Tanah Mekar Tanggap Darurat Kekeringan


Ahad, 20 September 2015 - 18:15:46 WIB

Dijelaskan, dengan adanya tanggap darurat tersebut, maka BPBD diperintahkan untuk tang­gap dalam masalah kabut asap yaitu kebakaran dan tanggap atas kekeringan yang diderita oleh warga masyarakat.

Sedangkan untuk kebutuhan air bersih, kata Suwandi, warga yang membutuhkan segera mela­porkan kepada walinagari atau camat setempat, kemudian pe­merintahan setempat mela­por­kannya kepada BPBD melalui sms atau telpon. Kemudian BPBD dengan tiga mobil tangki air segera mendistribusikan air tersebut secara bergiliran.

Semenjak tanggap darurat kekeringan ulasnya, dari sebelas kecamatan yang ada, hanya tiga kecamatan yang belum disa­lurkan air bersih yaitu Kecamatan Asam Jujuhan, Kecamatan Sem­bilan Koto dan Ke­ca­matan Tim­peh. Tiga keca­matan tersebut memang tidak ada permintaan dan wilayah itu masih ada air yang layak dikonsumsi.

Sedangkan untuk delapan kecamatan lainnya, meski ada aliran sungai, tetapi airnya sudah tidak layak meskipun untuk mandi karena sudah tercemar oleh penambangan liar. “Air sungai ada, tapi sudah tidak layak meskipun untuk mandi karena sudah terce­mar,” ungkapnya.

Walinagari Ampalu, Syo­fyan kepada Haluan menyebut, kekeringan yang sudah sangat fatal sekali sudah dialami warga semen­jak satu bulan terakhir, karena sudah ada warga yang meng­kon­sumsi air yang tidak layak. Namun kondisi tersebut harus dihadapi warga karena sudah tidak ada sumber air bersih lagi.

Penambangan Liar

Musim Kemarau yang me­lan­­da Kabupaten Dharmasraya be­berapa bulan terakhir ini mem­buat puluhan wilayah ke­sulitan air bersih. Kesulitan air bersih ter­sebut tidak hanya disebabkan kemarau, akan tetapi juga di­akibatkan oleh adanya aktivitas penambangan secara liar yang beroperasi di sejumlah aliran sungai di wilayah Dhar­masraya ini.

“Biasanya, dimusim kemarau se­perti ini, kami memanfaatkan air su­ngai, namun sekarang sudah ti­dak­ bisa lagi. Itu dikarenakan ak­ti­vitas tambang emas di aliran su­ngai,” ungkap warga Jorong Pi­nang Gadang, Nagari Koto Padang, Siti Sarah (45), di­dam­pingi warga lainya, Ita (38) ke­pada Haluan, saat pendistribusian air bersih oleh BPBD, Jum’at (18/9) lalu.

Warga berharap pemerintah daerah dan pihak penambang menghentikan aktifitas tambang untuk sementara waktu, bahkan kapan perlu untuk selamanya. “Kasian kami pak, susah men­dapatkan air, apalagi untuk mi­num dan masak,” sebut Siti.

Saat disinggung berkaitan de­ngan air kebutuhan untuk mandi, ia menyebutkan, warga terpaksa menggunakan air sungai yang sudah tercemar itu untuk mandi dan mencuci. ”Meski keruh dan tercemar, kami ter­paksa meng­gunakan air sungai untuk mandi dan mencuci. Mau gimana lagi pak, daripada tidak mandi,” keluh Ita, kepada para wartawan.

Sementara itu, Kepala Jorong Pinang Gadang, Nagari Koto Padang, Suparman, mem­be­nar­kan bahwasanya saat ini warga setem­pat kesulitan air bersih. “Selain kemarau, tambang emas di sepan­jang aliran sungai penye­bab krisis air bersih. Biasanya, dimusim kemarau warga meng­gu­nakan air sungai, namun karena ter­cemar dan kotor, tidak bisa diman­faatkan,” pungkasnya. (h/mdi)

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]