Melihat Lebih Dekat Nagari Sungai Nyalo Penghasil Kapal


Jumat, 04 September 2015 - 19:50:22 WIB
Melihat Lebih Dekat Nagari Sungai Nyalo Penghasil Kapal

Lantas bagaimana d­e­ngan produksi kapal di Su­ngai Nyalo tersebut ? Sudah­kah sesuai dengan kebutu­han dan permintaan secara umum ? Ternyata untuk mendapatkan kapal jenis tonda memenuhi per­sya­ratan “tekhnis” tidak mu­dah. Mendapatkan kapal sama sulitnya dengan men­dapatkan kayunya. Berikut penulis laporkan kegiatan pembuatan kapal di Na­­­gari Sungai Nyalo tersebut.

Baca Juga : Investasi Tumbuh, Indonesia Maju

Walinagari Sungai Nyalo Samsuricon menyebutkan, disini terdapat puluhan “pa­brik” kapal milik warga. Selain melaut, warga meng­

gantungkan hidup pada kegiatan ini. Para tukang belajar membuat kapal secara otodidak dan ilmu­nya turun - temurun. “Beberapa karakteristik kapal memang dipe­lajarinya turun temurun. Seni menata dan mempercantik kapal didapatkannya perlahan - lahan seiring tuntutan zaman,” katanya.

Baca Juga : Kenangan Bersama Bang Rusdi Lubis

Para tukang tidak pernah belajar tentang hukum Archime­des. Mereka tidak pula pernah belajar tentang ilmu diagonal ruang, ilmu tabung dan sebagai­nya. Namun kapal yang dibuat tetap bisa memenuhi hukum dan syarat sebuah benda bisa menga­pung di air. Bilateral simetris, haluannya tajam, kuat membelah dan nembus ombak, tahan terpaan badai. Begitulah hasilnya.

Menurut Samsuricon, mereka telah terlatih bekerja menggu­nakan insting. Kekuatan inilah yang telah menyebabkan tukang kapal berhasil menciptakan kapal dan kemudian akhirnya bisa berlayar di lautan. Kapal hasil pekerjaan tangan merekapun sempat di beli konsumen dari berbagai daerah.

Selanjutnya Ujang (55), salah seorang pembuat kapal di Sungai Nyalo menyebutkan, biaya untuk pembuatan satu unit kapal jenis tonda diperkirakan sekitar Rp100 juta. Kemudian itu sudah masuk biaya kerja atau upah. Ini harga untuk sebuah kapal ukuran se­dang dengan bahan kualitas satu dan dua. “Saat ini sulit menda­patkan kayu kualitas satu untuk pembuatan kapal, kita terpaksa menggunakan kayu kualitas tiga, atau paling hebat kualitas dua,” katanya lagi.

Menurutnya kapal dengan panjang sepuluh  meter paling cepat bisa diselesaikan selama dua-enam bulan, dengan catatan  bahan tersedia cukup. “Karena ada proses - proses yang meng­haruskan pengerjaannya terhenti. Misalnya proses pelenturan dan membentuk lekukan kayu dan perakitannya,” ujarnya men­jelaskan.

Disebutkannya, rahasia untuk menciptakan kapal bagus terletak pada indang(bagian bawah atau sasist-red). Indang kapal harus terbuat dari kayu yang kuat namun lentur. Jika bagian ini tidak sem­purna, niscaya kapal tidak dapat mengapung dengan sempurna pula. Jika indang terlalu lebar, kapal akan menjadi berat, namun jika terlalu tajam kapal menjadi oleng.

”Kemudian jika kayu yang dipakai adalah kayu yang lunak ia akan cepat keropos, dan tidak tahan berbenturan dengan benda keras, misalnya karang atau benda lainnya yang ada di laut. Jika kayu tidak dipilih bisa - bisa kapal bocor di lautan,” ujarnya lagi.

Yang kedua rahasianya berada pada gading -gading (kerangka tempat dinding sampan di paku). Bagian ini harus bilateral sime­tris. Antara satu sisi dengan sisi lainnya. Bila gading - ga­ding tidak bilateral kapal akan oleng, ia tidak dapat mengapung dengan sempurna. “Jika ini yang terjadi akan menjadi bahan tertawaan dan ejekan orang lain, kurangi kesa­lahan sekecil mungkin,” katanya.

Perlu juga dingat, jarak antara gading dengan gading lainnya juga harus diatur sedemikian rupa. Gading yang terlalu rapat akan menyebakan kapal terlalu berat dan sulit berlayar, bahkan bisa karam sebelum berlayar. Semen­tara gading yang terlalu berjauhan menyebabkan kapal terancam patah saat di lautan. “Yang terpen­ting kita menjaga keserasian dan keseimbangan gading - gading,” ujarnya lagi.

Gading - gading juga menjadi bagian penting untuk memasang kayu dinding atau lambung kapal. Semakin baik susunan gading, maka dinding kapal akan semakin baik pula dan artistik. Bagian ini menjadi penentu ukuran dan bentuk kapal.

Ketiga yang perlu diperha­tikan adalah keserasian antara bagian haluan (depan) dan bu­ritan (bagian belakang) kapal. Haluan kapal yang baik adalah bentuknya yang tajam dan ujung­nya lebih tinggi dari ujung din­ding bagian tengah kapal, namun dibelakangnya harus disambut gading yang agak lebar.

Struktur haluan seperti itu berfungsi saat menghadapi om­bak. Ia akan mampu memancung ombak de­ngan cepat dan tangkas. Perlu pula diingat haluan kapal harus terbuat dengan bahan yang kuat. Selain menyangkut kein­dahan perwajahan kapal, kekua­tan ha­luan sangat menentukan jika berhadapan dengan keadaan terpaksa. Misalnya tabrakan.

Sementara bagian buritan ada dua bentuk. Pertama dibuat le­bar, kedua lancip. Buritan lebar biasanya dipergunakan untuk perahu yang menggunakan motor atau mesin. Sementara buritan lancip biasanya tidak memakai mesin, misalnya hanya menggu­nakan pendayung, galah atau layar.

Namun yang terpenting adalah, buritan perahu haruslah lebih rendah dari posisi ujung haluan. Supaya juru mudi lebih mudah mengendalikan perahu.

“Bila persyaratan tekhnis seperti yang disebutkan tadi telah dipenuhi dan pengerjaan selesai dengan apik dan hati hati, maka dengan demikian kapal atau perahu telah selesai pengerja­annya. Ia telah bisa mengapung dengan baik di lautan, asal pema­sangan damar rapi dan sem­purna,” ujarnya menunjukkan salah satu karya teranyarnya.

Untuk, memperindah dan memenuhi persyaratan artistik, kapal biasanya di cat sesuai dengan selera. Tambahannya, untuk kepentingan tertentu kapal perlu juga diberi bercadik. Ter­utama untuk membawa beban yang agak banyak, atau payang. Atau kondisi kapal suatu ketika mengalami kerusakan sehingga jadi oleng atau berat sebelah. (*)

 

Laporan:
HARIDMAN KAMBANG

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]