Kesaksian Personal (Bagian 4-Tamat)


Ahad, 30 Agustus 2015 - 19:04:12 WIB
Kesaksian Personal (Bagian 4-Tamat)

Saya tidak mengerti me­nga­pa rumah sakit harus menggunakan diksi hospital seperti Semen Padang Hos­pital? Keinggris-inggrisan? Ya, tetapi lucu dan fatal. Di RS Semen Padang, saya pernah bertanya dengan bahasa Inggris yang standar dan sangat sopan kepada dua petugas satpam? Malang sekali, mereka bengong, tidak mengerti pertanyaan saya. Ketika pertanyaan yang sama saya ajukan kepa­da tiga resepsionis, mereka tersenyum dan menjawab dalam bahasa Indonesia. Mereka mengerti, mungkin tidak mau melayani saya yang sok Inggris. Pertanyaan sesungguhnya adalah, apa­kah di RS itu semua orang harus menggunakan bahasa Inggris? Tidakkah sebutan Rumah Sakit Semen Padang lebih akrab, membang­ga­kan? Kalau ingin inter­nasio­nal juga, dahulukan teks bahasa Indonesia, sehingga nama itu menjadi Rumah Sakit Semen Padang – Se­men Padang Hospital.

Baca Juga : Menjelang Rabu Pahing, Bisik-bisik Reshuffle Kabinet Makin Kencang

Banyak contoh lain. Per­ta­nyaan mendasar, kalau bukan anak-anak bangsa Indonesia, siapa lagi yang harus merayakan peng­gu­naan bahasa Indonesia? Bang­sa Indonesia, bukan? Bagaimana membayar utang generasi sekarang dan men­da­tang terhadap upaya hebat M. Yamin dan kawan-kawan yang mengikrarkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928? Bagaimana kalau ba­ha­sa kebangsaan kita bahasa Jawa, atau satu di antara lebih daripada 500 bahasa daerah yang ada di Indo­nesia? Tidakkah terpi­kir­kan, negara tetangga Malay­sia, Singapura, Filipina, masih sering berdegus dan berkonflik dalam urusan bahasa nasional mereka?

Lebih daripada sekadar penguasaan bahasa dan “pen­cip­taan” bahasa, masalah sikap sastra, sikap budaya, menjadi tidak terhindarkan. Saul Bellow (sastrawan Ame­­­rika Serikat kelahiran Kanada, peraih Hadiah No­bel Sastra 1976), pernah menyatakan, bahwa kehi­dupan itu penuh godaan. Mau menjadi penulis popu­ler, oportunis, kagadang-gadangan, atau apa?

Baca Juga : Waspadai 10 Wilayah Ini Diguyur Hujan Sedang hingga Lebat

“Untuk siapa Anda me­nu­lis?” demikian perta­nya­an dilontarkan kepada Na­dine Gordimer, penulis terkemuka Afrika Selatan, peraih hadiah Nobel Sastra 1991. Pertanyaan ini memi­liki banyak turunan: dari manakah karakter dalam fiksi muncul? Apakah penu­lis harus berpijak pada rea­litas terdekat, berpihak pada keprihatinan yang dialami bangsa, ikut serta menen­tukan arus perubahan kon­disi­ sosial masyarakat? Apa­kah penulis harus memiliki kesadaran politik atau revo­lusi? Apakah karya dan cipta sastra memang memiliki makna bagi masyarakat dan pembaca yang tengah me­nga­lami ketidakadilan, ke­prihatinan, penindasan, atau kesewenang-wenangan? Sum­bangan apa yang wajib diberikan sastrawan pada  manusia?

Dalam pidato penye­rahan Hadiah Nobel Sastra 1991 di Stockholm, Writing and Being, Nadine yang wa­fat dalam usia 90 tahun menegaskan pendirian, tugas seorang penulis adalah me­nyua­rakan pembelaan terha­dap mereka yang tertindas di bagian dunia mana pun. Hal itu tecermin dalam karya-karyanya.

