusir' dari Rusia

Pemberian motif yang terlalu banyak dan tidak me­ngin­dahkan nilai-nilai estetika serta selera pasar, di­kha­watirkan akan meng­hambat perkembangan pe­masaran hasil produksi peng­rajin, se­hingga pe­ker­jaan berbulan-bulan untuk meng­hasilkan songket yang berkualitas men­jadi sia-sia dan tidak memiliki nilai tambah bagi para pe­tenun songket, sebagai ujung tom­bak produksi song­ket Si­lungkang.

“Menurut pengamatan saya, hal itu juga dipicu oleh ketidakjelian para pedagang songket yang biasanya juga bertindak sebagai pemodal, untuk melakukan terobosan-terobosan seperti yang dila­kukan kerajinan jenis tekstil lainnya di Indonesia, seperti batik, ulos, songket Sambas dan lain sebagainya,” kata dia.

Baca Juga : Brutal! Aksi Penembakan Membabibuta Tewaskan Delapan Orang di Indianapolis AS

Dia mengatakan, untuk beberapa jenis songket yang ada, sebagian diantaranya sudah melakukan inovasi-inovasi baru sebagai salah satu strategi dalam meraih persentase pasar, semuanya masih mampu mem­per­ta­hankan keaslian motif yang dihasilkan walaupun sudah disesuaikan dengan per­kembangan zaman.

Khusus songket Silung­kang, motif yang muncul merupakan bentuk-bentuk yang sudah ada sejak awal dikenal, seperti motif Pu­cuak Rabuang, Saik Ga­lamai, Bijo Mantimun, Ka­luak Paku, Sirangkak Baku­ruang, Buruang Dalam Rim­bo dan lain sebagainya.

Baca Juga : Pentagon Konfirmasi Kemunculan UFO, dari Bulat hingga Lonjong

“Secara tradisi, motif tersebut harus diper­tahan­kan karena memiliki ke­khasan yang tidak dimiliki daerah lain, namun sebagai mahakarya seni pertekstilan yang membutuhkan penet­rasi pasar, tentu perlu di­p­i­kirkan bagaimana motif ter­sebut tidak selalu ditam­pilkan beriringan dalam selembar kain,” kata dia.

Terkait upaya pe­me­rin­tah kota itu untuk mem­perkenalkan songket secara luas di dunia internasional, sebagai individu yang pernah tinggal di kawasan Eropa dia mengingatkan tentang pen­tingnya mempelajari cara hidup serta kebiasaan ma­syarakat di kota-kota di benua itu yang menjadi pusat mode dunia.

Baca Juga : Gawat! RS India Kewalahan Hadapi Ledakan COVID-19, Seranjang Ditempati 2 Pasien

“Warga di Eropa dikenal sebagai kelompok ma­sya­rakat yang lebih menyukai keluwesan dan memiliki cara hidup yang simpel, fakta ini harus menjadi catatan apa­bila songket silungkang ingin menembus pasar masyarakat ekonomi Eropa,” kata dia.

Sementara itu, salah seo­rang pengusaha songket asal Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar, Putri Ayu(24), mengatakan pengrajin di­dae­rahnya sudah melakukan beberapa pengembangan dari jenis songket asal dae­rah itu.

“Salah satunya adalah dengan menggabungkan ke­ra­jinan songket dengan kera­jinan sulaman suji Koto Gadang dalam selembar kain, sehingga memun­cul­kan sebuah kreasi baru de­ngan menggabungkan jenis - jenis motif lama dari dua sumber kerajinan yang ber­beda,” kata dia.

Menurutnya, strategi ter­sebut cukup jitu dalam upaya meluaskan segmen pasar kerajinan songket karena lebih mampu mengikuti se­lera konsumen, yang tidak semuanya membeli dengan alasan nilai sejarah dan kar­ya seni.  (h/ans)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]