Penduduk Miskin Bertambah


Rabu, 16 September 2015 - 19:41:53 WIB

Kepala BPS Suryamin menjelaskan, data tersebut diambil berdasarkan 300. 000 sampel yang disebar pihaknya ke berbagai pro­vinsi.  “Penduduk miskin per Maret 2015 dengan porsi 11,22% atau 28,59 juta pen­duduk. Sampel 300 ribu. Dibandingkan September 2014 naik 0,26%,” ujarnya di Jakarta.

Sementara dibanding­kan Maret 2014 menurun 0,03%, karena pertambahan penduduk yang lebih cepat sebe­sar 1,49% per tahun.

“Karena pertambahan pendu­duk lebih cepat dari­pa­da pertam­bahan pen­du­duk miskin. Pertam­bahan pen­­duduk 1,49% kali 250 juta itu 2-4 juta per tahun,” jelas Suryamin.

Dia menambahkan, jum­­­lah penduduk miskin tersebut jika dirincikan naik sebanyak 860 ribu orang dari September 2014.

“Jumlah orangnya per Maret 28,59 juta, naik 860 ribu dari September 2014 sebanyak 27,73 juta orang. Sedangkan Maret 2014 28, 28 juta orang jadi naik 310 ribu year on year,” pungkasnya.

Menanggapi ini, Menko Pere­ko­nomian, Darmin Na­sution menyebutkan, hal ini tak lepas dari efek penurunan harga komo­ditas. Di mana banyak peru­sahaan perkebunan dan pertam­bangan yang tidak berproduksi dan mengurangi para pekerjanya.

“Jadi itu sesuatu yang tidak menggembirakan, tetapi juga tidak bukan sesuatu yang mem­buat kita harus panik. Sejak dua tahun lalu harga komoditi kita turun, ya harga kelapa sawit, harga karet, harga ini, harga itu, coba anda cek, turunnya besar. Itu artinya apa? Income (penda­patan) masyarakat orang per orang turun. Sementara harga pangannya tidak turun kan, ke­mis­kinan mengukurnya begitu,” ujarnya di Istana Negara, Jakarta, Rabu (16/9).

Bila melihat secara geografis, pulau Jawa memang menampung penduduk miskin paling besar. Karena meskipun area perke­bunan dan pertambangan keba­nyakan di Sumatera dan Ka­limantan, namun industrinya berada di Jawa.

“Sebetulnya komoditi itu di luar Jawa tetapi industrinya ada di Jawa, jadi kalau income mas­yarakat di luar Jawa turun, ak­hirnya imbasnya ke sini (Jawa), walaupun mungkin tidak sebesar di luar Jawa,” terangnya.

Selain itu, banyak penduduk yang sejak dua tahun yang lalu sudah mendekati garis kemis­kinan. Sehingga ketika sedikit saja ada gejolak pangan, maka lang­sung menggerek ke bawah garis kemiskinan.

“Dari dulu cukup banyak orang yang hampir miskin. Nah orang yang di sini jika income-nya sedikit terganggu atau sebaliknya harga pangannya yang sedikit berubah itu jumlah orang miskin­nya berubah,” papar Darmin.

Solusi yang diambil peme­rintah adalah mendorong per­tum­buhan ekonomi lebih cepat. Khususnya yang bersumber dari pedesaan. Kemudian penyaluran bantuan langsung, seperti beras sejahtera.

“Kan ada dana desa, kan ada beras miskin. Kan namanya juga untuk orang miskin, ya beras. yang paling utama. Jadi sebetul­nya sudah diantisipasi,” tukasnya.

Sumbar Juga Naik

Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat (Sumbar) men­data jumlah penduduk miskin di provinsi itu pada Maret 2015 mencapai 379.609 jiwa atau bertambah 24.871 orang diban­dingkan September 2014.

“Lebih dari dua per tiga, atau 68,91 persen, penduduk miskin tersebut tinggal di perdesaan,” kata Kepala BPS Sumbar Yomin Tofri di Padang, Selasa.

Menurut dia secara keselu­ruhan persentase penduduk mis­kin di Sumbar mengalami kenai­kan dari 6,89 persen pada Sep­tember 2014 menjadi 7,31 persen pada Maret 2015.

Gagal

Sementara itu, DPR RI me­ngung­kapkan, bertambahnya angka kemiskinan di Indonesia menunjukkan bahwa pemerintah telah gagal merealisasikan berba­gai rencana-rencana besarnya yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 dan APBNP 2015.

Anggota Komisi XI DPR RI Eki Awal Muharam menuturkan, pemerintah selama ini menar­getkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 5%, namun nyatanya pertumbuhan ekonomi hanya mampu bertengger di ang­ka 4,7%.

“Ini menunjukkan bahwa pe­me­rintah tidak bisa merea­lisasi­kan rencananya yang tertuang dalam RPJMN dan APBNP,” katanya saat dihubungi Sin­do­news di Jakarta.

Kegagalan pemerintah lain­nya, sambung Eki, terlihat pada runtuhnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) hingga menembus level Rp14.400/USD.

Kondisi ini tentunya berdam­pak pada pelemahan sektor riil, dan pada akhirnya membuat daya beli masyarakat berkurang dan pemutusan hubungan kerja (PHK) bermunculan. (h/mat/net)

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Senin, 02 November 2015 - 19:10:45 WIB

    50 Juta Penduduk Belum Nikmati Listrik

    KUTA, HALUAN — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut, 50 juta penduduk Indonesia belum menikmati aliran listrik. Pemerintah mengklaim terus mencarikan solusi.

    “Dari 250 juta (penduduk Indon.


KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]