Ekspor Sumbar Turun 1,43 Persen


Rabu, 02 September 2015 - 19:25:17 WIB
Ekspor Sumbar Turun 1,43 Persen

”10 komoditi ekspor ki­ta memang terdampak krisis global ini. Untuk suplay ke pasar sebenarnya cukup akan tetapi pasar lesu. Aki­batnya harga anjlok, seperti halnya CPO dan karet,” terang Susi.

Baca Juga : Covid-19 di India Makin Ganas, 4.000 Orang Tewas per Hari

Sementara untuk komo­diti casiavvera kata Susi, pro­duksinya menurun, mengingat ketika harga jatuh pada beberapa waktu lalu petani malah mene­bang komoditi casiavvera sehing­ga produksi saat ini tidak ada lagi.

“Untuk ekspor non migas lainnya seperti, lemak dan mi­nyak hewan, bahan bakar mineral, ampas/sisa industry makanan, biji, kerak, logam, biji-bijian bermi­nyak, minyak atsisiri, kakao, kopi, the, rempah dan buah-buahan memang mengalami pelemahan,” ungkapnya.

Baca Juga : Penasihat Gedung Putih Sebut AS akan Kembali 'Normal' dari Pandemi pada Mei 2022

Dari data Disperindag pada Juni 2015, total nilai ekspor Sumbar 912,20 juta US$ atau turun sebesar 1,43 persen pada tahun lalu dalam bulan yang sama yaitu senilai 2.177,40 juta US$.

Ke depan kata Susi, untuk me­ningkatkan kembali ekspor Sumbar Disperindag akan mem­berikan so­sialisasi kepada eks­portir baru dan lama untuk terus meningkatkan kualitas komoditi ekspornya sehingga bisa bersaing di pasar global.

“Dalam waktu dekat kita akan melakukan pertemuan dengan eksportir untuk membahas pele­mahan ini. Nantinya kita akan mencari solusi bagaiamana untuk meningkatkan kembali nilai eks­por komditi asal Sumbar,” te­rangnya.

Menanggapi anjloknya harga sawit, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumbar, Budi Syukur menuturkan, an­jloknya harga sawit saat ini selain disebabkan pengaruh dollar AS juga disebabkan panen raya. Kare­na panen raya saat ini banyak, sehingga perusahaan sawit yang ada tidak bisa lagi menampung dan akibatnya harga di pasaran anjlok.

“Perusahaan sawit kita terba­tas sementara hasil panen banyak, sehingga tidak semuanya ter­tampung jadinya supplay melim­pah dan harga jatuh,” bebernya.

Selain itu Peraturan Presi­den Nomor 61 Tahun 2015 ten­tang Penghimpunan dan Penggu­naan Dana Perkebunan Kelapa Sawit, juga mempengaruhi eks­por harga sawit.

Pungutan atas ekspor komo­ditas sebagaimana dimaksud wajib dibayar oleh Pelaku Usaha Perkebunan Kelapa Sawit yang melakukan ekspor komoditas Perkebunan Kelapa Sawit atau turunannya. Pelaku usaha in­dustri berbahan baku hasil Per­kebunan Kelapa Sawit dan Eks­portir atas komoditas Perke­bunan Kelapa Sawit dan/atau turunannya.

“Dalam aturan ini adanya pu­ngu­tan sebesar 50 US$ per ton. Artinya, dengan pungutan ini akan membuat eksportir mengu­rangi harga. Aki­batnya akan berdampak harga sawit itu sen­diri,” tukasnya.  (h/mg-isr)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]