Petani Akhirnya “Manangih Jawi”


Selasa, 01 September 2015 - 19:23:14 WIB
Petani Akhirnya “Manangih Jawi”

Pantauan Haluan se­men­jak Jumat (28/8) hingga Minggu (30/8) harga TBS sung­guh sudah “mem­bu­nuh” petani, ribuan petani Pesisir Selatan diambang  kolaps. Namun, hingga kini tidak ada upaya pihak manapun untuk me­nye­la­matkan para petani sawit. Harga dipatok pedagang dari Rp250 sebelumnya menjadi Rp200 per­ki­lo­gramnya.

Baca Juga : Investasi Tumbuh, Indonesia Maju

Petani menuntut Pe­me­rintah Kabupaten Pesisir Selatan turun tangan me­na­ngani persoalan harga TBS. Minimal ada kejelasan pe­masaran dengan harga yang sebanding dengan biaya-biaya produksi. Harga Rp200 perkilogram bukan lagi mencekek, namun telah membunuh para petani sawit yang semata-mata meng­gan­t­ung­kan hidup pada ta­na­man tersebut.

Petani berharap ada cam­pur tangan pemerintah untuk mengatasi harga sawit di Pesisir Selatan, jika tidak para petani akan mengalami krisis keuangan yang berujung pada krisis pangan. Harga jual saat ini hanya bisa untuk membiayai panen, tidak secuilpun yang dapat di peroleh para petani.

Baca Juga : Kenangan Bersama Bang Rusdi Lubis

Pemerintah Kabupaten Pe­sisir Selatan tidak boleh diam meng­hadapi rendahnya harga TBS di petani. Harus ada upaya-upaya penyelamatan bagi petani, soalnya dampak dari rendahnya nilai TBS sangat ba­nyak. Mi­salnya petani yang semata-mata meng­gantung­kan sumber eko­nomi dari sini akan kolaps. Pem­biayaan -pembiayaan keluarga akan terhenti, dan yang paling berbahaya adalah ancaman krisis pangan.

Jumlah Kepala Keluarga yang menggantungkan hidup dari sawit ribuan. Kebutuhan rumah tangga, pangan, sandang, papan, kese­hatan dan pendidikan bergantung di sini. Kawasan yang akan lum­puh akibat rendahnya harga sawit ini adalah Silaut, Lunang, Ranah IV Hulu dan Basa IV Hulu Tapan, Pancung Soal, Air Pura, Linggo Sari Baganti, Lengayang dan Sutera.

Semenjak lebaran 1436 H hingga saat ini telah terjadi lima kali penurunan harga dari Rp500 perkilogram, Rp450, Rp400, Rp350, Rp300, Rp250 dan Rp200 ditingkat petani.Petani sawit terpantau sudah enggan merawat sawit mereka. Sebagian petani bahkan membiarkan saja sawit mereka berguguran dari tangkai buah. Namun, sebagian kecil masih berupaya memanen akibat tidak ada pekerjaan lain  , terutama kebun yang berada dipinggir jalan. Karena harga dipatok pedagang juga sangat tergantung pada tempat dan lokasi langsir.

Menurut informasi toke harga yang ditetapkan oleh pabrik juga rendah.Tumpukan sawit di depan perkebunan warga tampak meng­gunung, begitu pula di tempat penampungan tauke.Petani sawit di Kambang Lengayang dan Sute­ra, menjual tandan buah sawit segar (TBS) rata -rata menjual seharga Rp200 per kilogram. Sementara dari hasil penjualan itu, petani merugi dan tidak bisa menutupi biaya produksi.

Buyuang Tuneh (65), petani sawit Kambang Harapan Lenga­yang menyebutkan, pihak toke sawit tidak pernah menje­laskan alasan turunnya harga sawit terse­but. Namun akibat terpaksa sawitnya tersebut dijual dengan harga rendah.

Sementara ada warga yang tidak mau menjual sawitnya. Mereka membiarkan sawitnya membusuk. “Kalu tauke tidak mau membeli dengan harga baik saya tidak jual. Biarlah buah sawit itu jatuh sendiri dari batang­nya,” katanya.

Sementara, Yudi (35) salah seorang tauke pengumpul me­nyebutkan, harga buah sawit di perusahaan memang sedang an­jlok, maka terpaksa ditingkat petani harga sawit juga ditu­runkan.

“Dengan membeli Rp200 atau Rp250, yang diperoleh hanya cukup untuk biaya operasional. Sawit yang dibeli dari petani, nanti saya jual pula ke tauke induk semang. jadi keuntungan sangat tipis,” katanya.

Disebutkannya, kini TBS sedang menumpuk dipabrik, al hasil harga sawit turun. Ia juga tidak bisa memprediksi kapan harga kembali normal.”Kita tunggu saja,”katanya.

Selanjutnya Koperasi petani sawit yang ada di Kambang dan kawasan sekitarnya hingga kini belum mampu memecahkan per­soalan anjloknya harga sa­wit.Warga Pesisir Selatan ber­harap, di daerah itu dibangun pa­brik pengolah CPO baru, dengan de­­mikian bila produksi be­r­limpah tidak terjadi penumpukan produksi dan turunnya harga sawit. (*)

 

Laporan:
HARIDMAN KAMBANG

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]