Drainase Kecil, Warga Khawatir Banjir


Senin, 28 September 2015 - 20:28:34 WIB

Beberapa warga sekitar By Pass kepada Haluan Senin (28/9) menyampaikan kecemasan. Meski secara teknis mereka tak mengerti seberapa besar ukuran ideal drainase, namun menurut perkiraan mereka ukuran drainase yang dibangun di By Pass ini terlalu kecil atau sempit.

Seperti pengakuan Dan­to, salah seorang warga By Pass Kecamatan Koto Ta­ngah. Ia mengaku khawatir jika hujan dengan intensitas tinggi turun, maka drainese yang dibangun tak mampu menampung air dalam jum­lah banyak.

Kecemasan juga diuta­rakan Aminah, warga Ku­ran­ji yang tinggal sekitar By Pass. “Di depan kantor Ba­lai­kota Padang saja hujan setengah hari pasti air terge­nang dan motor tidak bisa lewat. Itu disebabkan drai­nase kecil,” terang Aminah.

Warga lainnya, Ru­di yang tinggal tak jauh dari jalan By Pass di Pe­gam­biran juga mengutarakan kece­masan­nya. “Kalau hanya sebe­sar ini drainasenya, kita khawatir tak mampu me­nampung air hujan. Bisa-bisa wilayah kita keban­jiran,” katanya.

Menurut PU Kota Padang melalui Kabid SDA Herman soal drainase By Pass itu kewenangan provinsi yang melaksanakannya.

“Drainase By Pass itu angga­rannya ada di provinsi,” tutup Herman.

Menanggapi kekhawatiran warga itu, Pejabat Pembuat Ko­mit­men (PPK) Wilayah Solok dan Sekitarnya, Balai Besar Pe­lak­sana Jalan Nasional (BBPJN) II, Opuke Nigara menepisnya.

Menurut Opuke, drainase yang ada di By Pass dua jalur sudah sesuai perhitungan debit air. Drainase yang ada sudah dibuat perencanaannya oleh konsultan Korea.

“Setiap jarak tertentu ada pelimpasan keluar/kesungai se­hingga dalam saluran debit air tidak tertumpuk dengan lebar 0.8-1.0m dan dalam 1.7-1.8m,” jelasnya.

Opuke juga menuturkan, ken­dala pembuatan drainase ini yaitu untuk daerah Teluk Bayur sampai ke Lubuk Begalung banyak truk parkir.

“Masalah lain pembangunan drainase ini yaitu pembebasan tanah terutama di kecamatan Kuranji. Kita berharap ini segera dituntaskan,” ujarnya.

Tanah Belum Bebas

Masih belum tuntasnya pem­ba­ngunan darinase jalan By Pass dua jalur disebabkan pembe­basan lahan yang sulit. Akibatnya banyak rumah warga yang menerima air kiriman dari badan jalan.

Kepala Dinas Prasarana Jalan Tata Ruang dan Pemukiman (Disprasjaltarkim) Sumbar, Su­prapto dihubu­ngi Haluan Senin, (28/9) di Padang menerang­kan, kendala pembebesan lahan masih menjadi masalah klasik yang dihadapi Pemprov Sumbar dalam setiap pembangunan infra­struktur. Dampak dari hal ini kembali kepada masyarakat aki­bat pembangunan yang terbeng­kalai ini.

“Masih banyak warga kita yang enggan untuk melepaskan tanahnya. Sehingga pemba­ngu­nan jadi tersendat. Salah satu contohnya, pembangunan By Pass dua jalur ini,” terangnya.

Dampak dari sulitnya pem­bebasan lahan ini, pembangunan drainase jadi tersendat. Sehingga ketika hujan turun air yang seha­rusnya mengalir di drainase malah mengalir ke pemukiman warga.

“Kita sangat berharap, mun­cul­nya kesadaran warga untuk merelakan tanahnya untuk kelan­caran pembangunan infrstruk­tur,” mintanya.

Dodi (33) warga Taruko me­nu­turkan, pembangunan drainase By Pass dua jalur masih belum dilakukan. Akibatnya, air yang rembesan hujan yang seharusnya melalui drainase ke mana-mana.

“Kabarnya, tanahnya masih belum bebas. Mungkin karena itu drainase belum dibuat,” ujar bapak satu anak ini kepa­da Haluan Senin (28/9) di rumah­nya. (h/mg-isr/ows)

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]