Anak Pukat Melawan Gulungan Ombak


Kamis, 03 September 2015 - 20:04:35 WIB
Anak Pukat Melawan Gulungan Ombak

Isyarat itu ditangkap anak pukek yang sedang menarik tali. Dua orang di antaranya bergegas ke dalam laut dan berenang. Mereka tampak sangat terlatih dan terbiasa. Inilah saat saat penting dan genting bagi tukang pukat. Di satu sisi, anak pukat harus mengatur cikang dan lengan pukat, di sisi lain, ia harus menantang ombak yang datang silih berganti.

Baca Juga : Iedul Fithri: Geliat Ekonomi, Momentum Keluar Resesi

Keduanya adalah Adrian (40) dan Ijon (38) warga Amping Parak. Ia dilamun lamun ombak sembari memegang lengan pukat yang terbuat dari rajutan benang. Lengan pukat tak boleh lepas dari tangan. Lengan pukat tidak boleh terbuka terlalu lebar. Inilah tantangan dan tang­gungjawab agar ikan tidak keluar dari kungkungan pukat.

Adrian tidak menampik, le­ngan pukat sangat berbahaya bagi keselamatannya. Arus menyebab­kan lengan pukat berpilin dan bisa mempelintir kaki. Kakinya beberapa kali terjerat rajutan benang tersebut.

Baca Juga : Pembangunan dan Keadilan bagi Padagang Kaki Lima

Bagaimana menyelamatkan diri bila kaki dipilin lengan pukat? Menurutnya, pada saat kaki terjerat jangan sampai kehila­ngan akal. Lantas kemudian jangan paksakan melawan arus dan puta­ran pilinan lengan pukat.

“Bila dipaksakan, maka kita akan kehabisan energi dan nafas. Kita harus punya kesempatan dan berusaha mengambil nafas keper­mukaan sebelum datang ombak berikutnya. Biasanya ombak da­tang silih berganti dengan waktu yang tidak terlalu lama,” katanya.

Disebutkannya, bila hal itu sudah dilakukan, maka anak pukat memiliki kesempatan un­tuk membuka jeratan benang lengan pukat. Itulah ancaman yang selalu rasakan anak pukat tepi.

Selanjutnya pawang dari atas sampan terus mengamati gerak ikan dan memberikan perintah kepada anak pukat. Bila tangan kanan atau kiri direntangkan, maka itu pertanda lengan pukat pada dua sisi perlu diperlebar atau ditari keluar. Tujuannya untuk memberi kesempatan kepada ikan yang belum masuk ke da­lam amaketek (kantong bagian belakang pukat-red).

Kemudian bila tangan di­angkat lurus, maka anak pukat harus segera mendekatkan kedua lengan pukat tersebut. Tujuannya agar ikan ikan yang masih berada dalam lingkup, tali, cikang dan lengan pukat segera masuk ke amaketek pukat.

Ketika, kedua lengan itu di­per­tautkan maka anak pukat mengikat atau memegang kuat keduanya agar ikan tidak keluar. Anak pukat terus berjuang mena­rik pukat hingga ke tepi sembari terus ditimpa ombak setinggi satu meter.

Dan seluruh bagian pukat telah mendarat. Melihat isi pukat yang di dalamnya tampak ber­bagai jenis ikan, terobatilah kelelahan anak pukat.

Berat memang perjuangan para nelayan pukat tepi. Ketika ikan mau dijual, kadang harga tidak pernah sesuai dengan tenaga yang dikeluarkan. Tangkapan banyak, harga ikan dimainkan pedagang dan tengkulak. (*)

 

Laporan:
HARIDMAN

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]