Baca Juga : Bantah Kabar Meninggal, Ustad Zacky Mirza Buat Video dari Rumah Sakit

“Kita bisa memiliki apa yang kita inginkan,” ujar Gabriel García Márquez, peraih Hadiah Nobel Sas­tra 1982, satu kali, “tetapi kita harus memperjuangkan agar bisa menikmati de­ngan la­yak.” Kini, Gabo, de­mi­kian sastrawan asal Kolum­bia ini akrab di­pang­gil, dicintai banyak orang kar­ya-karya besarnya di­baca dan dike­nang, bu­kan hanya selama seratus ta­hun, tetapi untuk selama-la­ma­nya.­ (Te­ri­ma kasih saya kepada Gus tf Sakai yang me­ngi­rimi saya ter­jemahan novel Mar­quez Seratus Tahun Ke­sunyian.)

“Mengapa Anda menu­lis? Mengapa Anda membe­rikan waktu anda untuk aktivitas yang aneh dan ti­dak jelas ini?” Orhan Pamuk, saat menerima Hadiah No­bel Sastra 2006, menjawab: “Ini adalah pertanyaan yang paling sering ditanyakan sepanjang karir menulis sa­ya.” Pamuk sering membe­rikan jawaban berbeda ... Kadang sastrawan besar asal Turki ini berkata: “Saya tidak tahu kenapa saya menu­lis, tetapi yang pasti itu membuat saya merasa lebih baik. Saya harap Anda juga merasakan hal yang sama ketika membaca karya saya. Kadang juga saya berkata bahwa saya merasa marah, itulah, kenapa saya menulis. Dorongan untuk menulis, sebagian besar adalah kare­na ingin menyendiri dalam ruangan.”

Baca Juga : Jelang Idulfitri, Ungkit Perekonomian Masyarakat Melalui Pemberian THR hingga Perlinsos

Dan seorang penulis be­sar yang pernah dimiliki Rusia adalah Boris Leoni­dovich Pasternak. Karya novel epik Pastenak sangat terkenal, Dr. Zhivago, meng­gambarkan tragedi di sepu­tar masa terakhir Kekai­saran Rusia dan hari-hari awal Uni Soviet. Pada Oktober 1958, Pasternak dianugerahi Hadiah Nobel Sastra, “un­tuk pencapaian pentingnya dalam puisi lirik kontem­porer dan di bidang tradisi epik Rusia.” Pemerintah Uni Soviet, yang sangat ti­dak senang dengan peng­gambaran kehidupan yang keras di bawah komunisme, memaksa Pasternak meno­lak penghargaan itu dan me­nge­luarkan Pasternak dari Persatuan Penulis Uni So­viet. Walaupun tidak diki­rim ke pembuangan, semua ter­bitan karya dan terje­ma­han Pasternak tertunda hing­ga membuat dirinya kere.

Tidak ada orang India yang tidak mengenal Rabin­dranath Tagore, penyair, dramawan, filsuf, seniman, musikus dan sastrawan Be­ngali. Tagore orang Asia pertama yang mendapat Anu­­gerah Nobel Sastra, lebih dari seabad yang lalu, 1913. Memiliki pengaruh yang sangat luar biasa, tidak hanya di India, tetapi juga meluas hingga ke Eropa. Banyak karya-karya sastra Tagore diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Di Indo­nesia, Rabindranath Tagore diabadikan di salah satu ruas jalan di Kota Surakarta. Pandangan Tagore soal pen­di­dikan ternyata meme­nga­ruhi tokoh nasional, ter­masuk Ki Hajar Dewantara.

Saya juga ingin menyebut seorang sastrawan paling jenius yang pernah lahir pada abad ke-20: Ernest Miller Hemingway. Karya He­ming­way yang paling feno­menal adalah trilogi besar, terdiri dari The Sea When Young, The Sea When Absent dan The Sea in Being (pada 1952 terbit dengan judul The Old Man and the Sea). No­vel Lelaki Tua dan Laut ini diindonesiakan secara bagus oleh Sapardi Djoko Damo­no. Juga ada penerjemah lain, dan saya beberapa kali membaca teks asli The Old Man and the Sea.

