Pasar Lesu, Ekspor CPO Anjlok


Senin, 31 Agustus 2015 - 18:14:22 WIB
Pasar Lesu, Ekspor CPO Anjlok

Dikatakan Fajaruddin, tren penurunan harga CPO ini memang telah terlihat semenjak beberapa tahun belakangan. Ekspor CPO Sumbar yang sebelumnya di kisaran 700 – 800 ribu ton per tahun saat ini hanya di angka 500 ribu ton per tahun. “Dampaknya me­mang tidak untuk kita saja di Sum­bar akan tetapi 22 dae­rah di Indonesia yang men­jadi penghasil CPO juga terkena dampak ini,” im­buhnya.

Baca Juga : Digelar dengan Kondisi Khusus, Tahun Ini Arab Saudi Tetap Gelar Ibadah Haji

Pemotongan nilai mata uang dilakukan negara Cina kata Fajaruddin juga mem­beri dampak bagi CPO Sum­­bar. “Selain India, Cina juga merupakan daerah tu­juan utama ekspor CPO kita, dengan perubahan ini se­dikit banyaknya juga ber­pengaruh,” terangnya.

Pengaruh pasar dunia terhadap CPO membawa efek domino bagi petani di Sumbar. Pemintaan CPO yang turun juga berimbas kepada harga jual di tingkat lokal. Di tingkat lokal harga CPO yang sebelumnya di level Rp8.000 per kilogram saat ini turun ke posisi Rp5.000 per kilogram. Se­mentara untuk harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit juga anjlok dari Rp900 per ki­logram menjadi Rp400 per k­i­logram.

Baca Juga : Lonjakan Covid-19 di India Makin Mengkhawatirkan, WHO Sebut Disebabkan Varian yang Lebih Menular

“Kita dari pemerintah terus berusaha untuk menjaga kes­tabilan harga sawit ini mulai dari tingkat petani. Seperti kita meny­a­rankan agar petani bisa me­ningkatkan kualitas sawitnya sehingga bisa bersaing di pasar lokal,” ujarnya.

Selain telah melakukan pela­tihan dan penyuluhan di tingkat petani, Dinas Perkebunan me­nyarankan agar petani yang masih belum bergabung dengan ke­lompok petani agar segera be­r­gabung.

“Ketika mereka telah ber­gabung dengan kelompok tani nantinya harga sawit yang dijual bisa lebih mahal dibanding harus dijual per orangan,” terangnya.

Hal senada juga dikatakan Ketua Asosisi Petani Kelapa Sawit Indoensia (Apkasindo) Sumbar, Irman. Ia membenarkan memang adanya kecenderungan turunnya harga CPO dari be­berapa tahun belakangan. Di­katakan Irman, penurunan harga CPO ini akibat pengaruh suplai di pasar yang terlalu banyak sementara produksi juga me­ningkat akibatnya permintaan turun dan harga anjlok.

“kita tahu saat ini dengan penguatan nilai dollar yang di­harapkan akan membawa dam­pak bagus untuk iklim ekspor malah berakibat sebaliknya, har­ga malah jatuh,” pungkasnya kepada Haluan melalui sam­bungan telepon kemarin.

Dari pertemuan Apkasindo se Indonesia beberapa waktu lalu, memang dibahas bagaimana cara untuk menyelematkan petani swadaya di tengah terus me­rosotnya harga CPO dan TBS.

“Kita berharap agar pe­me­rintah bisa melakukan penye­taraan harga antara petani swa­daya dan plasma. Karena apa yang mereka hasilkan sama-sama sawit juga kenapa harga tidak diratakan juga,” harapnya.

Apkasindo juga akan terus mengawal semua kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk peningkatan dan penguatan pet­a­ni sawit ke depan. “Kita akan kawal terus apa pun kebijakan pemerintah, karena disitu lah Apkasindo harus berperan, untuk menyejahterakan petani sawit,” tutupnya.

Informasi yang diperoleh Haluan, turunnya permintaan CPO membuat komoditas ini banyak tertahan di pelabuhan laut. Hal ini berdampak kepada petani kelapa sawit. (h/mg-isr)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]