Aksi ‘Saweran’ Hiburan Organ Tunggal di Ranah Minang


Selasa, 01 September 2015 - 19:14:06 WIB
Aksi ‘Saweran’ Hiburan Organ Tunggal di Ranah Minang

Keprihatinan dan kekhawatiran itu disampaikan secara terbuka oleh John Kenedy Azis di hadapan Bupati Padang Pariaman Drs Ali Mukhni, para ulama, pengurus MUI, LKAAM Padang Pariaman  dan sejumlah tokoh masyarakat pada acara silaturahmi di Pendopo Rumah Dinas Bupati, Selasa (1/9) di Pariaman. John Kenedy merasa perlu menyampaikan keprihatinan serta rasa khawatirnya, karena kondisi yang melapaui batas norma-norma kesopanan, adab, adat dan agama itu terjadi di kampung halamannya sendiri. Padahal saat dia ber­keliling ke berbagai provinsi di Indonesia bahkan sejumlah negara pada beberapa benua, untuk acara hiburan di tempat terbuka dan apalagi di tempat pesta pernikahan, dia tidak pernah menemukan praktik-praktik seperti itu. Terkecuali di tempat hiburan tertutup, seperti di club malam, diskotek dan sejenisnya.

Baca Juga : Banyak Peninggalan Habibie yang hilang, Mulyanto: Stop Dehabibienisasi

John Kenedy pun mengajak para stake holder di Padang Pariaman mengambil langkah-langkah strategis, sehingga kondisi dan praktik-praktik seperti itu secara berangsur dapat diminimalisir. Harapan akhirnya, hiburan yang tidak mendidik tersebut dapat dihentikan dan diganti dengan yang mendidik, seperti hiburan musik dan tarian tradisional minangkabau. Melalui cara seperti ini, moral generasi muda tidak rusak, dan hiburan musik dan tarian tradisional pun bisa tetap lestari.

Kerisauan yang dirasakan oleh John Kenedy Azis ternyata juga dialami oleh masyarakat Pesisir Selatan (Pessel). Salah seorang tokoh masyarakat Kecamatan Bayang Asrizal juga merasa sangat prihatin berbagai kesenian tradisional, seperti  pencak silat, randai, tari piring, rabab, saluang dan lainnya mulai ditinggalkan oleh masyarakat Pessel. Faktanya, hampir setiap nagari tidak lagi ditemui  adanya latihan kesenian tradisional tersebut. Padahal budaya alam Minangkabau itu  perlu dilestarikan agar tidak tergilas  oleh perkembangan zaman.

Baca Juga : Airlangga Hartarto: Tingkatkan Ekspor Florikultura, Penuhi Ceruk Pasar Dunia

Padahal menurutnya kesenian tradisional Minang­kabau  tidak kalah bagusnya dibandingkan dengan kesenian yang berbau budaya asing  yang lebih banyak menyesatkan  seperti, orgen tunggal menampilkan  yang penyanyi  berpakaian minim dan sangat bertentangan dengan budaya Minangkabau. Sedangkan kesenian tradisional randai, pencak Silat, salung, rabab  dan lainnya merupakan  kesenian warisan  sebagai hiburan  dalam meramaikan nagari, membudayakan kesenian tersebut  juga  mampu meningkatkan hubungan silaturrahmi  di tengah masyarakat.

Kepala Dinas Parawisata Seni dan Budaya  Kabu­paten Pe­sisir Selatan H Gunawan  mengatakan, pihaknya  terus be­rupaya mengajak masyarakat nagari untuk dapat  mem­bangkitkan kembali kesenian tradisional  di setiap nagari yang ada di Pessel, kesenian tradisional memiliki nilai yang tinggi  dalam membangun kebersamaan di nagari, sebagai hiburan  terutama ketika  ada helat nagari, maka kesenian tradisional perlu ditampilkan   dan diberdayakan.

Agar nagari-nagari di Minangkabau tidak mening­gal­kan tradisi seni budayanya, maka sebaiknya masing-ma­sing Kota/Kabupaten di Sumbar sebaiknya membuat re­gulasi berupa Perda yang mengatur tentang batasan-ba­tasan penggunaan hiburan organ tunggal dan imbauan pe­manfaatan seni budaya tradisional Minangkabau pada setiap pesta pernikahan dan juga pada acara-acara hiburan lainnya. Jika ini sudah ada diharapkan praktik-praktik hiburan organ tunggal yang tidak mendidik dapat diminimalisir bahkan dihentikan di Ranah Minang. ***

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]