Dunia Pertanian Berpadu dalam Jiwa


Jumat, 02 Oktober 2015 - 19:05:46 WIB
Dunia Pertanian Berpadu dalam Jiwa

Bicara du­­­­nia per­ta­­­nian, bu­­kan hal yang asing ba­gi Her­­yan­­to Rus­t­am. Baginya, dunia pertanian mulai dari perkebunan, sawah, ber­ladang itu saling terkait. Ini menjadi satu kesatuan utuh yang tidak terpisahkan.

Baca Juga : Iedul Fithri: Geliat Ekonomi, Momentum Keluar Resesi

“Pertanian itu komplek sifat­nya, misalnya orang berkebun, berladang itu masih tergolong pertanian walaupun dia berada di hutan. Orang yang bersawahpun itu tergolong pertanian,” papar Heryanto Rustam.

Dengan dunia pertanian yang dia geluti dia ingin mewujudkan Kota Padang yang menyumbang swasembada pangan hingga tahun 2017 mendatang. Karena itu ketika diberi amanah pada 2011 lalu  menjabat Kepala Dinas Pertanian Peternakan Kehutanan dan Perke­bunan Kota Padang, ia sama sekali tak canggung dan merasakan ada tantangan yang harus ditak­luk­kannya di dunia tersebut.

Baca Juga : Pembangunan dan Keadilan bagi Padagang Kaki Lima

Terobosan Swasembada Pangan

Lantas apa yang dilakukannya untuk mensukseskan dunia perta­nian yang ia cintai ini. Melalui, Pemko Padang ia membuat area persawahan baru di kawasan Sungai Pisang seluas 10 hektare. Ini dilakukan untuk menutupi alih fungsi lahan di tempat lain dan untuk mengatasi penyusutan luas lahan pertanian dari waktu ke waktu di Kota Padang.

“Uji coba ini kami lakukan juga dalam waktu dekat di Bungus Teluk Kabung dengan luas 10 hektare,” kata Heryanto Rustam.

Dijelaskannya, luas lahan pertanian di Kota Padang berku­rang setengah persen setiap tahun dari 6.574 ha lahan yang dimiliki Kota Padang. Jika dikalkulasikan, penyempitan lahan setiap tahun mencapai puluhan hektare. Bila ditelisik, fenomena ini ternyata lebih disebabkan karena peluang ekonomi dari sektor pertanian tidak lagi menjanjikan. Petani dan pemilik lahan lebih memilih usaha lain bidang perdagangan, jasa dan industri. Akibatnya, Pemerintah Kota Padang di tahun ini tidak mendapatkan peng­hargaan peningkatan produksi padi atau surplus beras yang di­berikan oleh Kementerian Per­tanian. Padang tak bisa surplus beras salah satunya karena lahan sawah semakin sempit akibat pengalihfungsian lahan.

Kategori daerah yang men­dapatkan penghargaan yakni daerah yang peningkatan pro­duksi padinya 5 persen dari target yang ditetapkan. Namun, realisasi produksi padi di Kota Padang hanya 4,02 persen atau 90.063 ton dari target 88.609 ton. Jumlah ini sudah melebihi target yang dite­tapkan Pemko, namun belum masuk kategori surplus yang dimaksud Kementan. Hanya 0,8 persen lagi, maka Kota Padang sudah bisa menjadi salah satu daerah di Sumbar untuk swa­sembada pangan.

Kota Padang memang tidak bisa mendapatkan penghargaan surplus beras itu untuk tahun 2014 lalu, karena capaian Disper­nakhutbun hanya 4,02 persen, sedangkan syarat mutlaknya ha­rus 5 persen.

“Jadi untuk produksi beras kita di tahun 2014 melebihi target. Namun, kita tidak penuhi syarat untuk surplus beras yang 5 persen,” ucapnya. Ia menam­bahkan, Pemerintah Kota Pa­dang sudah tiga tahun men­dapat­kan penghargaan sebagai kota yang surplus beras, yakni dari tahun 20102013, sedangkan untuk tahun 2014 Kota Padang melebihi produksi tapi tak me­me­nuhi syarat surplus beras.

“Untuk penilaian tahun 2015 ini belum dimulai, karena peni­laian itu akhir tahunawal tahun berikutnya. Jadi hasil yang ke­luar selarang itu untuk tahun 2014, makanya kita yakin tahun 2015 yang penilaian tahun 2016 mendatang kita mendapatkan itu lagi,” terang Heryanto Rustam.

Sementara itu, target produksi mulai tahun 2012 untuk peme­rintah Kota Padang sebanyak 75.690 ton terealisasi 78.699 ton (peningkatan 5 persen). Tahun 2013 target produksi padi 79.214 ton, terealisasi 86.580 ton (pe­ningkatan 10 persen). Tahun 2014 target produksi 88.609 ton, realisasi produksi 90.063 ton (peningkatan 4,02 persen). Arti­nya setiap tahun selalu terjadi peningkatan produksi. Hal inilah yang terus dijaga untuk tahun-tahun berikutnya.

“Untuk tahun 2015 ini target produksi kita 86,784 ton, hingga sekarang kita sudah mencapai 63 persen atau 58.784 ton. Kita optimis bisa melebihi target produksi hingga di atas 5 persen,” ulasnya lagi. Memang ada bebe­rapa kendala yang dihadapi oleh Kota Padang dalam target swa­sembada pangan ini, tambah Heryanto Rustam. Seperti lahan tanaman padi yang semakin ber­kurang, petani banyak menanam padi pada bulan Juni, Juli, Agus­tus, dan September.

Alhamdulillah sekarang ada penambahan lahan kita lagi seba­nyak 20 hektare. Luas lahan kita semuanya 6.574 ha,” katanya lagi.

Namun, Heryanto Rustam terus berupaya untuk melebihi target panen dengan berbagai upaya, yakni melalui kegiatan pengembangan optimalisasi la­han (POL). Berikutnya, kegia­tan perbaikan jaringan irigasi tersier, bantuan pupuk dan benih bagi pe­tani, distribusi pupuk bersub­si­di.

Dan, penyuluhan dan pengem­bangan, kegiatan unit pe­nge­lolaan pupuk organik yang ber­tujuan untuk mengembalikan kesuburan tanah. Bantuan alat mesin pertanian seperti hand­traktor, pompa air sawah. “Upaya ini kita lakukan untuk mencapai dan mendukung swasembada pangan hingga tahun 2017 sesuai dengan program nasional,” tutup Heryanto Rustam. **

 

Laporan :
OSNIWATI

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]