Kisah hidup Hemingway paling dikenang adalah na­sib sial yang selalu mendera. Dia pernah mengalami luka-luka dalam dua kecelakaan pesawat terbang secara ber­tu­rutan. Luka-luka itu sangat serius, bahu kanan, lengan dan kaki kiri terkilir, ia mengalami gegar otak pa­rah, untuk sementara waktu kehilangan daya penglihatan mata kiri (daya pendengaran di telinga kiri juga tergang­gu), mengalami kelumpuhan tulang belakang, remuk, liver, ginjal, serta mengalami luka bakar pada tingkat pertama di wajah, kedua lengan dan kakinya. Dalam kecelakaan kebakaran se­mak, membuat ia menga­lami luka bakar pada tingkat kedua pada kedua kaki, dada, bibir, tangan kiri dan bagian atas lengan kanannya. Pada 2 Juli 1961 dia me­nem­bak kepalanya sendiri dan langsung tewas.

Dan seorang penerima Hadiah Nobel Sastra paling kontroversial adalah Sir Winston Leonard Spencer Churchill. Mantan Perdana Menteri era Perang Dunia kedua ini dianugerai Hadiah Nobel Sastra untuk kepa­karannya dalam penulisan riwayat dan sejarah dan juga kepintaran berucap memer­tahankan nilai kemanusiaan yang tinggi pada 1953. Pada­hal dialah sang arsitek pen­da­ratan dan penyerangan Gallipoli di Dardanella wak­­tu Perang Dunia Perta­ma yang menewaskan ham­pir seperempat juta nyawa prajurit. Churchill sangat menentang kemerdekaan India ketika masih dijajah Inggris. Namun berkat pe­rang melawan Hitler bersa­ma sekutu abadi, Amerika, membuat nama Churchill melambung tinggi, hingga tulisan itu diganjar Hadiah Nobel Sastra.

Pada akhirnya saya perlu angkat topi dan menyam­paikan salut kepada Dr. Wa­n­nofri Samry, M.Hum., Drs. Dasril Ahmad, Yurnal­di, Syarifuddin Arifin, Yul­fian Azrial, Edy M.N.S. Soe­manto, dan Saudara-sau­dara yang sudah memung­kinkan peristiwa Silatu­rahmi Sastra­wan Sumatera Barat 2015 ini terselenggara. (Iven ini konon sudah diran­cang sejak 2012, 2013 yang lalu.) Lalu, mungkinkah iven seperti ini diseleng­garakan secara ber­kala? Tidak usah terlalu formal dan kaku, apa mung­kin pa­ni­tia mengakomodasi seba­gian keperluan sastra­wan daerah ini yang sudah sejak lama jalan sendiri-sendiri? Mungkinkah kepada sastra­wan diberikan kesem­patan berbuat dan menulis secara kreatif tanpa terbebani oleh keperluan rutin yang sering membebani? Mung­kinkah karya-karya mereka diter­bitkan dalam bentuk buku? Apa tidak perlu sastra­wan berprestasi diberi peng­har­gaan? Dan, pada masa datang apakah ada donatur, mae­se­nas sastra, seperti pada saat ini diberikan oleh Emma Yohanna. Dulu, di Kota Pa­dang, ada maesenas sastra Roestam Anwar, Boestami. H. Basril Djabar, kini, masih ti­dak berpikir lama untuk membantu aktivitas sastra. Lalu tahun-tahun menda­tang, siapa? Adakah suara ini dide­ngar oleh Peme­rin­tah Dae­rah Kota, Kabu­paten, Pro­vinsi dan Repu­blik Indo­nesia? Terima ka­sih. ***

 

DARMAN MOENIR
(Sastrawan)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]