Petani Sawit di Ambang Kolaps


Ahad, 30 Agustus 2015 - 18:34:31 WIB
Petani Sawit di Ambang Kolaps

Petani menuntut Peme­rintah Kabupaten Pesisir Selatan turun tangan mena­ngani persoalan harga TBS. Minimal ada kejelasan pe­masaran dengan harga yang sebanding dengan biaya-biaya produksi.

Baca Juga : Penembakan di New York Tewaskan Bayi, Pria 23 Tahun Ditangkap

“Harga Rp200 per­kilog­ram bukan lagi mencekek, namun telah membunuh para petani sawit yang sema­ta-mata menggantungkan hidup pada tanaman ter­sebut,” kata Buyung Tuneh (65) petani sawit di Le­ngayang.

Ia berharap ada campur tangan pemerintah untuk mengatasi harga sawit di Pesisir Selatan, jika tidak para petani akan mengalami krisis keuangan yang ber­ujung pada krisis pangan. Harga jual saat ini hanya bisa untuk membiayai panen, tidak secuilpun yang dapat di peroleh para petani.

Baca Juga : Netanyahu Terkejut, Tentara Israel Bakar Diri karena Trauma Perang

Selanjutnya Direktur LSM Swara Pesisir Rizal­mala menyebutkan, Peme­rintah Kabupaten Pesisir Selatan tidak boleh diam menghadapi rendahnya har­ga TBS di petani. Harus ada upaya-upaya penyelamatan bagi petani, soalnya dampak dari rendahnya nilai TBS sangat banyak.

“Misalnya petani yang semata-mata meng­gantung­kan sumber ekonomi dari sini akan kolaps. Pembi­ayaan -pembiayaan keluarga akan terhenti, dan yang paling berbahaya adalah ancaman krisis pangan,” katanya.

Baca Juga : Terapkan Prokes Ketat, Saudi Wajibkan Vaksinasi Covid-19 untuk Jamaah Dua Masjid Suci

Disebutkannya, jumlah Kepala Keluarga yang meng­gantungkan hidup dari sawit ribuan. Kebutuhan rumah tangga, kesehatan dan pen­didikan bergantung di sini. Kawasan yang akan lumpuh akibat rendahnya harga sa­wit ini adalah Silaut, Lu­nang, Ranah IV Hulu dan Basa IV Hulu Tapan, Pan­cung Soal, Air Pura, Linggo Sari Baganti, Lengayang dan Sutera.

Pantauan Haluan, se­menjak lebaran 1436 H hingga saat ini telah terjadi lima kali penurunan harga dari Rp500 perkilogram, Rp450, Rp400, Rp350, Rp­300, Rp250 dan Rp200 di tingkat petani. Petani sawit terpantau sudah enggan me­ra­wat sawit mereka. Se­bagi­an petani bahkan membiar­kan saja sawit mereka ber­guguran dari tangkai buah. Namun, sebagian kecil ma­sih berupaya memanen aki­bat tidak ada pekerjaan lain, terutama kebun yang bera­da dipinggir jalan. Karena harga dipatok pedagang juga sangat tergantung pada tem­pat dan lokasi langsir.

Baca Juga : Bertemu AS, Netanyahu Sebut Pemerintah Iran Sebagai Rezim Fanatik

Menurut informasi toke harga yang ditetapkan oleh pabrik juga rendah. Tum­pukan sawit di depan per­kebunan warga tampak meng­gunung, begitu pula di tempat penampungan tau­ke.Petani sawit di Kambang Lengayang dan Sutera, men­jual tandan buah sawit segar (TBS) rata -rata menjual seharga Rp200 per kilog­ram. Sementara dari hasil penjualan itu, petani merugi dan tidak bisa menutupi biaya produksi.

Sementara Anwar (55), petani sawit Amping Parak menyebutkan, pihak tauke sawit tidak pernah menje­laskan alasan turunnya harga sawit tersebut. Namun aki­bat terpaksa sawitnya terse­but dijual dengan harga ren­dah.

Sementara ada warga yang tidak mau menjual sawitnya. Mereka mem­biar­kan sawitnya membusuk. “Kalu tauke tidak mau mem­beli dengan harga baik saya tidak jual. Biarlah buah sawit itu jatuh sendiri dari batang­nya,” katanya.

Sementara, Yudi (35) salah seorang tauke pengum­pul menyebutkan, harga buah sawit di perusahaan memang sedang anjlok, ma­ka terpaksa ditingkat petani harga sawit juga diturunkan.

“Dengan membeli Rp­200 atau Rp250, yang diper­oleh hanya cukup untuk biaya operasional. Sawit yang dibeli dari petani, nanti saya jual pula ke tauke induk semang. jadi keuntungan sangat tipis,” katanya.

Disebutkannya, kini TBS sedang menumpuk di­pab­rik, al hasil harga sawit turun. Ia juga tidak bisa memprediksi kapan harga kembali normal.”Kita tung­gu saja,”katanya.

Selanjutnya koperasi pe­ta­ni sawit yang ada di Kam­bang dan kawasan sekitarnya hingga kini belum mampu meme­cahkan persoalan an­jloknya harga sawit.Warga Pesisir Selatan berharap, di daerah itu dibangun pabrik pengolah CPO baru, dengan demikian bila produksi ber­lim­pah tidak terjadi penum­pukan produksi dan turun­nya harga sawit. (h/har)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]