Mengentaskan Kemiskinan dan Memelihara Fakir Miskin


Kamis, 17 September 2015 - 19:52:06 WIB
Mengentaskan Kemiskinan dan Memelihara Fakir Miskin

Mengentaskan kemis­kinan bukan berarti meng­habiskan atau setidaknya mengurangi jumlah pendu­duk miskin. Sementara me­me­lihara fakir miskin dan anak-anak terlantar bukan berarti membuat mereka yang terlantar menjadi tidak terlantar lagi sehingga mere­ka tidak mengemis, menga­men atau berkeliaran di jalan raya. Terdapat keke­liruan ber­ba­hasa dalam fra­sa “me­ngen­taskan kemis­kinan” dan “memelihara anak-anak ter­lantar”. Mari kita bahas satu per satu.

Baca Juga : DPR Minta Pemerintah Desak Sinovac Segera Urus EUL dari WHO

“Mengentaskan” yang berasal dari lema “entas” dalam KBBI berarti me­ngang­kat (dari suatu tempat ke tempat lain); mengen­taskan untuk orang lain; menyadarkan; memperbaiki (menjadikan, mengangkat) nasib atau keadaan yang kurang baik kepada yang (lebih) baik: para menteri diminta untuk mengen­tas­kan petani kecil melalui program transmigrasi.

Dari kalimat yang dicon­tohkan KBBI tersebut, ter­lihat jelas bahwa yang di­entaskan adalah nasib orang atau objek yang dilanda keadaan kurang baik untuk dijadikan lebih baik. Se­mentara dalam kasus me­ngen­taskan kemiskinan, mustahil untuk mengubah kemiskinan menjadi kese­jah­teraan, karena kemis­kinan tidak akan pernah berubah menjadi kesejah­teraan. Kemiskinan tetaplah kemiskinan selamanya. Yang dapat berubah adalah nasib orang yang dilanda kemis­kinan menjadi lebih baik.

Baca Juga : Hari Ini, 2 Penyuap Eks Mensos Juliari Batubara Hadapi Sidang Tuntutan

Jika mengentaskan ke­mis­kinan diartikan dalam kategori definisi me­ngangkat (dari suatu tempat ke tempat lain), maka itu berarti me­ngangkat atau me­min­dah­kan kemiskinan dari satu tempat ke tempat lain. Ke­mis­kinan di suatu daerah di Indonesia diangkat, lalu di­pindahkan ke daerah lain di Indonesia. Jadi, pantas sa­ja jumlah penduduk mis­kin di Indonesia masih ting­gi.

Bila ditinjau lebih jauh lagi, kata entas berasal dari bahasa Jawa dengan kata aktif mentas. Mentas berarti mengangkat. Contoh kali­mat­nya, pemehane wis di­entas durung, Nduk? (jemu­rannya sudah diangkat be­lum, Nak?) Atau, gek men­tas, mengko masuk angin. Artinya, cepat naik (dari berendam di air, kolam atau sungai) nanti masuk angin. Dengan definisi dan contoh kalimat itu, mengentaskan kemiskinan berarti me­ngang­­­kat kemiskinan dari tempat yang sebelumnya membuatnya tampak se­bagian, ke tempat yang mem­perlihatkan kemiskinan jadi tampak seluruhnya.

Baca Juga : Keberadaan Jozeph Paul Zhang Terus Dilacak, Kabar Terbaru Sudah Keluar dari Jerman

Kesimpulannya, selain frasa “mengentaskan kemis­kinan” itu tidak tepat, juga rumit untuk diartikan, apa­lagi dipahami masyarakat umum. Sebaiknya, peme­rintah mengganti frasa terse­but menjadi “meningkatkan kesejahteraan”. Dengan fra­sa tersebut, masyarakat bisa berharap bahwa mereka bisa menjadi sejahtera (kalau pun nantinya kesejahteraan itu tidak meningkat).

Beranjak ke frasa “me­me­lihara anak-anak ter­lan­tar”, memelihara berasal dari lema pelihara. Dalam KBBI, pelihara berarti men­jaga dan merawat baik-baik; me­melihara atau mener­nak­kan (tentang binatang); me­nyelamatkan; melin­du­ngi; melepaskan (melu­put­kan) dari bahaya dan seba­gai­n­ya.

Baca Juga : TMII hingga Gedung Granadi Diambil Alih Negara, Ini Penjelasannya

Dalam Pasal 34 ayat (1) UUD 1945 menyebutkan, fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Jadi, wajar kalau jumlah fakir miskin dan anak-anak terlantar tetap banyak di jalan-jalan raya, karena sebagaimana orang memelihara sapi, jumlah sapi tersebut akan bertam­bah banyak dari waktu ke waktu. Saya tidak ber­mak­sud menyamakan fakir mis­kin dan anak-anak terlantar dengan binatang ternak, tapi begitulah makna yang mun­cul apabila tidak tepat meng­gunakan kata.

Kesimpulan yang mun­cul atas ulasan di atas, peme­r­intah mesti mengganti kata “dipelihara” dengan kata “dibiayai” dalam Pasal 34 ayat (1) UUD 1945 itu.

Mengentaskan kemis­kinan dan memelihara anak-anak terlantar adalah dua contoh bagaimana selama ini pemerintah memainkan kata-kata untuk “me­nyia­sati” masyarakat. Jika ma­sya­rakat tidak ingin “di­siasati” oleh pemerintah, masyarakat harus awas ter­hadap peng­gunaaan kata-kata dalam setiap program dan kebijakan pemerintah. ***

 

HOLY ADIB
(Wartawan Haluan)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]