Polwan dan Kebangkitan Perempuan Minang


Rabu, 02 September 2015 - 19:28:57 WIB
Polwan dan Kebangkitan Perempuan Minang

Kondisi seperti ini berujung kepada adanya ide pemerintah untuk merekrut polisi wanita di Sekolah Polisi Negara (SPN) Bukittinggi. Berdasarkan itulah, Polri membuka pendidikan inspektur polisi bagi wanita dan menjadi bagian dari Kepolisian RI. Setelah melakukan seleksi terpilihlah enam orang remaja wanita yang semuanya berdarah minangkabau dan berasal dari ranah minang. Sejak saat itu lahirlah polisi wanita yang akrab dipanggil polwan. Keenam pol­wan yang terpilih tersebut juga tercatat sebagai wanita ABRI pertama di Indonesia.

Baca Juga : Pangdam Mayjen TNI Hassanudin Berikan Bingkisan Idul Fitri 1442 H kepada Prajurit dan PNS Kodam I/BB

Sejarah lahirnya Polwan di Ranah Minang, bagi saya bukan sekedar adanya momentum dan kebetulan saja. Momentum ini tidak bisa dibaca parsial dan setengah-setengah. Lahirnya Pol­wan di Ranah Minang mem­buktikan konsistensi adat Minang dalam mendudukkan posisi pe­rem­puan. Perempuan di Minang­kabau selalu mendapat privilege yang luar biasa. Jauh sebelum perjuangan kesetaraan gender dan perkembangan isu-isu feminisme di Eropa, masyarakat Minang sudah memberikan porsi Istime­wa kepada wanita. Maka tak heran, jika banyak tokoh-tokoh perempuan tangguh yang punya peranan besar dalam sejarah per­gerakan Indonesia. Sebut saja diantaranya, Siti Manggopoh, Rohana Kudus, Rahma El Yu­nusiah, dll.

Siti manggopoh pada tahun 1880 menjadi panglima bagi masyarakat Manggopoh (Agam) dalam perang anti pajak (bela­sting) melawan penjajahan be­landa. Rohana kudus melakukan transformasi pengetahuan melalui pengajaran otodidak kepada mas­yarakat di kampungnya. Rohana juga mengajari masyarakat untuk berbisnis dengan mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia pada 11 Februari 1911. Selan­jutnya, Rahma El Yunusiah juga membuat terobosan baru dalam perjuangan wanita di Indonesian dalam bidang pendidikan. Hal ini ditandai dengan didirikannya Diniyyah School Putri (Sekolah Khusus Perempuan) di Padang Panjang.

Baca Juga : Kolaborasi dengan HR Academy dan Kemenkop UKM, YES Preneur Gelora Resmikan Program 'GEBER UMKM' 

Deretan tokoh-tokoh perem­puan di Minangkabau menan­dakan bahwa pilihan awal diben­tuknya polwan di ranah minan­g bukan hanya kebetulan. Perem­puan-perempuan minang meru­pakan perempuan tangguh yang memang terbentuk kultur dan pemahaman masyarakat yang egaliter. Dalam buku Sarinah, Soekarno menjelaskan bahwa sistem matrilineal di Minang­kabau merupakan warisan pera­daban kuno yang sampai sekarang hanya bertahan di Minang dan suku pedalaman di Afrika. Arti­nya, memang dari dulu masya­rakat minang pada dasarnya telah me­nyatarakan fungsi-fungsi sosial antara laki-laki dan perempuan tanpa harus belajar mengenai femi­nisme dari negara-negara Barat.

Melihat sejarah nyata dan bertepatan juga dengan peringatan Hari Polwan di Indonesia pada tanggal 1 september ini, momen­tum ini merupakan pemantik momentum bagi kita semua untuk kembali membangkitkan gerakan dan fungsi Bundo Kanduang di Minangkabau. Hari polwan bisa direfleksikan sebagai hari kebang­kitan perempuan di Indonesia dalam bidang militer dan peme­rintahan di Indonesia. Semangat hari kebangkitan itu harus kem­bali hadir di ranah minang yang menjadi tempat bersejarah berdirinya polwan.

Peringatan hari ini tidak boleh hanya sekedar peringatan yang artifisial dan semu sehingga kehilangan makna. Hari polwan bisa dijadikan momentum ke­bang­kitan perempuan di minang­kabau. Dengan mengetahui linta­san sejarah gerakan perempuan di Minang, ditambah lagi dengan fakta historis awal mula ber­dirinya Polwan, maka perempuan Minang harus bangkit. Kebang­kitan perempuan minang bisa dikembalikan dengan mem­bang­kitkan fungsi dan peranan bundo kanduang.

Bundo kanduang merupakan kunci kesuksesan di balik lahir­nya toko-tokoh Minang di pentas nasional. Kapasitas dan kapa­bilitas bundo yang lama sudah terbukti dan teruji dengan lahirnya pemikir-pemikir handal di minang. Meminjam istilah Buya Syafi’i Ma’arif di Republika beberapa waktu lalu, Minan­g­kabau harus kembali menjadi “industri otak”.

Kembalinya minangkabau menjadi industri otak yang meng­hasilkan otak-otak terbaik tentu harus dimulai dengan mengem­balikan peranan dan fungsi bundo kanduang di minang. Seseorang ibu secara psikologis akan ber­pengaruh banyak terhadap pem­bentukan watak dan manusia yang dilahirkannya. Hal ini sesuai dengan pepatah minang;

Kalau karuah aia di hulu

Sampai ka muaro karuah juo

Kalau kuriak induaknyo, rintiak anaknyo

Cucuran atok jatuah ka palimbahan

Fungsi bundo kanduang tidak hanya sebagai ibu, namun juga sebagai pemimpin yang memegang peranan besar dalam membentuk karakter generasi ke depan. Menguatkan fungsi bundo kanduang sama halnya dengan kembali menjadikan minang sebagai industri otak. Realitas yang terjadi hari ini adalah, minangkabau tidak lagi menjadi industri otak. Dalam bahasa anekdot, Minang sekarang hanya menjadi “industri ota”. Yang muncul hari ini hanya silat kata tanpa makna bahkan tanpa isi kepala.Kita berharap ke depan, dengan momentum Hari Polwan ini, perempuan Minang harus bangkit kembali. Perempuan minang harus melahirkan dan membentuk karakter insan cendikia dan insan kamil yang konstruktif untuk kemajuan Sumatera Barat khususnya dan Indonesia umumnya. Harapan itu tentu harus dibangun dengan rasa optimisme yang tinggi dan harus diwujudkan dengan perbaikan mental dan karakter minang yang sudah mengalami involusi dan degradasi karakter. ***

 

NOFI CANDRA
(Anggota DPD RI dari Sumatera Barat)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]