Keluarga Nurhayati Tahlilan, Zalniwarti Putus Kontak


Senin, 14 September 2015 - 18:39:19 WIB

Untuk  Nurhayati Ra­sad Usman, tercatat ber­do­misili di Perumahan Az­ha­di, RT 01 RW 05 Jalan Gurun Tanjung Kelurahan Pakan Kurai Kecamatan Guguk Panjang Kota Bukit­tinggi. Namun ketika di­kun­jungi, rumah yang dimaksud tampak terkunci rapat dan tak ada tanda-tanda ada ora­ng di dalamnya.

“Sebenarnya Nurhayati ini orang Bayur Maninjau Agam. Di Bukittinggi, be­liau tinggal di tempat me­nantu­nya. Saat ini, semua keluarga beliau lagi ngum­pul di Bayur,” ujar Irwandi selaku Ketua RT 01 RW 05.

Menurut Irwandi, dalam seminggu, Nurhayati hanya dua hari berada di Bukit­tinggi untuk mengikuti pelatihan ma­nasik haji, setelah itu kembali ke kampungnya di Bayur.

“Saya baru tahu kalau beliau (Nurhayati Rasad Usman) jadi korban di Mekkah setelah di­telp­on Pak RW sekitar jam lima Minggu sore,” jelas Irwandi.

Sementara itu, Ketua Ikatan Keluarga Tanjung Raya (IKTR) di Bukittinggi, Edison menga­takan, Nurhayati Rasad Usman merupakan anggota IKTR. Me­nurutnya, saat ini keluarga kor­ban sedang menggelar tahlilan di Nagari Bayur Maninjau Agam.

“Ya, saya telah ber­komuni­kasi dengan keluarga korban, katanya memang ada tahlilan di rumah duka di Bayur. Katanya, tahlilan itu rencananya akan dilakukan selama tiga malam, yang dimulai pada Minggu ma­lam,” ujar Edison.

Menurut Edison, Nurhayati merupakan seorang janda yang telah memiliki tiga orang anak. Saat berangkat ke Mekkah, Nur­hayati berada dalam kondisi yang fit dan prima, serta tidak pernah mengidap penyakit yang serius.

“Keluarga korban telah pas­rah menerima musibah ini. Ke­luarga korban juga telah di­beri­tahu bahwa jenazah Nurhayati telah dimakamkan di Mekkah,” jelas Edison.

Edison menceritakan, ke­luarga korban mengetahui ke­jadian tersebut setelah melihat berita di televisi dan di internet pada Sabtu 12 September 2015. Bahkan malamnya sekitar pukul 18.30 WIB, keluarga korban berusaha mencari tahu kabar Nurhayati dengan cara me­ne­le­pon call center di Mekkah, yang didapatkan dari acara di televisi.

“Ketika ditelepon, call cen­ter di Mekkah tak menjawabnya. Baru sekitar pukul 23.00 WIB, keluarga korban diberitahu oleh petugas call center di Mekkah tentang bencana tersebut,” jelas Edison.

Putus Kontak

Sementara itu, keluarga Zal­niwarti hingga saat ini belum mengetahui persis apa yang terjadi pada Zalniwarti. Menurut Azri­yandi (40), anak kedua korban, dirinya hanya mengetahui jika Ibunya mengalami luka-luka dan dirawat di rumah sakit.

“Saya telah berkali-kali me­nel­pon call center, tapi jawa­bannya selalu tidak memuaskan. Mereka hanya mengatakan jika Ibu saya mengalami luka-luka dan saat ini sedang dirawat. Se­perti apa kondisinya, tidak di­jelaskan secara detail,” ujar Azri­yandi ketika ditemui di rumah orangtuanya di Jorong Kambing VII Dusun Guguk Nagari Gadut Kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam, Senin (14/9).

Menurut Azriyandi, dirinya mengetahui insiden jatuhnya crane di Mekkah melalui pem­beritaan di televisi. Namun waktu itu, Azriyandi dan keluarganya belum mengetahui jika Ibunya menjadi salah seorang korban dari musibah tersebut.

“Pada Jumat malam sekitar pukul setengah dua, saya mencoba menelepon Ibu. Telepon masuk, tapi waktu itu tak diangkat beliau. Berkali-kali saya coba mengu­langi telpon, tapi tetap tak di­angkat. Saat itu, kami mulai merasa resah dan was-was,” tutur Azriyandi.

Pada Sabtu (12/9) sekitar pukul 09.00 WIB, Azriyandi kembali berusaha menelpon Ibu­nya dan kali ini diangkat. Namun yang mengangkat telponnya wak­tu itu bukan Ibunya, melainkan seorang perawat dari Panitia Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) Indonesia, yang ke­betu­lan perawat itu berasal dari kam­pung halamannya.

“Ketika saya tahu yang me­ngang­kat telpon bukan Ibu saya, perasaan saya sudah tidak me­nentu. Saya dikasih kabar oleh perawat itu, bahwa Ibu saya mengalami luka pada bagian kepala, serta patah tulang pada bagian punggung. Tapi lagi-lagi tidak dijelaskan secara detail bagaimana kondisi Ibu saya. Itu yang membuat kami cemas. Kami juga tak diizinkan untuk berbicara langsung dengan Ibu,” jelas Azri­yandi sedih.

Hingga saat ini Azriyandi mengaku tidak pernah dikabari secara resmi oleh pihak kedutaan besar di Mekkah. Bahkan hingga saat ini juga, dirinya juga putus kontak dengan Ibunya serta para tim medis, sehingga tidak menge­tahui seperti apa kondisi terkini Ibunya.

Terakhir Azriyandi mengaku, sempat berkomunikasi dengan Ibunya pada hari Kamis atau sehari sebelum terjadinya insiden jatuhnya crane. Saat itu, Ibunya memberi kabar bahwa di Mekkah sedang terjadi badai pasir, dan telah menyebabkan beberapa orang meninggal dunia akibat kejadian tersebut.

Azriyandi juga mengung­kap­kan, Ibunya bersama Nur­hayati merupakan sahabat karib yang selalu pergi berdua kemanapun. Bahkan di saat berangkat dari Kota Bukittinggi menuju Kota Padang, mereka duduk ber­se­belah­an di bus.

“Sebelum berangkat, saya ikut mengantar beliau hingga ke­berangkatan di Lapangan Kantin. Saat itu saya sempat berpesan pada Ibu, agar terus berdua bersama Bu Nurhayati. Saat ini kami sangat cemas. Betapa tidak. Bu Nurhayati yang terus ada di sebelahnya meninggal dunia, sementara Ibu saya tidak jelas kondisinya,” ungkap Azriyandi. (h/wan)

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]