RI Perlu Waspadai Gejolak Malaysia


Ahad, 30 Agustus 2015 - 19:03:31 WIB
RI Perlu Waspadai Gejolak Malaysia

Kurs Ringgit pernah berada di posisi dengan level 17 tahun lalu, dan menjadi mata uang terburuk di kawasan Asia. Bursa saham Malaysia juga ikut tertekan. Indeks KLCI ditutup di level 1,613.80 pada perdagangan Jumat 28 Agustus 2015. Indeks KLCI sempat sentuh level terendah sepanjang 2015 di kisaran 1,532,14 pada 24 Agustus 2015. Dana investor asing keluar dari Malaysia pun mencapai lebih dari 3 miliar Dolar AS sepanjang 2015.

Baca Juga : Menkes: Setiap Minggu Ada Varian Baru Virus Corona Masuk RI, Cegah Penyebaran dengan 3M dan 3T

Demonstrasi menuntut PM Malaysia Najib Razak lengser berlangsung sejak Sabtu hingga Minggu (30/8) malam. Mantan PM Mahathir Mohammad bergabung dengan massa. Ribuan demonstran Bersih 4.0 makin memadati wilayah Dataran Merdeka, Kuala Lumpur, Malaysia, tadi malam. Mereka kebanyakan duduk-duduk di depan panggung utama. Para demonstran beraksi meminta Perdana Menteri (PM) Najib Razak menang­galkan jabatannya karena isu skandal korupsi.

Kawasan Dataran Merdeka, Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (30/8 pukul 20.00  diguyur gerimis, namun para demonstran yang tampak mengenakan jas hujan dan payung untuk melindungi diri, tetap semangat mende­ngar orasi dari panggung. Suara terompet sendiri terdengar riuh di sepanjang jalan hingga di depan Masjid Jamek. Massa yang didominasi pemuda pemudi dari etnis Cina dan India ini membawa spanduk, poster, dan atribut lainnya yang menggambarkan keinginan mereka melengserkan Najib.

Baca Juga : Besok, 19 Perusahaan Mengawali Vaksinasi Gotong Royong

Mengapa pemerintah RI perlu mewaspadai kondisi pe­re­konomian dan politik Malaysia yang perkembangan ma­kin memburuk? Pertama, karena Indonesia berada satu ka­wasan dengan Malaysia sehingga berpotensi besar me­nim­bulkan persepsi negatif kepada investor asing terutama yang menempatkan investasi portofolio, bahwa kawasan Asia Tenggara sedang tidak aman bagi investasi. Dam­pak­­nya­ investor asing dapat menarik investasinya di Indo­ne­sia atau membatalkan rencana penanaman mo­dalnya, karena menganggap kawasan ini berisiko tinggi ba­gi investasi.

Kedua, perusahaan Malaysia juga banyak berinvestasi di berbagai provinsi di tanah air, terutama di sektor perkebunan, sawit, karet, termasuk juga sektor  minyak dan gas serta lainnya. Begitu situasi politik dan kondisi perekonomian Malaysia terguncang, otomatis kegiatan produksi perusahaan Malaysia yang ada di Indonesia akan terganggu. Ketiga, mengingat ratusan ribu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) bekerja di Malaysia. Ketika kondisi dalam negeri Malaysia tidak stabil, dan kegiatan produksi perusahaan terganggu, maka akan berdampak bagi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) bagi TKI. Akibatnya akan banyak TKI pulang ke Indonesia. Kepulangan TKI ke tanah air akan berlanjut menjadi pengangguran. Sedangkan di dalam negeri tengah marak PHK di banyak perusahaan. Muaranya, tentu angka pengangguran dalam negeri akan makin bertambah banyak.

Agar Indonesia tidak terkena dampak gejolak dalam negeri Malaysia, maka pemerintah Indonesia perlu melakukan beberapa hal. Pertama, berupa sesegera mungkin membenahi kondisi perekonomian dalam negeri, terutama yang disebabkan oleh kondisi internal. Kedua, memainkan politik bebas aktif di kawasan Asia Tenggara dalam upaya membantu memberikan masukan bagi Malaysia agar bisa segera menyelesaikan persoalan yang terjadi di dalam negeri Malaysia. Ketiga, memper­kuat pendataan lalulintas kepulangan TKI dari Malaysia. Keempat, mengimbau agar para TKI di Malaysia untuk tidak ikut terlibat dalam gerakan unjuk rasa di Malaysia. Tentu saja kita berahap gejolak politik dan ekonomi Malaysia bisa segera diatasi. **

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]