Padang Satu-satunya Peraih WTN di Sumbar


Rabu, 16 September 2015 - 19:21:11 WIB

Piala WTN untuk kategori Kota Besar ini, menurut Rudy Rinaldi terakhir diraih pada tahun 2004. Setelah itu Kota Padang hanya mendapatkan plakat saja. “Baru tahun kemarin (2014) dan sekarang (2015) kita meraih Piala WTN kembali, “ ujar Rudy.

Ia menjelaskan, keberhasilan Padang meraih Piala WTN ini tertuang dalam Keputusan Menteri Perhubungan (Menhub) Republik Indonesia Nomor KP 402 Tahun 2015 tentang Penetapan Kota/Kabupaten dan Provinsi sebagai Penerima Penghargaan WTN. Ke­pu­tusan tertanggal 11 September 2015 itu ditandatangani Menhub Ignatius Jonan.

Namun sejauh ini, dia belum mengetahui kapan waktu penye­rahan Piala WTN ini akan dilaksa­nakan. “Kapan diserahkan kita belum tahu. Tapi, biasanya penghar­gaan WTN memang diserahkan langsung oleh Menhub di Jakarta,” tukuknya.

Kondisi Transportasi Padang

Semakin tingginya arus kenda­raan di Kota Padang maka berbagai persoalan transportasi juga terjadi, seperti perilaku angkutan kota (angkot) yang tidak patuh pada aturan yang telah ditetapkan oleh Dishubkominfo dan rambu-rambu lalu lintas yang banyak dilanggar.

Pantauan Haluan, memang be­lum semuanya sesuai dengan fakta yang ada. Kategori penilaian yang diminta oleh Kementerian Perhubu­ngan antara lain mencakup sarana angkutan umum, prasarana, lalu lintas, serta pelayanan umum kepa­da masyarakat, belum semuanya terpenuhi.

Ada beberapa catatan. Con­tohnya, kondisi angkot di Kota Padang belum masuk kategori yang memadai. Masih ada angkot yang belum mencantumkan nama trayek, memiliki sound system yang besar.

“Kalau tidak ada musik dan sound system penumpang tidak mau naik. Kalau Kota Padang dapat WTN, itu hebatlah, semoga ke depan lebih baik,” papar Danto, salah seorang sopir yang dijumpai Haluan.

Di Kota Padang, angkot tidak memasang tarif. Hal ini menye­babkan penumpang mudah sekali ditipu sopir terkait dengan tarif angkot yang tidak memiliki stan­darisasi yang jelas.

Tidak itu saja, menunggu angkot di Kota Padang, penumpang kadang harus menunggu satu jam sampai angkot penuh.

“Kalau naik angkot di Kota Padang ini memang harus sabar menunggu. Makanya orang lebih memilih naik motor dari pada naik angkutan umum. Untuk itu, dengan WTN ini pemerintah harus mem­perbaiki layanan transportasi umum di Kota Padang, sehingga WTN tidak hanya penghargaan saja, tapi ada kenyataan lapangannya,” ucap Novi, salah seorang penumpang angkot Tabing.

Selanjutnya, rambu-rambu lalu lintas di Kota Padang ditutupi papan reklame, sehingga tidak bisa dilihat oleh pengendara atau penumpang, dan masih banyak kondisi tak ideal lainnya, yang rumit jika disebutkan satu per satu. (h/ows)

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]