Siap Jadi Pembuka Jalan Unand Menuju Universitas Riset


Jumat, 18 September 2015 - 19:10:47 WIB
Siap Jadi Pembuka Jalan Unand Menuju Universitas Riset

Peringkat kedua dalam kategori Unand Award ta­hun 2009 yang disponsori oleh Dewan Penyantun Unand diraih lagi oleh sang pendiri Museum Nagari Dr. Sa­wir­man di Nagari Toboh Ga­dang Kabupaten Padang Pa­riaman ini. Sang pencetus Teo­ri BREAK (Teori Per­gerakan Wacana), Teori  Genealogi Wacana dan Teori Elip­sis Strategis yang ber­naung da­lam paradigma be­sar e135 ini juga mendapat peringkat ke­dua dalam Forum Unand Award tahun 2011.

Baca Juga : Politik dan Etika Berkelindan dalam Pengisian Jabatan Wawako Padang

Tahun 2012 adalah tahun keberuntungan bagi dosen yang pernah menjadi guest lecturer di Warsaw Uni­ver­sity, Collogium Civitas, dan Nicolaus University tahun 2014 di Polandia ini. Ber­basis teori Postdiscourse of Sawirman-e135 (PAS-e) dan SAWIRMAN KEY­WORD ENGINE versi 1.0 yang digagasnya, Sawirman men­dapat peringkat peneliti ter­baik dalam kategori hibah Ber­saing oleh Dirjen Pen­didikan Tinggi (DIKTI) Kementerian Pendidikan Nasional dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2012.

Melalui penyeleksian berjenjang di tahun 2015, peringkat pertama dosen berprestasi di tingkat Ju­rusan Sastra Inggris dalam proses penyeleksian tanggal 26 April 2015 berhasil di­sabet oleh Dr Sawirman. Pe­r­ingkat terbaik di tingkat Fa­kultas Ilmu Budaya berhasil pula diperolehnya dalam proses penyeleksian tanggal 28 April 2015 di Ruang Senat Fakultas Ilmu Budaya.

Baca Juga : Jangan Terlalu Bersedih Jika Kamu Dihinakan

Forum pemilihan dosen ber­prestasi tanggal 31 Agus­tus 2015 pasca mem­pre­sen­ta­sikan novelties-nya dalam ma­ka­lah berjudul One De­cade of e135 (2005—2015): book, software, theo­ries, museum, and other novel­ties kembali memilih Sa­wir­man sebagai dosen berprestasi peringkat kedua di Unand Tahun 2015. Hadiah beserta sertifikat diserahkan oleh Rektor Universitas Andalas Werry Darta Taifur kepadanya dalam Dies Natalis Universitas Andalas ke-59, 14 September 2015.

Dengan apa yang sudah di­raihnya sejauh ini, Sa­wir­man berharap ada peru­bahan paradigma berpikir untuk para peneliti dan aka­demisi di Indonesia, ter­masuk Universitas An­da­las.  Karena, hal yang dibu­tuhkan Universitas Andalas saat ini adalah penambahan jumlah penggagas (creators), bukan follower agar uni­versitas ini menjadi uni­versitas riset yang handal.

Baca Juga : Mengapa Isu Presiden 3 Periode Kembali Berhembus?

Disebutnya, saat ini pe­ning­katan peluang riset un­tuk semua disiplin memang sudah banyak, akan tetapi skim riset untuk men­cip­takan teori-teori baru masih dipandang aneh di negeri ini sehingga belum ada skim-nya. Seakan-akan, pemilik hak paten untuk penciptaan teori-teori baru hanya milik para “dewa putih”.

Alhasil, para penggagas di Indonesia masih merasa men­jadi single figh­ter. Ke­banyakan peneliti ma­sih berjuang dengan spirit sen­diri tanpa henti secara swa­daya. Padahal, teori-teori yang ada secara inheren dapat mengangkat nama universitas di level inter­nasional dan nasional.

Baca Juga : Perang Inovasi dalam Era Disrupsi

“Adalah hal yang diha­rapkan agar para dosen bu­kan hanya sekadar meneliti, teta­pi juga mampu mel­a­hirkan sejumlah paradigma fun­damental atau teori-teori baru selain produk-produk nyata yang bisa bermanfaat untuk masyarakat luas,” ujarnya.

Menurutnya universitas yang ada di Indonesia ter­masuk Universitas Andalas harus memiliki mazhab keilmuan sendiri (schools of thought) sesuai dengan bi­dang ilmu masing-masing yang bisa dijual ke kancah internasional. Berbagai ga­gasan original karya insan aka­demis dari Indonesia perlu lebih ditampakkan, bukan hanya merasa bangga mengaplikasikan teori-teori yang datang dari dunia luar (Barat).

“Teori-teori original hasil gagasan akademisi Unand perlu lebih dimunculkan dan disokong. Dukungan pen­danaan untuk para peng­gagas ide-ide fundamental dan origi­nal dari dunia timur diperlukan,” tutur Sa­wir­man.

Tak hanya itu,  juga ha­rus diberdayakan untuk ke­pen­tingan mahasiswa, ma­sya­rakat luas dan pe­ngem­bangan keilmuan. Labor ilmu sosial dan labor lin­guistik perlu dibuat selain labor ilmu eksakta. Kam­pus  diharapkan ju­ga  bisa membantu mem­promo­si­kan ide-ide original, in­ven­si-invensi yang belum mem­berdaya di kampus.

“Untuk melaksanakan semua itu tentunya perlu dukungan semua pi­hak ter­hadap gagasan-ga­gasan origi­nal berpotensi untuk di­kembangkan,” pungkasnya.

Semoga. Semoga ini bisa menjadi bagi dosen dan mahasiswa untuk terus ber­karya tanpa henti.***

 

Laporan :
LENI MAULINA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]