Mengembalikan Kejayaan Minangkabau


Kamis, 03 September 2015 - 19:57:53 WIB
Mengembalikan Kejayaan Minangkabau

Tidak sampai disitu saja, di bidang sastra, sastrawan minang menjadi lokomotif kesusas­traan pada angkatan Balai Pustaka yang merupakan masa keemasan sastra Indo­nesia seperti Nur Sutan Is­kan­dar (Apa Dayaku Karena Aku Perempuan), Abdul Muis (Salah Asuhan), Ma­rah  Rusli (Sitti Nurbaya), Aman Datuk Madjoindo (Si Doel Anak Betawi) serta sederatan sastrawan minang lainnya.

Baca Juga : Capres 2024, PDIP Serahkan pada Keputusan Megawati

Di era modern saat ini walau pahit harus diakui di ranah minang paceklik to­koh pemikir, ulama, serta sastrawan. Saat ini ranah minang tidak lagi menjadi rujukan akan hal itu semua. Oleh karena itu, ada benar­nya Buya Ahmad Syafii Maa­rif dalam kolom Reso­nansi Harian Republika mengatakan bahwa para intelektual idealis seperti nama-nama di atas tidak lagi lahir di ranah minang. Ra­nah minang saat ini telah kehilangan pesonanya untuk menjadi pusat pemikiran bagi bangsa dan negara.

Melihat kemunduran yang terjadi itu tentu ada faktor penyebabnya dian­taranya ialah telah me­mu­darnya penerapan agama dan adat dalam masyarakat minang itu sendiri. Secara sosio-kultural ranah minang sangat kental perpaduan antara agama dan adat.

Baca Juga : Tindakan KKB Papua Sangat Keji, Tembaki Guru dan Tenaga Medis Covid-19

Prinsip adaik basandi syara’, syara’ basandi kita­bullah merupakan backbone dari penerapan agama dan adat yang ada di Sumatera Barat. Secara eksplisit prin­sip ini menegaskan bahwa adat harus bersendikan pada syariat (syara’) dan syariat (syara’) bersendikan kepada kitabullah. Pada akhirnya paham ini memberikan se­buah kesimpulan adat pun harus bersendikan kepada syariat (syara’) itu sendiri. Namun prinsip ini perlahan su­dah mulai dilupakan da­lam kehidupan masyarakat minangkabau.

Menurut teori Receptio in Complexu yang dicetuskan oleh Lodewijk Willem Chir­s­­tian Van Den Berg bah­wa hukum yang diyakini dan dilaksanakan oleh se­seo­rang seharmoni dengan aga­ma yang diimaninya. Bila me­ngkaitkan teori ini de­ngan prinsip adaik basandi sya­ra’, syara’ basandi kita­bul­lah maka tentulah adat yang di­terap­kan harus seja­lan­ dengan syara’. Mengingat aga­ma ma­syarakat asli mi­nang­­kabau merupakan Is­lam­.

Baca Juga : Innalillahi, Pemilik Radwah Hartini Chairuddin Meninggal Dunia

Sehingga segala bentuk pedoman masyarakat mi­nang seharusnya ber­lan­daskan pada nilai-nilai adat yang luhur dan tentunya dengan tidak meninggalkan syariat yang bersumberkan pada kitabullah (Al-Quran).

Di sisi lain prinsip inilah yang sesungguhnya mem­besarkan pemikir-pemikir besar di atas. Di zamannya mereka bukanlah besar kare­na pendidikannya yang ting­gi, namun mereka besar karena tempaan agama di surau-surau di kampung mereka. Pendidikan di su­rau-surau itu telah men­jadi kawah candradimuka mem­bentuk kepribadian, karak­ter serta pemikiran mereka. Merupakan sebuah ironi bila di masa sekarang berte­baran perguruan tinggi di Sumatera Barat namun tidak dapat melahirkan pemikir-pemikir seperti masa lam­pau. Hal ini patut menjadi evaluasi kita bersama.

Baca Juga : Pemerintah Perlu Pertimbangkan Kembali Penggabungan Kemendikbud dan Ristek

Untuk mengakhiri masa kemunduran ini, salah satu caranya ialah di Sumatera Barat harus memiliki pe­mim­pin yang mengerti pe­ran­nya sebagai kepala derah. Memiliki komitmen yang kuat untuk mengembalikan kejayaan minangkabau. Ti­dak sampai disitu saja ia harus memahami pula bah­wa ia sebagai bagian yang tak terpisahkan secara historis-sosiologisnya sebagai putra minangkabau.

Akhir tahun ini akan di­helat pemilihan kepala da­erah (pilkada) di Su­ma­tera Barat. Daerah-daerah yang mengikuti pilkada ialah ialah Provinsi Sumatera Barat (Gubernur/Wakil Gu­ber­nur),  Kab. Solok, Kab. Dhar­masraya, Kota Bukit Tinggi, Kab. Solok Selatan, Kab. Pasaman Barat, Kab. Pasa­man, Kab. Pesisir Sela­tan, Kab. Sijunjung, Kab. Tanah Datar, Kab Padang Pariaman, Kab. Agam, dan Kab. Lima Puluh Kota. Ajang suksesi politik ini dapat dijadikan momentum mengembalikan kejayaan minangkabau. Se­mua ele­men masyarakat mi­nang ha­rus bersama-sama menga­wal proses ini sehingga mela­hirkan kepala daerah yang sesuai dalam upaya me­ngem­balikan kejayaan mi­nang­kabau.

Dalam mengembalikan kejayaan minang kabau, di Sumatera Barat harus me­miliki kepala daerah yang memiliki wawasan luas serta memiliki visi ke depan un­tuk mambangkik batang tarandam. Kepala daerah harus mampu merevitalisasi adat dan syara’ dalam kehi­dupan masyarakat. Salah satu upaya yang dapat dila­kukan ialah membuat perda yang mengatur hukum adat dan syara’ serta mem­fung­sikan kembali peran dari ninik mamak dan datuk-penghulu sebagaimana mes­ti­n­ya. Saat ini tatanan adat minangkabau hanya sebagai simbol. Peran ninik mamak, datuk-penghulu terhadap anak kemenakan tidak ber­peran efektif dalam menga­wasi norma adat dan agama.

Peran yang dapat dila­kukan oleh ninik mamak, dan datuk-penghulu ialah mengawal proses pilkada ini secara berkelanjutan. Me­nga­wasi jalannya peme­rinta­han, serta memberi masukan kepada kepala daerah dalam pembangunan ranah mi­nang. Lebih jauh lagi, ninik mamak, datuk-penghulu dapat memberikan usulan kepada kepala daerah untuk menumbuh kembangkan pem­­binaan keagamaan dan adat yang selama ini telah mengendur.

Hal-hal yang demikian sangat mungkin untuk dila­kukan oleh kepala daerah terlebih di era otonomi da­erah yang seluas-luasnya demi pembangunan daerah berdasarkan kearifan lokal yang hidup pada masing-masing daerah. Sehingga bagi calon kepala daerah yang bertarung harus memi­liki komitmen kuat untuk mengembalikan kejayaan minangkabau. Layaknya se­per­ti sebuah bangsa yang pernah merasakan ke­ja­yaan, jiwa mereka dipenuhi sema­ngat untuk menang dalam pertarungan. Hal ini pun pasti juga dimiliki oleh ma­sya­rakat minangkabau. Ting­gal apakah semua ele­men masyarakat memiliki keinginan serta tekat yang kuat untuk mengembalikan kejayaan itu. ***

 

OFIS RICARDO
(Pemerhati Hukum dan Politik)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]